SUQ SAYYARAAT

Lapangan Sepak Bola Terbesar di Dunia

Coba Anda sebutkan negara mana yang penduduknya tidak gandrung sepakbola? Barangkali kita susah menjawab pertanyaan itu, karena hampir di setiap belahan bumi ini orang-orang mencintai sepak bola. Begitu juga Mesir, yang Timnasnya baru saja memenangkan perebutan Piala Afrika sekitar bulan Februari 2006 yang lalu. Mereka mengalahkan Cote d’Voire dalam adu pinalti yang menegangkan.
Anda mungkin pernah mendengar Stadion Old Trafold yang megah dan mampu menampung puluhan ribu penonton itu. Stadion kebanggaan warga Manchaster. Namun, ia hanya mampu menampung sekali pertandingan dalam satu waktu.
Sekitar 200 meter dari rumah saya di Hay el-Asyir, Nasr City ada sebuah lapangan sepak bola yang bisa menampung sedikitnya 10 match dalam satu waktu. Meskipun kemegahannya sangat jauh jika dibandingkan dengan Old Trafold namun semangat para pemainnya tidak kalah dengan tim-tim yang bertanding di Premier League-nya Inggris. Namanya Suq Sayyaraat yang berarti pasar mobil. Ya, aslinya memang bukan lapangan sepak bola, juga bukan pasar mobil. Kawasan itu adalah lahan yang dikosongkan untuk jalur kabel listrik tegangan tinggi. Kemudian agar tidak kosong, kawasan itu di aspal dan dibangun untuk pasar mobil. Tepat di bawah kabel-kabel tegangan tinggi itu dibuat  taman berpagar besi setinggi 1,5 meter. Setiap Jum’at dan Minggu Suq Sayyaraat selalu penuh dengan mobil yang akan dijual atau dibeli.
Ukuran panjang Suq Sayyarat kira-kira 500 meter. Terdiri dari dua bagian disamping kanan dan kiri kabel. Tiap-tiap bagian mempunyai lebar kira-kira 80 meter. Di tempat itulah setiap sore anak-anak, pemuda dan orang dewasa berbagai bangsa biasa bermain bola. Warga Mesir, orang Indonesia, Afrika, Rusia dan Eropa biasa menggulirkan si kulit bundar di sana. Pada musim panas mereka yang ingin bermain bola harus datang lebih awal bersama timnya agar bisa mendapatkan tempat paling rata dan strategis. Beberapa tim bahkan membawa gawang sendiri yang dibuat dari potongan pipa yang disambung-sambung. Kebanyakan yang punya gawang adalah tim-tim dari Afrika, seperti orang Somalia, Nigeria dan lain-lain. Ada juga mahasiswa Indonesia yang mempunyai gawang dan rutin berlatih hampir tiap sore di sana. Yang tidak punya gawang dan klub biasanya memakai batu sebagai gawang, layaknya permainan bola kampung. Di antara mereka bahkan mempunyai kostum khusus, barangkali klub kecil-kecilan. Sedangkan yang tidak punya klub atau tidak kebagian tempat karena terlambat bisa bergabung dalam match dadakan, yang kadang bisa mencapai 20 orang melawan 20 orang. Yang penting enjoy dan bisa bermain.
Bermain sepakbola di Mesir tidak seperti di kampung-kampung negeri kita yang lapangannya rumput dan gratis. Jika ingin mendapat lapangan rumput Anda harus merogoh kocek sekitar 20-50 pound per-jam (1 pound Mesir = sekitar 1.700 Rupiah), tergantung luas lapangan dan kualitas rumputnya. Maka bagi klub-klub kecil yang ingin mengirit dana kebanyakan memilih Suq Sayyarat yang gratis untuk berlatih, meski harus siap dengan lutut perih jika terjatuh. Meski resiko jatuh, Suq Sayyarat seakan menjadi idola bagi para pecinta bola di sekitarnya.
Pada pagi hari biasanya hanya sedikit orang yang bermain bola di sana. Kecuali hari Jum’at dan Minggu Suq Sayyaraat menjadi track jogging, dan area jalan-jalan sekedar rileks menghirup udara terbuka yang masih segar. Kadang-kadang saya juga lari-lari kecil mengelilingi lapangan besar itu. Tidak sedikit juga kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang saya lihat membawa buku dan belajar di sana. Seringkali sambil komat-kamit menghafal sesuatu.
Dua bulan yang lalu ada dua kafe di sisi kanan dan kiri Suq Sayyarat, dekat dengan jalan yang mengeilingi lapangan besar itu. Kedua kafe itu buka tiap petang sampai menjelang subuh. Di malam-malam libur, terutama musim panas Suq Sayyarat ramai oleh para pelanggan kafe yang menikmati Syisya (sejenis rokok khas Arab yang dihisap melalui pipa sepanjang satu meter) dan berbagai makanan serta minuman yang disediakan. Laki-laki, perempuan dan anak-anak biasanya duduk-duduk di sana, bahkan sampai menjelang subuh.
Hanya diterangi oleh lampu jalan berwarna kekuningan yang ada di sepanjang tepian Suq Sayyaraat, meja dan kursi kafe ditata menyebar hampir separuh lapangan itu. Teredia juga beberapa ayunan dan kuda-kudaan yang disediakan untuk bermain anak-anak. Di dalam kafe itu ada juga beberapa meja biliard yang tiap malam dipakai bermain oleh pelanggannya, entah dengan menyewa atau gratis, saya belum pernah bermain di sana.
Kedua kafe itu juga menyediakan televisi 29 Inch yang sering digunakan untuk menyaksikan pertandingan sepakbola  baik Liga Inggris, Liga Italia atau Piala Champion.
Namun jika klub-klub besar Mesir, seperti al-Ahly atau Zamalek bertanding jangan harap bisa melihat pertandingan klub-klub Eropa. Orang Mesir jauh lebih suka klub lokal daripada klub-klub asing. Pemain kebanggan mereka, Mido, kini merumput di Premier League Inggris.
Sekarang kedua kafe itu tidak ada, hanya menyisakan dua kios kecil yang kosong. Sekitar dua bulan lalu pemerintah setempat menggusur kedua kafe itu. Sebab pastinya kurang jelas, namun terdengar desas-desus kalau kedua kafe itu masing-masing mempunyai tanggungan utang pajak sebesar 30.000 Pound Mesir. Aneh juga padahal kafe-kafe itu selalu ramai setiap malam, dan saya yakin pendapatan mereka juga besar. Bahkan sebuah rumah makan Thailand juga menyewa tempat pada pemilik kafe itu beberapa bulan sebelum digusur.
Kini, Suq Sayyarat yang hingar-bingar di sore hari, selalu sepi ketika malam. Hanya lolongan beberapa anjing gurun yang kerap memenuhi tempat itu. Beberapa lampu juga padam sehingga menimbulkan kesan temaram. Kawan-kawan mahasiswa Indonesia jika lewat tempat itu pada malam hari menghindari sudut-sudut yang gelap dan sepi. Di sudut-sudut yang gelap itu sering digunakan orang-orang tak jahat untuk merampas harta orang yang lewat, terutama jika sendirian. Beberapa kali terdengar kawan-kawan mahasiswa Indonesia dan Malaysia dirampok. Ada yang pasrah dan ada yang melawan sampai babak belur. Untuk menghindarinya jika berjalan sendirian harus memutar melewati trotoar tepi jalan raya yang ramai.  Yang kasihan orang Malaysia karena asrama mereka terletak di ujung Suq Sayyaraat sebelah dalam, agak jauh dari jalan raya. Kalau ingin pilang malam hari mereka harus memutar di pemukiman penduduk yang ramai, kecuali nekat. Syukur-syukur para pemalak itu sedang malas.   

Nasr City-Kairo, 26 April 2006

Leave a Reply