TELADAN DARI PENGEMIS
January 14th, 2006 by faisalzulkarnaenSebanyak apakah kita pernah menolong orang lain? Setulus apakah pertolongan kita pada orang lain? Sesering apakah kita memanfaatkan sebuah kesempatan? Mungkin hanya Tuhan yang bisa menjawab dengan tepat. Kita kadang mengharapkan "hal yang lain" alias pamrih dari pekerjaan kita. Di sisi lain kita seringkali mengabaikan sebuah kesempatan untuk berbuat baik yang mungkin datang sekali seumur hidup.
Penulis pernah beranggapan bahwa Tuhan "tidak adil" dengan menciptakan makhluk-Nya berbeda.
Ada orang kaya dan ada orang miskin, ada yang cacat dan ada yang sempurna. Namun akhirnya anggapan yang seratus persen keliru itu dimentahkan sebuah adegan yang cukup menyesakkan dada.
Sebuah stasiun televisi menayangkan reality show dengan pelaku seorang berpenampilan necis dan kaya. Semua aksinya diintip kamera tersembunyi sehingga "korban" tidak tahu jika ia sedang dikerjai. Sang aktor mencari "mangsa" dan mengaku telah dicopet serta kehilangan uang. Ia hanya punya Rp 300 dan ingin membeli teh botol seharga Rp 800. Ia mencari orang yang mau memberinya Rp 500. Jika ada yang mau memberi uang sebanyak itu maka penyelenggara acara akan memberi hadiah sebanyak Satu Juta Rupiah.
Sang aktor berkeliling mencari "korban" secara acak. Kebanyakan orang yang ditemui menolak dan bahkan terkesan curiga. Akhirnya ia bertemu seorang pengemis berpakaian sangat lusuh. Kedua kakinya cacat berbalut perban putih. Ia duduk di tempat parkir sepeda motor. Dengan raut muka iba mengharap ada orang yang berbelas kasih. Beberapa orang yang lewat melemparkan kepingan uang logam Untuk mengumpulkan uang-uang itu ia harus menyeret tubuhnya setengah merangkak.
Sang aktor mendekati si pengemis dan menyampaikan masalahnya. Tanpa pikir panjang ia menyerahkan apa yang diminta. Betapa sebuah hal yang mengejutkan, padahal untuk mendapatkannya ia harus mengemis pada orang lain.
Akhirnya sang aktor mengaku bahwa dia dari sebuah reality show. Kemudian ia mewawancarai apa sebenarnya motif si pengemis. Si pengemis menjawab," Saya sudah bertahun-tahun hidup dari pertolongan orang lain. Orang mungkin sudah menganggap saya sampah masyarakat. Tapi hari ini saya bangga, karena sudah diberi kesempatan untuk menolong orang lain yang membutuhkan." Sungguh ajaran yang sangat mulia keluar dari mulut seorang pengemis. Kondisinya membuatnya sangat sulit untuk menolong orang lain. Namun ketika kesempatan itu tiba, tanpa pikir panjang dia segera menolong orang lain yang membutuhkan.
Apa jadinya jika Tuhan menciptakan kita sama, semuanya sama dan semuanya sempurna ? Ternyata Tuhan telah menciptakan ladang amal yang luas di sekitar kita. Kita bisa makan setiap hari, namun di sudut tempat sampah ada harus mengemis untuk sesuap nasi. Tak terhitung orang yang Drop Out karena tak bisa membayar sekolah atau kuliah di saat kita bisa asyik dengan buku-buku pelajaran atau diktat kuliah. Atau kesempatan bisa bekerja di saat orang lain harus terbaring lemah di tempat tidur karena sakit atau cacat. Banyak sekali kesempatan beramal dan menolong orang lain yang seringkali tidak kita sadari.