Perjalanan Hidup Adalah Belajar

Tulisan ini yang pertama kali saya tulis untuk berbagi kebahagiaan (tahadduts binni’mah). Agar kebahagiaan yang saya pernah rasakan juga bisa dirasakan oleh yang lain, mudah-mudahan suatu saat juga akan merasakan kebahagiaan yang sama.
Kemarin, hari Jum’at (31/3) saya diundang oleh kawan saya untuk ikut majelis semaan dan khataman al-Qur’an Jantiko Mantab di Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCI-NU) Mesir. Mendengar Jantiko Mantab saya teringat dengan kota kecil nan permai, kota kelahiran saya Jombang. Dahulu saya sering melihat pelaksanaan majelis semaan dan khataman al-Qur’an ini, bahkan yang membuat saya takjub acaranya diadakan di Polres Jombang dan polsek di beberapa kecamatan. Tampaknya acaranya  cukup diminati banyak orang karena disana para penghafal al-Qur’an (al-huffadz) berkumpul dalam komunitas Jantiko Mantab. Kata kawan saya itu Jantiko Mantab adalah sebuah akronim, tapi saya lupa itu akronim dari apa.
Awal ide pengadaan Jantiko Mantab ini adalah bagaimana membentuk sebuah komunitas pembaca al-Qur’an. Pertamanya memang mengambil konsep Jantiko Mantab di Indonesia sehingga namanya pun disamakan karena para hafidz belum terkumpul semuanya. Namun dalam pelaksanaannya secara struktural pelaksanaan majelis khataman di PCI-NU Mesir ini tidak ada hubungan dengan di Indonesia.  Jika suatu saat nama itu dirasa perlu diubah maka akan dibicarakan dengan para anggotanya.
Waktu itu saya tidak terlalu peduli dengan hal itu (Jantiko Mantab) karena tidak terlalu faham bagaimana ini dan itu. Saya dari kecil terdidik dalam sekolah umum yang minim pelajaran agama, SD, SMP, dan SMU. Untunglah Bapak dan Ibu (semoga mereka selalu dirahmati oleh Allah) sejak kecil selalu menanamkan ajaran agama pada saya semampu mereka. Karena saya perhatikan Bapak dan Ibu saya bukanlah orang yang pandai agama. Mereka hanya orang-orang biasa yang hanya sedikit faham tentang fikih, tentang bagaimana bermuamalat dalam Islam dan yang lainnya. Latar belakang keluarga saya bukanlah keluarga santri tulen. Orang tua saya bisa dikatakan masih tergolong awam. Yang saya rasakan paling berkesan adalah bahwa sejak kecil saya selalu diajari untuk tidak meninggalkan sholat dan diajari membaca al-Qur’an. Lingkungan kampung kecil saya juga ikut membentuk perkembangan saya sejak kecil. Lingkungan yang cukup agamis namun belum ada ulama mumpuni.
Ketika SMU saya sangat bersyukur bisa tinggal di pesantren (PP Sunan Ampel, Jombang) dan siangnya sekolah di SMUN 2 Jombang. Sejak itu sedikit-sedikit saya diajari untuk mengenal lebih dekat agama yang saya anut sejak lahir. Saya sedih jika mengingat banyak sekali umat Islam yang tidak (mau) mengenal ajaran agamanya dengan baik. Bukan berarti saya berpendapat bahwa setiap anak harus masuk pesantren. Namun bagaimana menciptakan sebuah generasi yang mempunyai kualitas keilmuan umum baik juga faham tentang agama. Saat ini dibutuhkan ilmuwan sekelas ahli kedokteran Ibnu Sina (Avicena) yang juga seorang agamawan. Di Indonesia saya melihat Baharuddin Jusuf Habibie adalah seorang tekhnokrat yang juga santri. Di zaman Rasulullah, Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu adalah seorang negarawan dan politikus yang agamawan. Dengan begitu ilmu yang ada pada diri mereka digunakan untuk kesejahteraan umat bukan untuk kepentingan diri sendiri seperti banyak terjadi. 
Benar sekali kata ustadz yang mengajar saya. Islam itu memang dibangun di atas landasan rukun Iman dan Islam namun di sana juga ada tuntunan bagaimana beribadah, bermuamalah (kehidupan sosial), berakhlak, dan segala hal menyangkut kehidupan. Sedangkan kehidupan di dunia ini adalah jembatan menuju akhirat. Semuanya terangkum dalam al-Kitab dan al-Hadits. Dalam Islam semuanya sudah lengkap diajarkan oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam sebelum beliau wafat. Ustadz saya itu mengkiaskan rukun Iman dan rukun Islam itu sebagai pondasi dan pilar sebuah rumah, sedangkan muamalah, akhlak, dan yang mendukung kehidupan beragama kita sebagai dinding dan atap serta hiasan-hiasan lainnya. Jika seorang muslim mampu melihat itu semua sebagai sebuah kesatuan yang utuh maka Islam dalam diri kita bagaikan sebuah rumah yang terbangun secara lengkap.
Kembali pada undangan tadi, awalnya saya tidak begitu respek atas undangan kawan saya itu, dan Jantiko Mantab sudah berjalan dua kali tapi saya tidak hadir. Alasannya saya belum hafal Qur’an dan anggapan saya bahwa Jantiko Mantab itu komunitas para penghafal (hafidz) al-Qur’an. Terus terang saya merasa agak minder. Tapi teman saya itu mengingatkan bahwa di sana akan dibutuhkan penyimak yang membawa mushaf, jadi saya sedikit berbesar hati. Untuk memantapkan niat saya teringat sebuah pepatah jika berkumpul dengan penjual ikan maka kita akan bau ikan namun jika kita berkumpul dengan penjual minyak wangi maka kita juga akan ikut wangi. Dari sinilah saya berfikir barangkali saya juga akan tertular dan termotivasi untuk menghafal al-Qur’an. Amin. Yang paling utama adalah seseorang yang membaca mendengarkan dan menyimak orang membaca al-Qur’an pahalanya sama dengan pembacanya.
Dalam acara itu berkumpul lebih dari 10 orang hafidz dan sekitar 30 lebih penyimak yang sebagian juga hafal beberapa juz. Total semuanya sekitar 40 orang lebih dan itu tidak hanya warga NU saja namun ada juga beberapa huffadz dari luar NU. Menurut koordinatornya, salah satu tujuan Jantiko Mantab diadakan di Mesir ini adalah untuk menjaga kebersamaaan kita sebagai umat Islam Indonesia di Mesir. Saya sendiri karena belum hafal mendapat tugas menyimak dengan membawa mushaf. Ketika itu saya merasakan kenikmatan yang luar biasa berkumpul dan menyimak para hafidz membaca al-Qur’an di luar kepala. Seingat saya di pesantren dulu tiap bulan (berdasarkan tanggal hijriah, tapi saya lupa tanggal berapa) juga ada acara seperti ini namun karena acaranya pagi saya jarang sekali mengikuti karena harus sekolah. Biasanya kalau bertepatan dengan hari Minggu baru ikut menyimak. Namun rasanya tidak senikmat Jum’at yang lalu karena dulu para hafidznya membaca dengan sangat cepat sehingga saya sering tertinggal ketika menyimaknya. Berbeda dengan kemarin, para hafidz muda yang seumuran saya membacanya dengan tartil sehingga lebih menghayatinya.
Hari itu para hafidz dan penyimaknya dibagi menjadi sekitar 7 kelompok termasuk 2 kelompok putri. Sehingga dalam satu waktu al-Qur’an dapat dikhatamkan sebanyak tujuh kali. Khataman Qur’an juga merupakan tradisi para sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Sehingga Jantiko Mantab bisa menjadi wadah untuk melestarikan tradisi mengkhatamkan al-Qur’an di mana do’a setelahnya merupakan do’a yang maqbul.
Jum’at yang lalu penutupnya tidak dilaksanakan hari itu juga namun ditunda sampai esok harinya berbarengan dengan Istighotsah Kubro dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam.
Esoknya itstighosah Kubro dilaksanakan di Aula Griya Jateng. Yang hadir kurang lebih 300 orang. Benar-benar jumlah yang luar biasa. Waktu saya dating istighosah sudah dimulai beberapa menit. Etelah istighosah dilanjutkan lantunan Dzikir Ilahiyat yang ditulis oleh Ibnu Atho’illah as-Sakandari. Bagi saya dzikir dan doa yang dibacakan salah seorang panitia membuat saya benar-benar terenyuh. Terenyuh dengan kehidupan di masa-masa yang lalu. Dan saya pun menangis.
Acara pun tidak berhenti sampai sini saja. Lantunan sholawat dalam Dziba’iyah menngema seantero aula. Rasanya saya bernostalgia dengan kampong saya. Sudah lebih dari 2 tahun saya tidak pernah mengikuti Dziba’iyah sejak meninggalkan kampung halaman. Rasanya sungguh bahagia bias bersama-sama bersholawat untuk Nabi. Dalam acara ini hadir juga beberapa pejabat KBRI termasuk Kepala Perwakilan RI Ad Interim H. M. Muzammil Basyuni. Rasanya Kaliwungu tidaklah terlalu jauh dengan Kairo. Saya teringat masa-masa saya masik kanak-kanak. Setiap seminggu ekali kami mengadakan Sholawat dan Dziba’iyah yang berisi cerita kehidupan dan sifat-sifat Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Biasanya diiringi dengan rebana dengan irama yang rancak.
Setelah itu para hafidz pun menyelesaikan khataman al-Qur’annya dengan membaca mulai surat ad-Dhuha sampai terakhir an-Naas. Lalu dilanjutkan dengan do’a khotmil Qur’an. Do’a khotmil Qur’an ini adalah salah satu do’a yang mustajab. Dalam ceramahnya di acara ini DR. Mukhlis M. Hanafi, M. A. mengatakan bahwa sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu mempunyai mata-mata di masjid Madinah yang memberikan informasi padanya jika ada orang yang hendak mengkhatamkan al-Qur’an, kemudian Ibnu Mas’ud akan datang untuk mengamini do’a khotmil Qur’an di akhir khatamannya.
Acara ini juga menghadirkan DR. Mukhlis M. Hanafi, M.A. sebagai pembicara untuk memberikan mauidzhah Hasanah. Benar-benar luar biasa ilmunya. Seorang yang mempunyai ilmu tidak akan kehabisan bahan untuk disampaikan. Sebuah bulletin mahasiswa di Kairo yang pernah mewawancarai beliau menulis bahwa DR. Mukhlis .M. Hanafi, M. A. menggunakan 15 jam etiap hari untuk membaca buku.
Dalam ceramahnya beliau sangat memberikan apresiasi atas diadakannya rangkaian acara Memperingati Maulid Nabi dengan Istighosah Kubro, Khotmil Qur’an, Dziba’iyah, Teater, dan Launching Baku karya warga NU Muda. Beliau bangga melihat generasi muda NU di Kairo tidak berhenti berkarya.
Penghinaan atas Nabi di barat menurut beliau hanyalah hal yang biasa. Sejak Nabi Shalallahu alaihi wa sallam diangkat menjadi Rasul hinaan itu sudah menimpa Rasulullah. Bagaimana Nabi pernah diludahi kaum kafir Qurays, dilempar dengan kotoran, dan paling parah adalah dikatakan sebagai orang gila. Hinaan mana yng lebih hina daripada dianggap gila? Jadi apa yang dilakukan orang Denmark dan Norwegia seharunya menjadi momen penting untuk menggalang kesatuan umat Islam.
Bahkan dalam al-Qur’an, kata beliau, hinaan dari kafir Qurays itu tidak ditutup-tutupi namun ditulis dengan jelas dan diceritakan bagaimana Nabi dicaci oleh kafir Makkah.
Oleh karena itu dalam kesempatan itu beliau juga mengharapkan kepada para insane pers di Masisir untuk tidak menyingkat Shalallahu Alaihi Wa sallam setelah nama Rasul menjadi S.A.W.  karena itu merupakan pekerjaan para orientalis. Beliau menceritakan bahwa para orientalis itu ketika menterjemahkan manuskrip-manuskrip sering menyingkat shalawat atas Nabi dengan huruf Shad, Lam dan Mim. Beliau mengajak para jurnalis muda perbuletinan Kairo untuk memulai menulisnya secara lengkap dan tidak menyingkatnya. Setiap huruf dari apa yang kita tulis itu akan dihitung sebagai kebaikan.Satu kali kita berholawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam maka Allah akan memberikan kita 10 kebaikan. Subhanallah. Dan masih banyak lagi keutamaan bersholawat.
Sungguh malam itu saya mendapatkan pencrahan yang luar biasa. Saya terkesima -dan saya yakin hampir semua orang yang ada di ruangan itu mengalami hal yang sama dengan saya, terlihat dari ekspresi mereka- dengan penjelasan yang disampaikan DR. Mukhlis M. Hanafi, M. A. Begitu sarat dengan ilmu. Begitulah orang yang berilmu ketika berbicara tidak asal ngomong dan disertai dengan data serta dalil yang kuat . Dan itu membuat motivasi saya tumbuh kembali. Malam itu saya mulai menata kembali rel-rel yang berserakan untuk pemberhentian berikutnya.

Wassalam.
Kairo, 2 April 2006

One Response to “Perjalanan Hidup Adalah Belajar”

  1. elok Says:

    Ass.Wr.Wb…
    Iya dech makasih atas sarannya.Makasih juga kamu juga dah mampir di blogku kapan hari.Aku emang sengaja bikin blog2nya dulu kok baru ntar aku atur designnya hehehe..Maaf ya kalo da bikin mata kamu sampe melotot hehehe..Emang segitunya ya?hehehe..bcanda..
    Wassalam.

Leave a Reply