TELADAN DARI PENGEMIS

January 14th, 2006 by faisalzulkarnaen

Sebanyak apakah kita pernah menolong orang lain? Setulus apakah pertolongan kita pada orang lain? Sesering apakah kita memanfaatkan sebuah kesempatan? Mungkin hanya Tuhan yang bisa menjawab dengan tepat. Kita kadang mengharapkan "hal yang lain" alias pamrih dari pekerjaan kita. Di sisi lain kita seringkali mengabaikan sebuah kesempatan untuk berbuat baik yang mungkin datang sekali seumur hidup.

       Penulis pernah beranggapan bahwa Tuhan "tidak adil" dengan menciptakan makhluk-Nya berbeda.

Ada

orang kaya dan ada orang miskin, ada yang cacat dan ada yang sempurna. Namun akhirnya anggapan yang seratus persen keliru itu dimentahkan sebuah adegan yang cukup menyesakkan dada.

       Sebuah stasiun televisi menayangkan reality show dengan pelaku seorang berpenampilan necis dan kaya. Semua aksinya diintip kamera tersembunyi sehingga "korban" tidak tahu jika ia sedang dikerjai. Sang aktor mencari "mangsa" dan mengaku telah dicopet serta kehilangan uang. Ia hanya punya Rp 300 dan ingin membeli teh botol seharga Rp 800. Ia mencari orang yang mau memberinya Rp 500. Jika ada yang mau memberi uang sebanyak itu maka penyelenggara acara akan memberi hadiah sebanyak Satu Juta Rupiah.

       Sang aktor berkeliling mencari "korban" secara acak. Kebanyakan orang yang ditemui menolak dan bahkan terkesan curiga. Akhirnya ia bertemu seorang pengemis berpakaian sangat lusuh. Kedua kakinya cacat berbalut perban putih. Ia duduk di tempat parkir sepeda motor. Dengan raut muka iba mengharap ada orang yang berbelas kasih. Beberapa orang yang lewat melemparkan kepingan uang logam Untuk mengumpulkan uang-uang itu ia harus menyeret tubuhnya setengah merangkak.

       Sang aktor mendekati si pengemis dan menyampaikan masalahnya. Tanpa pikir panjang ia menyerahkan apa yang diminta. Betapa sebuah hal yang mengejutkan, padahal untuk mendapatkannya ia harus mengemis pada orang lain.

       Akhirnya sang aktor mengaku bahwa dia dari sebuah reality show. Kemudian ia mewawancarai apa sebenarnya motif si pengemis. Si pengemis menjawab," Saya sudah bertahun-tahun hidup dari pertolongan orang lain. Orang mungkin sudah menganggap saya sampah masyarakat. Tapi hari ini saya bangga, karena sudah diberi kesempatan untuk menolong orang lain yang membutuhkan." Sungguh ajaran yang sangat mulia keluar dari mulut seorang pengemis. Kondisinya membuatnya sangat sulit untuk menolong orang lain. Namun ketika kesempatan itu tiba, tanpa pikir panjang dia segera menolong orang lain yang membutuhkan.

       Apa jadinya jika Tuhan menciptakan kita sama, semuanya sama dan semuanya sempurna ? Ternyata Tuhan telah menciptakan ladang amal yang luas di sekitar kita. Kita bisa makan setiap hari, namun di sudut tempat sampah ada harus mengemis untuk sesuap nasi. Tak terhitung orang yang Drop Out karena tak bisa membayar sekolah atau kuliah di saat kita bisa asyik dengan buku-buku pelajaran atau diktat kuliah. Atau kesempatan bisa bekerja di saat orang lain harus terbaring lemah di tempat tidur karena sakit atau cacat. Banyak sekali kesempatan beramal dan menolong orang lain yang seringkali tidak kita sadari.

Kencan Satu Jam Bersama Nil

January 14th, 2006 by faisalzulkarnaen

Mesir adalah anugerah sungai Nil, begitulah pepatah mengatakan. Nil merupakan urat nadi Mesir selama berabad-abad. Nil juga saksi bisu perjalanan sejarah kebudayaan manusia dari masa ke masa. Sejak zaman Mesir kuno kebutuhan air penduduknya ditopang oleh sungai terpanjang di Afrika ini. Dalam sejarah Islam, bayi Nabi Musa A.S. juga pernah dihanyutkan di sungai ini sebelum ditemukan oleh keluarga kerajaan Fir’aun.

       Bagi para pelancong, rasanya kurang afdhol tanpa jalan-jalan dan naik perahu di sungai ini. Lokasi sungai Nil di Kairo yang sering dikunjungi pelancong lokal maupun mancanegara terletak di daerah Tahrir, terkenal dengan julukan Kornich Nile. Daerah ini mudah dicapai karena berdekatan dengan Terminal Bus dan area perhotelan. Tahrir adalah jantung keramaian di Kairo. Pertokoan, hotel dan

Egyptian

Museum

bisa anda temui di sini.

       Waktu berkunjung yang paling menarik adalah mulai petang hingga larut malam. Pada waktu petang anda bisa menyaksikan matahari terbenam dengan cahayanya yang memantul di permukaan air berlatar

Cairo

Tower

. Sedangkan di malam hari sungai Nil menjadi indah karena berhias lampu warna-warni baik dari perahu-perahu sewaan maupun restoran-restoran dan café terapung.

       Di tepiannya terdapat trotoar yang cukup lebar untuk pejalan kaki, dibatasi dengan pagar besi setinggi dada sepanjang jalur. Selain itu tempat duduk dan gazebo juga disediakan bagi anda yang ingin bersantai dan melepas lelah. Lampu-lampu jalanan berwarna kekuningan berderet rapi baik menghadap jalan raya maupun trotoar menambah indah suasana. Beberapa pepohonan juga tumbuh di pinggiran Nil.

       Pada malam Jum`at atau musim-musim liburan sekolah, daerah ini selalu ramai dikunjungi pelancong. Bagi anda yang membawa pasangan di pinggiran sungai Nil, malam hari adalah saat yang tepat untuk menghadiahkan sekuntum mawar untuk pasangan anda. Untuk mendapatkannya tidak sulit karena biasanya banyak penjual bunga menawarkan dagangannya pada setiap pasangan yang ditemui. Dan bersiaplah untuk menghadapi rayuan dan kegigihan para penjual bunga dalam menawarkan dagangannya ketika anda tidak berniat membelinya. Selain penjual bunga, anda juga akan menemukan penjual makanan kecil dan minuman.

        Anda juga bisa menikmati keindahan sungai Nil dan pusat

kota

Tahrir dengan menyewa kereta kuda beroda empat. Beberapa kereta itu menunggu penumpang di pinggiran trotoar. Anda bisa pergi ke mana anda suka, tergantung berapa anda berani menyewa atau nego.

         Rasanya janggal jika anda melewatkan kesempatan untuk naik perahu yang akan membawa anda menyusuri Nil. Ada bermacam-macam perahu ditawarkan, mulai dari perahu layar yang biasanya disewa secara pribadi, perahu bermotor berkapasitas lebih kurang 40 orang, perahu motor besar berukuran sekitar 20 kali 5 meter, hingga restoran berjalan yang mewah. Yang paling diminati adalah perahu motor, karena dengan harga tiket terjangkau kita bisa dibawa keliling daerah sepanjang Kornich Nile yang pinggirannya dipenuhi hotel menghadap sungai.

         Untuk perahu motor berkapasitas 40 orang anda bisa membeli tiket seharga LE 2,00 (dua Pound Mesir, 1 Pound sekitar 1700 Rupiah) per kepala. Sedangkan untuk perahu motor besar harga tiketnya berbeda yaitu LE 6.00, dengan fasilitas dek atas yang terbuka dan servis menyisir permukaan Nil lebih jauh dari pada perahu motor kecil.

       Tiket bisa dibeli di jalan masuk ke perahu. Beberapa orang akan menawarkan pada anda. Kemudian anda bisa langsung naik setelah menyerahkan tiket pada petugas. Namun, anda harus bersabar menunggu perahu dipenuhi penumpang. Penantian seperti ini membutuhkan kesabaran anda. Di Mesir, setiap menghadapi suatu urusan kita harus siap dengan sebuah kunci bernama kesabaran. Bagi masyarakat Indonesia di Mesir khususnya mahasiswa rasanya sudah sangat akrab dengan kunci tersebut, mulai dari lalu lintas hingga mengurus visa pelajar. Bukan suatu hal yang mengherankan jika seorang mahasiswa yang telah mengantri sehabis subuh sampai pukul 2 siang terpaksa harus pulang dengan tangan kosong. Lebih baik menggunakan kunci tersebut daripada menyiksa diri dengan menggerutu. Dan masih banyak hal-hal lainnya yang membutuhkan kesabaran.

        Penulis mencoba naik perahu motor besar pada 2 Juli 2005 yang lalu bersama seorang teman. Pada saat penulis masuk perahu, baru ada 8 orang penumpang. Naik sekitar pukul 21.15, kami harus menunggu sampai pukul 22.30 baru perahu diberangkatkan. Walaupun tidak terlalu penuh namun cukup ramai. Sekitar 50 orang yang naik, kursi kayu yang ditata di tepian dek berhadapan dengan kursi tengah tampak agak longgar.

Para

penumpang bisa leluasa berpindah-pindah tempat duduk.

       Untuk menghilangkan kebosanan anda yang membawa kamera bisa membidik tempat-tempat menarik yang berhias lampu-lampu. Anda juga bisa memesan teh panas atau minuman ringan pada awak perahu. Namun bagi anda yang membawa pasangan, keadaan seperti itu tidak akan terlalu bosan untuk menghabiskan waktu bersama, diayun-ayun gelombang perahu lain yang melintas.

       Tampaknya semua penumpang memilih dek atas karena dek bawah kosong sama sekali. Mungkin ini keistimewaan perahu motor besar dibanding dengan yang lebih kecil. Semua perahu motor-besar atau kecil-dilengkapi dengan sound system untuk menyetel lagu-lagu Arab. Perahu yang kami tumpangi mempunyai sound system yang cukup besar terletak di bagian depan dek. Dek atas itu tanpa atap, diterangi beberapa lampu neon yang ditopang dua tiang dan hanya dihubungkan kabel. Penerangan tersebut didesain untuk bisa dibongkar pasang dengan cepat. Dibongkar? Untuk apa?

       Ketika perahu mulai melaju, dentuman lagu-lagu khas Arab dari sound system mulai diputar. Lagu-lagu itu diputar bervariasi mulai lagu tradisional dengan permainan gendang yang rancak dan lengkingan khas orang Arab, Zaghrudah, hingga lagu modern dengan irama disko. Lagu-lagu tradisional seperti itu sering penulis dengar diputar pada acara pernikahan. Tanpa komando, beberapa penumpang yang sejak menunggu duduk manis, tiba-tiba mendekati sound system dan berjoget pinggul ala Mesir. Kemudian penumpang yang lain, laki-laki dan perempuan yang kebanyakan kaum muda, mulai ikut nimbrung, hanya sekedar melihat lebih dekat atau ikut bergoyang.

      Budaya goyang pinggul –warga setempat menyebutnya Baladeyya- seperti itu tampaknya adalah hal yang biasa bagi warga Mesir. Berbeda dengan orang

Indonesia

yang seringkali merasa "aneh" dengan goyang pinggul. Terlihat oleh penulis beberapa perempuan berjilbab dan bahkan yang memakai cadar juga ikut melantai meskipun hanya sebentar. Sementara penumpang lain yang duduk ikut bertepuk tangan. Saat itu, juga tampak orang

India

dan beberapa warga asing lain duduk di antara penumpang. Semua terlihat menikmati acara dadakan yang biasa ditemui setiap perahu membawa penumpangnya.

       Setelah sekitar 10 menit perahu berjalan ke arah hilir, awak kapal meminta waktu sebentar agar penumpang duduk kembali ke tempat semula dan bersiap-siap menundukkan badan karena akan melewati jembatan rendah. Nah, saat inilah lampu-lampu dan sound system diturunkan. Pada saat melewati jembatan besi yang dilewati kereta listrik dan kendaraan lain itu, semua penumpang harus menundukkan badan. Bahkan kebanyakan turun dari kursi dan berjongkok di lantai dek karena tidak ingin terbentur bagian bawah jembatan. Tinggi perahu dan jembatan hanya berjarak sekitar 0,5 meter. Penulis membayangkan tentu perahu ini tidak akan bisa melewati jembatan tersebut jika air sungai meluap setengah meter atau lebih.

       Setelah berhasil melewati jembatan, beberapa penumpang bersorak gembira, lampu dipasang kembali, musik diputar, dan goyang pinggul dilanjutkan. Beberapa penumpang dengan Handycam dan tustel mengambil gambar pesta kecil itu. Sekitar 10 menit kemudian sebuah keluarga tampak merayakan ulang tahun anak mereka di atas dek. Mereka memotong kue yang telah dipersiapkan dari rumah, tetap diiringi goyang pinggul yang semakin meriah.

       Perahu pun tetap melaju ke hilir sungai.

Para

penumpang seringkali melambaikan tangan jika ada perahu lain yang melintas, tidak jarang juga patroli Polisi Air pun tidak luput dari lambaian penumpang. Di kiri kanan sungai tampak hotel-hotel berbintang yang dibangun menghadap sungai. Juga restoran-restoran terapung memancarkan cahaya warna-warni. Villa-villa mewah juga tampak megah dibangun di beberapa tempat di bibir sungai. Bahkan ada yang lengkap dengan dermaga dan speed boat.

       Sekitar 20 menit perjalanan, perahu memasuki daerah delta sungai Nil yang lebih sepi dan lebih gelap. Dari pengamatan penulis, daerah delta tidak dihuni untuk perumahan. Hanya ada beberapa pabrik dan bangunan yang tampak gelap karena hanya ada sedikit penerangan. Sedangkan di sisi lain sungai tampak perumahan-perumahan bertingkat yang lebih sederhana dari pada di daerah Tahrir. Jalan raya di sisi sungai adalah jalur menuju daerah Sub Urban Kairo, Shubra el-Kheimah, yang terkenal dengan produksi Kristal Asfour.

       Kira-kira sepuluh menit kemudian perahu memutar haluan kembali ke dermaga semula di hulu. Perjalanan pergi-pulang memakan waktu sekitar satu jam lebih. Selama itu musik dan goyang pinggul terus menemani perjalanan anda. Anda dapat menikmati keindahan Kairo di malam hari. Kairo akan lebih indah di malam hari dengan lampu-lampu warna- warni yang menghiasi hampir tiap sudut bangunan. Dengan biaya yang terjangkau -dan kesabaran menunggu- anda bisa menikmati perjalanan menarik untuk "mengencani" sungai Nil di malam hari. Jangan lupa bawa kamera anda!(FZ)

ANTARA TERIAKAN DAN TANGISAN DI MASJID ‘AMR BIN ‘ASH

January 14th, 2006 by faisalzulkarnaen

Mesir yang terkenal dengan negeri seribu menara tidak akan pernah lekang dari keunikan. Sejarah membuktikan bahwa Mesir adalah bangsa yang berperadaban tinggi jauh sebelum negeri kita mempunyai peradaban. Sejak zaman Pharaonic, Hellenistik yang dibawa dari Yunani, Romawi hingga akhirnya dikuasai kaum muslimin. Pada masa moderen pun Mesir pernah dijajah oleh Perancis. Peradaban Islam dimulai ketika Panglima ‘Amr bin ‘Ash berhasil memasuki Mesir dari Syria di musim dingin tahun 639 M. Ia adalah seorang pemimpin pasukan pada masa khalifah Umar bin al-Khattab. Awalnya ‘Amr bin ‘Ash masuk dan menduduki Pelusium selama 6 bulan, lalu pada tahun 640, dia mulai masuk ke benteng Babilon yang merupakan sasaran yang sangat strategis. Bersama pasukannya, dia mengalahkan kekuatan Bizantium di Heliopolis pada bulan Juli di tahun yang sama. Kaum muslimin mengepung Babilon dan menuntut kaisar Bizantium saat itu, Heraklius, menyerah secara penuh kepada kekuatan muslimin pada bulan april 641 M. Selama di Mesir, pasukan Islam dapat diterima secara damai oleh masyarakat Mesir yang saat itu mayoritas beragama Kristen Koptik dan sekelompok Yahudi. Karena sangat toleran dalam beragama , di mana umat Koptik diberi kebebasan untuk menentukan pendetanya (Patriarch), bernama Benjamin. Segera setelah itu, atas perintah khalifah Umar bin al-Khattab, didirikanlah sebuah kota di samping benteng Babilon yang menjadi ibukota kekuasaan Islam di Mesir, Fusthath, dengan ‘Amr bin ‘Ash sebagai gubernur pertama dibawah kekuasaan Islam. Dengan Fathu Misr (pembukaan Mesir) ini secara perlahan Mesir mengalami Arabisasi dan Islam bisa diterima oleh Kristen Koptik, serta bahasa Arab menjadi bahasa popular digunakan. Di Fusthath inilah ‘Amr bin ‘Ash mendirikan masjid yang hingga saat ini masih ramai dikenal orang. Masjid ‘Amr bin ‘Ash adalah masjid yang pertama kali didirikan di Mesir. Masjid seluas 13.556,25 meter persegi (112.3 m x 120.5 m) ini selalu menarik perhatian pengunjungnya. Baik masyarakat Mesir maupun pelancong dari manca negara. Masjid ‘Amr bin ‘Ash berbentuk segi empat dengan bagian tengah terbuka tanpa atap. Tepat di tengah bagian yang terbuka itu terdapat bangunan berbentuk cungkup dengan beratap kubah. Bangunan ini adalah tempat wudhu bagi para jamaah masjid tua ini. Masyarakat Mesir sangat menghormati bulan Ramadhan. Masjid-masjid menyelenggarakan sholat Tarawih setiap malam. Pelaksanaannya pun bervariasi ada yang 8 rakaat dengan 3 rakaat witir, ini yang paling banyak dilaksanakan, juga yang 20 rakaat dengan 3 rakaat witir. Bagi jamaah yang ingin melaksanakan sholat tarawih bisa memilih masjid mana yang hendak dituju. Ingin yang setengah jam selesai atau yang dua jam lebih baru selesai. Ada lebih dari seribu masjid hanya di Kairo saja. Karena itulah Mesir disebut negeri seribu menara. Sebuah masjid yang mempunyai imam bersuara merdu akan banyak mendapat jamaah walaupun sholatnya panjang sampai dua jam. Apalagi kalau imamnya adalah seorang Syeikh yang terkenal alim. Jangan heran jika anda mendapati dua masjid yang hanya dipisahkan oleh jalan raya namun tak pernah sepi dari jamaah. Begitu pula dengan ‘Amr bin ‘Ash, masjid ini mempunyai tradisi yang menarik setiap malam tanggal 27 Ramadhan. Ribuan orang dari berbagai daerah di Mesir berduyun-duyun untuk sholat tarawih di masjid ini mengejar kemuliaan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Pada malam ini masjid tua ini jauh lebih ramai dari malam-malam Ramadhan lainnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya tarawih malam ini akan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Jibril, seorang syeikh yang terkenal bersuara indah. Malam 27 Ramadhan tahun ini, di Mesir bertepatan dengan hari Sabtu tanggal 29 Oktober 2005. Penulis dan dua orang kawan lainnya sudah mempersiapkan diri sebelum berangkat sejak ba’da Dzuhur. Bagi jamaah yang ingin memperoleh tempat dalam masjid atau yang cocok dan nyaman harus berangkat minimal dua jam sebelum Maghrib, apalagi yang tempat tinggalnya jauh. Dengan membawa bekal buka puasa dari rumah kami berangkat setelah sholat Ashar. Jarak antara tempat tinggal kami dan lokasi masjid lumayan jauh, sekitar 30 kilometer. Meski naik taksi kami terpaksa harus bersabar karena di beberapa ruas jalan terjadi kemacetan. Kemacetan paling lama terjadi sekitar 5 kilometer sebelum Masjid ‘Amr bin ‘Ash. Sopir taksi yang kami tumpangi mengatakan hal ini biasa terjadi menjelang Maghrib karena banyak orang pulang kerja atau mencari tempat berbuka puasa. Mobil adalah kendaraan utama, sepeda motor jauh lebih sedikit dari pada mobil sehingga sangat sulit menghindar dari kemacetan. Azan Maghrib sudah berkumandang ketika taksi yang membawa kami hampir terbebas dari macet. Akhirnya kami diturunkan di pertigaan jalan masuk ke lokasi masjid. Sopir taksi meminta maaf karena jalan menuju masjid ditutup dari berbagai jenis kendaraan oleh pihak keamanan. Setelah mendapat ongkos ia menunjukkan arah menuju masjid. Tampak oleh kami ramai orang-orang yang menuju arah tersebut. Sebelum melanjutkan perjalanan kami berbuka puasa dengan minum air yang kami bawa. Di dekat tempat kami turun terdengar iqomah berkumandang dari sebuah masjid kecil. Setelah puas melepas dahaga kami segera masuk ke dalam masjid itu untuk sholat Maghrib berjamaah. Seorang kawan saya bercanda, "Cari maidaturrahman yuk, lumayan pengiritan!" Maidah ar-Rahman yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai "Hidangan Tuhan" mudah sekali dijumpai di masjid-masjid atau tempat-tempat tertentu misalnya rumah-rumah hartawan Mesir. Para dermawan Mesir atau pengelola masjid menyediakan menu berbuka puasa untuk khalayak. Siapa saja boleh datang untuk berbuka. Hampir semua masjid menyediakan maidaturrahman. Untuk mengenalinya cukup mudah, biasanya akan ditulis besar-besar dengan bahasa Arab pada sebuah spanduk "Silahkan bergabung dengan kami di Maidaturrahman". Selesai sholat kami istirahat sejenak untuk sekedar berdzikir dan menunggu seorang teman lagi yang sedang ke kamar kecil. Tiba-tiba dari belakang seorang berjubah hijau, bersorban putih dengan jenggot tebal dan berbau wangi menyapa kami sambil membawa dua buah mangkuk plastik tertutup berisi nasi dan lauk daging. Dengan tersenyum ia bertanya,"Kalian akan sholat di Masjid ‘Amr bin ‘Ash?". Kami jawab, "Insya Allah." Sebelum ia berlalu kami mengucapkan terima kasih. Rupanya di belakang kami orang-orang sudah duduk berhadap-hadapan menunggu pembagian makanan. Ketika kawan kami kembali, tanpa pikir panjang kami melanjutkan perjalanan. Kami menyeberang jalan menuju ruas jalan yang menuju masjid ‘Amr bin ‘Ash. Beberapa polisi berpakaian putih tampak berjaga-jaga di dekat palang yang menutup ruas itu. Gelombang manusia masih terus bergerak menuju lokasi. Mereka tampak bergegas agar cepat sampai di tempat yang dituju. Laki-laki, perempuan, tua, muda dan anak-anak berbaur di jalanan, seperti ketika kampanye di Indonesia. Jarak dari ujung jalan yang ditutup menuju masjid sekitar 500 meter. Sekitar dua ratus meter sebelum lokasi penulis melihat puluhan bahkan mungkin ratusan tikar panjang berwarna hijau sudah digelar di trotoar dan di jalanan. Hanya menyisakan beberapa meter di tengah jalan untuk dilewati para jamaah. Kami langsung bergerak lebih cepat untuk memperoleh tempat yang nyaman dan tidak banyak orang lalu-lalang. Dalam pencarian itu seorang pemuda berbadan tegap membawa sekotak kurma dan menawarkan pada kami, "Etfaddhol, kullu sanah wa entu thoiyyibiin!" Sebuah ucapan khas Arab di hari-hari istimewa seperti Ramadhan dan hari raya, yang artinya kira-kira, "Silahkan, semoga anda diberikan kebaikan sepanjang tahun." Tanpa sungkan lagi kami mengambil beberapa biji kurma dan mengucapkan terima kasih. Setelah mendapatkan tempat yang cocok, dekat taman di tengah jalan. Kami mulai duduk, namun tidak langsung membuka bekal. Kami beristirahat sejenak melepas lelah. Lalu beberapa ibu-ibu berpakaian hitam yang sedang berbuka di dekat kami menawarkan makanan. Kami pun berterima kasih dan menolak dengan halus. Selesai makan seorang bapak dengan tas plastik hitam besar mendatangi setiap orang yang dilewatinya sambil membagikan minuman kemasan. Tak luput, kami pun mendapatkan 3 bungkus jus buah. Sambil tersenyum kami mengucapkan terima kasih. Begitulah masyarakat Mesir memperlakukan bulan puasa, mereka berlomba-lomba berbuat kebaikan. Salah satunya adalah dengan memberi makanan atau minuman pada orang yang berpuasa. Berharap mendapatkan pahala yang berlipat ganda di bulan mulia ini. Aliran manusia masih terus bergerak datang atau mencari tempat untuk sholat. Di beberapa tempat beberapa ambulan dan puluhan petugas kesehatan berjaga-jaga sambil membagi-bagikan kertas berisi formulir donor darah sukarela. Tidak ketinggalan puluhan polisi tampak berjaga-jaga. Tampak penjagaannya tidak terlalu ketat. Sedang enaknya bersantai sambil memperhatikan keadaan sekitar, dari pengeras suara diumumkan bahwa para jamaah laki-laki untuk memisahkan diri dari jamaah perempuan agar tertib. Beberapa laki-laki di dekat kami berteriak bahwa tempat yang kami tempati khusus untuk perempuan. Kami pun bergegas meninggalkan tempat, takut tidak mendapatkan tempat yang nyaman. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba masuk ke dalam masjid. Alhamdulillah, kami mendapat tempat di dekat pintu utama masjid. Di dalam masjid ribuan orang melakukan berbagai aktifitas. Masjid yang luas itu terasa sesak dengan ribuan yang melakukan berbagai aktifitas orang di dalamnya. Ada yang sholat, duduk-duduk berbincang dengan rekannya, membaca al-Qur’an atau melanjutkan berbuka puasa. Udara di dalam masjid terasa sedikit panas sehingga kami melepas jaket yang kami kenakan dari rumah. Perkiraan kami udara di luar akan terasa dingin karena Mesir sudah memasuki musim dingin untuk pada akhir Oktober ini. Orang-orang yang berada di luar pun berusaha mendapatkan tempat di dalam masjid sehingga berjubel di belakang pintu. Dari pengeras suara terdengar pengumuman bahwa dalam masjid sudah penuh dan mengharapkan agar para jamaah tidak masuk dan berjubel di pintu. Tidak lama setelah azan Isya berkumandang sholat Isya’ pun dimulai. Suara-suara gaduh yang terjadi sebelum sholat berubah hening, hanya suara merdu Syeikh Muhammad Jibril terdengar dari pengeras suara melantukan ayat-ayat suci al-Qur’an. Sholat tarawih dimulai sekitar pukul 19.00 waktu Kairo. Tarawih di Masjid ‘Amru bin ‘Ash berjumlah 8 rakaat dalam 4 kali sholat. Dalam satu kali sholat rata-rata dilaksanakan selama 15 menit. Pada malam itu Syeikh Muhammad Jibril memulai tarawih dengan membaca surat Ghaafir pada juz 24. Dari keterangan seorang jamaah Mesir setelah tarawih, penulis mendapatkan info bahwa pada malam sebelumnya Syeikh Muhammad Jibril menjadi imam di Jakarta. Tidak jelas ia menjadi imam di masjid mana karena pemberi info juga tidak tahu. Setelah rakaat keempat, sholat diselingi dengan ceramah oleh seorang Imam dan Khotib sebuah masjid besar di Kairo. Penulis kurang jelas mendengarkan ketika pengurus masjid menyebutkan namanya. Ceramah seperti ini sudah lazim di setiap masjid di Kairo. Ada yang diletakkan sebelum sholat Isya’, namun kebanyakan ditengah-tengah tarawih. Hal ini mempunyai fungsi ganda, selain mencerahkan rohani juga untuk beristirahat setelah berdiri selama sholat sebelum melanjutkan sholat lagi. Sholat witir dilaksanakan 3 rakaat dalam dua kali sholat. Pada saat sholat witir sang imam sudah membaca surat Fusshilat, yaitu surat setelah Ghaafir. Pada dua rakaat pertama lama sholat pun tidak jauh beda dengan tarawih. Beberapa orang yang sudah lanjut terlihat sholat sambil duduk. Di antara mereka bahkan ada yang sudah mempersiapkan kursi lipat dari rumah, namun ada pula yang duduk di lantai. Tahun 2003 yang lalu ketika pertama kali sholat tarawih di masjid ini dan juga masih baru datang di Mesir, penulis merasakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Sholat tarawih yang begitu lama dan tidak pernah merasakannya di tanah air terasa begitu berat bagi penulis. Waktu itu ingin rasanya penulis sholat sambil duduk, tetapi malu ketika melihat di samping penulis seorang bapak berusia limapuluhan tetap tegar berdiri hingga akhir. Pada rakaat terakhir sholat witir para jamaah harus mempersiapkan diri baik fisik maupun mental. Dengan persiapan yang matang kenikmatan sholat dan memanjatkan do’a kepada Allah di tengah ribuan orang akan sangat berkesan. Selain bacaan Qur’an yang panjang, para jamaah diajak untuk berdiri jauh lebih lama dari rakaat-rakaat yang lain. Pada rakaat terakhir, sang imam bersuara merdu ini memanjatkan do’a Qunut selama satu jam lebih. Anda bisa membayangkan bagaimana berdiri selama lebih dari satu jam dalam sholat. Selama itu emosi para jamaahnya juga akan diaduk-aduk oleh do’a yang dibaca Syeikh Muhammad Jibril. Pada sepuluh menit pertama imam membaca tahmid dan pujian kepada Allah dilanjutkan dengan membaca sholawat untuk Nabi Muhammad SAW pada sepuluh menit berikutnya. Selama itu para jamaah akan menjawab dengan kalimat Ya Allah atau Subhanallah jika imam menunjukkan kebesaran Tuhan atau mengucapkan Asma’ul Husna, dan Amin jika imam memohon doa. Selanjutnya adalah do’a inti yang tidak berbeda dengan do’a-do’a lainnya, namun Syeikh Muhammad Jibril membacanya dengan sangat menjiwai dan berulang-ulang. Tidak jarang ia terisak dan berhenti sejenak menahan isak tangis, lalu melanjutkan lagi. Pada inti doa itu, ribuan jamaah mulai ikut terhanyut dengan rangkaian doa yang dibaca sang imam. Seperti halnya imam, para jamaah pun tidak sedikit yang terisak dan sesenggukan. Ada pula yang berusaha menahan tangisnya ketika mengucap kata amin. Pada saat imam membaca doa yang mengingatkan akan dosa-dosa seperti, "Ya Allah mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut atau Ya Robbi terangilah kubur kami." Maka akan terdengar suara bergemuruh orang-orang menangis, bahkan ada yang terdengar agak keras. Namun jawaban para jamaah berubah ketika imam membaca, "Ya Allah kalahkanlah orang-orang yang menghancurkan Masjid al-Aqso atau Ya Allah kalahkanlah orang-orang yang menodai kehormatan Palestina dan Karbala." Kalimat amin yang sebelumnya bernada memohon kemudian menjadi sangat tegas. Bahkan ada yang berteriak sangat keras dengan kalimat Yaaa..Robb. Jika benar-benar terlarut maka berdiri selama satu jam lebih tidak akan terasa berat. Siapa saja bisa menangis menghadap Rabb-nya di tengah ribuan orang saat itu. Selesai sholat para jamaah ada yang beristirahat dan ada yang langsung bersiap untuk pulang. Kami bertiga memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu lautan manusia yang berdesak-desakan itu agak reda. Tiba-tiba sekelompok orang berteriak minta jalan. Mereka membawa seseorang yang pingsan untuk segera di bawa keluar ke ambulan yang siap siaga. Segera orang-orang yang berdesakan itu memberi jalan. Kira-kira dua puluh menit kemudian kami keluar, namun kami masih juga berdesakan di pintu. Di luar ribuan orang terlihat menyemut menuju dua arah jalan. Para pennjual makanan dan minuman menawarkan dagangan meraka. Dan petugas kesehatan di dekat ambulan pada beberapa sisi jalan sibuk dengan "pasien" donor darah sukarela. Ketika melewati seorang petugas, penulis disodori formulir donor darah berbahasa Arab. Sambil tersenyum penulis menolak dengan beralasan bahwa penulis mempunyai tekanan darah rendah. Rupanya para petugas kesehatan itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari pendonor darah. Penulis sering menemui para petugas kesehatan Mesir menawarkan pengambilan darah pendonor di berbagai kegiatan yang dihadiri oleh khalayak ramai di Kairo ini. Sholat tarawih di Masjid ‘Amr bin ‘Ash akan selalu ramai dikunjungi jamaah setiap tahunnya, terutama setiap malam 27 Ramadhan. Bagi penulis sendiri hal ini adalah pengalaman yang sangat menarik. Selain untuk meningkatkan rasa iman dan takwa pada pencipta. Pengalaman seperti ini mungkin tidak akan dapat dijumpai di tempat lain di dunia ini. Anda tertarik? Nasr City, Cairo, 30 Oktober 2005

SEAMUK BADAI PASTI BERLALU

November 9th, 2005 by faisalzulkarnaen

Bunga-bunga merah jambu itu

mulai berguguran

Burung-burung bertanduk

mematuk-matukkan paruhnya pada rerumputan

Sepasang kakek-nenek asyik bermain bola

bersama cucu perempuan

Mereka bergembira ria

seakan tiada peduli usianya yang telah senja

Rasanya baru kemarin petang

kujejakkan kaki di tanah perantauan Musa ini

Kini ku berteman rerumputan taman ini

Sedikit terobati gundahku

Sejenak bernafas dari rasa hampa

Tiba-tiba semilir angin mengelus kudukku

Seakan berbisik pelan

Negerimu merindukanmu

Ya…ya…aku pun merindukannya

Sampaikan padanya agar tak usah cemburu

Meski cemara di belakang punggungku ini rindang dan sejuk

tapi ingatanku akan tetap membalut

Pada harum kenangamu

Meski bunga merah jambu ini menawan hatiku

Wanginya melatimu takkan bergeser dari sanubariku

Walau Biladi-Biladi itu sering berkumandang

Namun Indonesia Raya masih merdu dalam kalbuku

Aku di sini hanya sebentar saja

Mengais sesuatu sebelum kembali ke pangkuanmu

Ya…aku di sini untukmu

Ingin rasanya cepat-cepat ku ambil madu-madu itu

dan kupersembahkan untukmu

Tapi tentu saja, lebah-lebah itu tidak berdiam dengan sengatnya

Selalu menusuk relung-relungku

Apa yang harus ku perbuat?

Aku tahu engkau pun tak sejenak berjibaku

Sejak dulu

Engkau harus berjuang melawan musuh-musuhmu

dan terus menerjang para penghianatmu

Aku tahu kau pasti sudah muak

Dengan kutu busuk di ketiakmu

Yang selalu menyakitimu

Menguras minyakmu

Menghanguskan hutan-hutanmu

Untuk membuat perut-perut mereka semakin buncit

Sementara kolor si yatim selalu melorot ke jempol kaki

Tikus-tikus itu memang tak punya malu

Begitu bangga dengan istana garong

Tapi nestapa itu janganlah terlalu

Gundah itu akan pergi jua

Seperti perginya gundahku di taman ini

Selama masih ada jiwa-jiwa bersih di persadamu

Tak akan terbiar manusia-manusia yang melukaimu

Meski muda-mudimu mabuk kepayang dengan injeksi jahanam

Tak akan berkalang selama semangat itu tetap tumbuh

Walau semangat itu menjadi sebutir pasir di ujung jari

Harapan itu takkan mati

Walau cinta putih itu tidak seputih susu

Aku akan tetap setia untukmu

Walau garong-garong itu menjadi sebanyak buih di lautmu

Masih akan ada putra-putrimu yang takkan pernah menyerah

Menjadikan Engkau

Indonesia impianku

Sekelam malam masih akan ada fajar merekah

Dan seamuk badai pasti berlalu

Taman Internasional Kairo

   24 September 2005

Kisah Tukang Sapu Syarm el-Sheikh

November 9th, 2005 by faisalzulkarnaen

Baru seminggu aku tiba di sini

mengadu nasib jauh dari kampungku,

El Fayoum, kampung indah dengan kebun mangga

Kata orang mangga itu dulu dibawa Soekarno

dari negeri yang jauh, Indonesia

El Fayoum kampung indahku dengan parit-parit air

mengalir ke sawah-sawah yang dulu katanya cuma pasir

Tapi di sini juga indah

Laut merah, masih membekas di kepalaku

cerita Musa dan pengikutnya

Tapi indah itu menjadi begitu menjijikkan bagiku

dikampungku semua berbaju lebar

tertutup dan masih punya malu

Hari pertama aku menyapu di trotoar jalan menuju pantai

Orang-orang itu tidak berbaju

apalah yang disebut baju jika hanya secarik kain

berjalan hilir mudik

tak acuh

Hari kedua kulihat dua muda-mudi berkulit pucat

juga tidak berbaju

menautkan keempat bibir mereka  di depan café

tidak tahu malu

Hari ketiga kawanku berkata:

"Di sini lebih mudah cari uang daripada di kampung"

"Kamu lihat turis-turis itu"

"Mereka adalah sumber uang"

"Kamu harus pandai"

"Untuk dapatkan uang mereka"

Hari keempat aku ditugaskan di resort

membersihkan pantai

sungguh terasa sesak dada ini

Mandorku marah:

"Kenapa pantainya masih kotor?"

"Kamu seharusnya melayani para tamu asing itu?"

"Kalau begini terus dalam dua hari kamu bisa dipecat"

"Jangan jadi pemalas!"

Aku jawab:

"Aku malu"

"Perempuan-perempuan itu telanjang"

"Aku takut mereka mengira aku mengintip mereka"

"Aku malu"

"Muda mudi itu berciuman sangat lama"

"Aku takut jika mereka marah aku pergoki"

"Seperti suami istri tetanggaku di Fayoum"

Hari keenam aku menyapu di depan hotel

seorang lelaki beranting berambut acak-acakan

mengeja setiap gerakku mengayun sapu

dia mendekat padaku

dirogohnya saku

disodorkannya sepuluh pound 

"for yu"

aku bergeming

tak faham

ditariknya tanganku diselipkan uang itu

aku tetap bergeming

ia berlalu masuk hotel

Malam masih hiruk pikuk

udara menyaput setiap celah batu cadas Sinai

menyaput pasir-pasir pantai

Malam diterangi bulan gurun tiga perempat

Lampu-lampu jalanan menemani bulan

Aku bersandar di dinding penginapanku

menikmati teh dari Kenya

Airnya bergetar

Telingaku pekak

Halilintar terasa menyambar di malam tenang

Jalanan gulita

Hanya bulan masih setia

cahayanya menuntunku

Lelaki beranting berambut acak-acakan

berlari menjauh dari hotel

api menggulung debu berhamburan

dinding hotel runtuh berdebam

menyisakan asap menyesakkan

Aku lari mendekat

mandorku masih terlelap

mukanya merah berdarah

perutnya yang gendut

menahan pecahan kaca yang menembusnya

Kawanku sudah terjaga

menggendong tangan kirinya

badannya bergetar

Ku ambil tangan kirinya itu

ku kantongi dalam saku Galabeyya

ku gendong ia menjauh hotel

yang berpuing-puing

cairan merah masih mengucur dari bekas lengannya

Lewat taman berumput

Aku menginjak sesuatu

bersuara

mengumpat dengan bahasa yang aku tak mengerti

Lelaki beranting dan berambut acak-acakan

bercelana pendek tanpa baju

membenamkan mukanya ke tanah

Tiarap dan berteriak ketakutan, menangis sesenggukan

Aku terus berlari menggendong kawanku dan tangannya

dari jauh aku dengar lelaki itu tertawa terbahak-bahak

di antara jerit ketakutan dan debu beterbangan

Kairo, 24 Juli 2005

Taqobbalallahu minna wa minkum

November 3rd, 2005 by faisalzulkarnaen

Ketika langit begitu cerah
dan awan putih menggantung satu-satu
tiadalah patut hati hendak gundah
hari ini, minggu ini, dan bulan ini adalah bulan kemenangan bagi sang "pemeluk teguh"*
Izinkanlah saya mengungkapkan rindu dari dalam lubuk hati terdalam
meluapkan segala prasangka yang terpendam
kiranya tiada yang dapat menambah kesejukan hati
selain pintu maafmu yang terbuka untukku
Segala kesalahanku, sikapku, perbuatanku dan perkataanku yang menyakitkan tiada lain karena aku hanyalah seorang manusia biasa yang lemah
Karena itu MINAL AIDIN WAL FAIZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
Semoga Allah mengampuni kita dari segala dosa.
Semoga lindungannya selalu menyertai kita dan,
Semoga kita bisa bersua kembali di masa-masa yang akan datang.
Wassalamualaikum

Faisal Zulkarnaen

*pinjam istilah Chairil Anwar

Bacalah!!! Menulislah!!!

October 28th, 2005 by faisalzulkarnaen

Saat dunia terasa hampa

dan otak beku merana

maka bacalah!

Ketika hati hendak berkata

dan lidah kelu terasa

maka menulislah!