Archive for April, 2006

Rumahku dan Sekitarnya

Friday, April 28th, 2006

Sekarang, aku tinggal di sebuah flat bersama 4 orang kawan. Sebuah flat sederhana di lantai dasar sebuah gedung berlantai 6. Umur gedung ini mungkin hampir seumuran denganku, tapi entahlah aku tidak tahu berapa tua gedung ini. Gedung ini berdiri kokoh di samping sebuah jalan raya Kairo di bilangan Hay el-Asyir, Nasr City. Nama kampung yang kami tinggali juga cukup unik, Swissry. Diambil dari pengucapan Arab untuk Switzerland. Konon gedung-gedung apartemen di daerah ini proyeknya didapat dari pinjaman pemerintah Swiss. Tapi itu kabar yang ku dengar, kebenarannya masih harus dicek lagi.
Orang Mesir memang suka menyebut negerinya sebagai Umm el-Dunya, Ibunya Dunia. Entah kenapa mereka menyebut negerinya seperti itu. Di Mesir banyak sekali nama-nama tempat yang mengadopsi nama tempat lain di dunia ini. Seperti El-Menia untuk Jerman, Maidan Libnan untuk Lebanon Square, Hadiqah Yabaniah (Taman Jepang), bahkan mereka membuat sebuah taman yang mempunyai miniatur ciri khas negara-negara di dunia. Anda bisa berfoto dengan latar belakang patung Liberty kecil atau kincir angin Belanda di sana. Mereka menyebutnya Hadiqah el-Dauliyah atau Taman Internasional, meskipun aku sendiri merasa agak kesal karena Indonesia tidak kutemukan di sana. Bukankah Presiden Soekarno adalah kawan karib Presiden Gamal Abdul Nasser? Tapi biarlah, suka-suka yang buat.
Bekas kemesraan kedua negara yang dikenal oleh orang Mesir sampai sekarang adalah buah mangga. Mereka menyebutnya mangga Sukarnu. Konon bibit mangga itu pertama kali dibawa oleh Presiden Soekarno dan berkembang hingga kini. Pernah juga aku melihat papan nama jalan menuju Alexandria bertuliskan Shari’ (Jalan) Ahmad Soekarno.
Apa yang patut menjadi contoh dari orang Mesir adalah kecintaan mereka pada negerinya. Sehingga kebanyakan mereka lebih suka membeli produk lokal dari pada barang impor. Meskipun tampaknya sekarang mulai berubah. Anak-anak muda Mesir sekarang sedang gandrung produk-produk luar negeri.
Kawan-kawan Indonesia seringkali merasa jengkel akibat terlalu cintanya orang-orang Mesir pada negerinya, terutama orang-orang Baladi (orang kampung). Mereka seringkali terasa terlalu berlebihan membanggakan negerinya. Jika sudah begitu ada baiknya ditanggapi dengan bercanda saja, dari pada makan hati. Chauvinisme yang kadang terlalu. Memuji negeri sendiri kelewat batas.
Suatu ketika seorang kenek Tramco (angkot) mengagumi negerinya dengan mengatakan Mashri umm el-dunya (Mesir Ibu Dunia). Saya dan kawan-kawan yang jadi penumpang pada waktu itu langsung menimpali Andunisi abuha (Indonesia Bapaknya). Ia langsung mendelik dan tidak setuju. Lalu kami katakan,”Loh kasihan dong, masak punya Ibu nggak punya Bapak?” Ia tampak berpikir sejenak lalu tersenyum tanda setuju. Hehe…kena kamu. Dan kejadian saperti ini tidak hanya sekali dua kali, tapi sering dan kami punya senjata untuk menandinginya, seperti tadi.
Kembali ke rumah kami, di samping rumah kami terdapat sebuah ruangan yang luasnya kira-kira sama dengan ruang kamarku, 3 kali 4 meter, bahkan kelihatannya lebih kecil. Dalam kamar itu juga termasuk dapur dan kamar mandi. Dan di ruangan itu tinggallah sebuah keluarga dengan 6 anggotanya. Mereka adalah keluarga Bawwab (penjaga gedung apartemen) yang menjaga sekaligus menjadi pembersih di gedung yang kami tempati. Sha’ban, istrinya, ibu mertuanya yang sudah tua, serta tiga anak mereka Walied, Mona, dan Halimah. Mereka berasal dari kampung di Provinsi Bani Suwef.
Sudah bertahun-tahun mereka tinggal di Kairo, aku tidak tahu sejak kapan mereka di situ. Mungkin sejak gedung ini berdiri seperti kebanyakan Bawwab lainnya. Mereka dibayar dari uang yang dikumpulkan dari penghuni gedung sebesar 30 Pound Mesir (sekitar lima puluh ribu Rupiah) tiap flat. Di gedung ini ada 24 flat, namun beberapa tampaknya tidak dihuni.
Sha’ban adalah seorang buta huruf , umurnya sekitar 40-an. Ia selalu memakai jalabiyah (jubah) khas kampung Arab dengan sorban yang dililitkan di kepala. Seringkali ia menumpang untuk menelepon di rumah kami. Biasanya ia akan meminta kami menekan digit-digit telepon dari kertas bertuliskan nomor telepon yang ia bawa. Kadang aku geli juga dengannya, kalau menelepon minta tolong memijit nomornya tapi kalo soal hitung menghitung duit, tanpa kalkulator pun sudah mahir. Jika menelepon suaranya keras, kalau di kampungku desibel sebesar itu udah dianggap berteriak-teriak. Dulu pertama kali kukira ia marah-marah, tapi ternyata begitulah nada bicara kebanyakan orang Arab. Pada dasarnya ia baik, namun kadang juga menjengkelkan, tidak punya sungkan. Pernah kutegur karena nyelonong begitu saja ketika baru saja kubukakan pintu atau ketika menelepon lebih dari 10 menit. Dasar Arab…pati nggenah. He..he…
Istrinya juga buta huruf. Tapi lebih halus dari suaminya. Mungkin perangai seorang Ibu. Tapi tetap saja nada suaranya tinggi ketika menelepon. Kami sudah terbiasa. Kami sering berbagi bumbu dapur dengan keluarga itu. Ketika kami kehabisan bawang merah tinggal menyampaikannya lewat jendela, begitu juga ketika mereka kehabisan gula, wajahnya akan nongol di jendela dapur. Transaksi itu sering kami lakukan jika malas keluar atau ketika perlu cepat. Sehingga keakraban antara kami terjalin. Dengan anak-anaknya pun kami kenal baik.
Walied kini sedang menempuh kuliah tahun pertama di fakultas teknik. Entah di univeritas mana. Inilah salah satu yang aku kagumi dari Mesir, pendidikan murah dan mendapat prioritas. Aku memimpikan akan terjadi di negeriku, Indonesia. Negeri yang jauh lebih luas dan lebih subur dari pada Mesir yang sebagian besar hanya gurun pasir gersang. Bahkan buku-buku banyak dijual murah melalui program Ibu Negara Suzanna Mubarok, Maktabah Usroh (Pustaka Keluarga).
Umur Walied sekitar 19 tahun. Ia seorang yang ramah dan kakak yang baik bagi adik-adiknya. Aku tidak tahu apakah Walied anak pertama atau tidak. Kata senior-seniorku ia punya kakak perempuan yang tinggal di kampung. Aku sendiri tidak pernah bertanya tentang itu. Ia menjadi tempat kami bertanya ketika kesulitan memahami bahasa Arab atau Ammiyah (Bahasa Arab Gaul).
Mona adalah adik Walied, umurnya sekitar 17 tahun, sedang belajar di Madrasah Tsanawiyyah (setingkat SMU) jurusan Elektronika. Pernah kami menanyakan tentang tempat penjualan sebuah komponen Magic Jar kami yang rusak. Tampaknya ia belum tahu, tapi dengan senang hati dibawanya komponen itu ke sekolah dan bertanya pada gurunya. Ia juga peramah tapi agak pemalu. Wajarlah, yang tinggal di dekat rumah kecilnya cowok semua. He-he…
Halimah adik Mona adalah seorang ABG yang masih duduk di Madrasah I’dadiyyah (setingkat SMP). Dua tahun yang lalu ketika pertama kali tinggal di sini, ia seorang gadis kecil yang agak nakal. Suka usil dan bernyanyi keras-keras. Sekarang lebih mirip kakaknya, pemalu.
Sedangkan nenek mereka tidak pernah ku dengar bicara. Lebih sering di dalam kamar. Sha’ban bilang ia sering sakit-sakitan.
Mereka adalah keluarga yang cukup baik. Sha’ban meskipun ia buta huruf tetapi terus mendorong anaknya untuk giat belajar. Anak-anaknya pun rajin-rajin. Mereka biasanya belajar di luar. Di depan kamar, Sha’ban membuat tempat duduk dari semen dan pasir berukuran sekitar 1,5 kali 3 meter. Di atasnya digelar tikar plastik. Walied dan adik-adiknya sering belajar di situ. Bisa dianggap di situlah ruang keluarga bagi mereka. Di malam hari Sha’ban, istrinya dan Walied bergantian tidur di luar dengan selimut tebal. Jika malam ini Walied, besoknya ayahnya yang tidur di luar, begitu seterusnya bergantian. Selain itu mereka ikut bertanggung jawab atas keamanan gedung dan para penghuninya, terutama yang tinggal di lantai dasar seperti aku dan kawan-kawan. Karena pernah juga ada orang yang berusaha mencuri jemuran pakaian kami.
Kata kawanku, Sha’ban juga mempunyai rumah di kampung. Ia pernah diperlihatkan foto-foto keluarganya di kampung dan kondisi rumahnya seperti yang kami tempati. Berbeda dengan ruangan kecil yang sempit itu. Barangkali memang ada benarnya, karena di dalam ruangan kecil samping rumah kami itu ada lemari es, kompor gas, televisi dan mesin cuci model lama. Barang-barang yang dianggap cukup mewah di kampungku dulu. Kalau begitu mereka adalah keluarga yang pantang mengeluh dan bersahaja atau mereka punya alasan lain untuk bertahan di situ.
Kawan-kawan yang pernah tinggal di rumah kami pasti akrab dengan keluarga tersebut. Bahkan kawan yang sudah lama pulang ke tanah air pun mereka masih ingat. Mereka sering bercerita tentang orang-orang yang tinggal di rumah ini. Sudah belasan tahun rumah ini disewa oleh mahasiswa Indonesia secara turun temurun. Angkatan yang baru menggantikan mereka yang kembali ke tanah air dan seterusnya. Selain posisinya strategis dekat jalan besar, tuan rumah kami termasuk murah memberi harga sewa. Sekarang saja harga sewa flat kami 400 pound per bulan, sementara rumah-rumah lain di daerah itu sewanya paling murah 500 pound bahkan ada yang menawarkan sampai 1000 pound sebulan dengan fasilitas lengkap. Tuan rumah kami yang seorang janda mengatakan sudah 13 tahun ini ia tidak menaikkan harga sewa rumahnya. Ia tidak mengatakan sebabnya.
Bersebelahan dengan rumah kami sekitar 10 meter, ada sebuah Masjid. Namanya masjid Shahabah. Masjid yang selalu ramai dengan jamaah ketika sholat, siang dan malam. Masjid itu tidak punya imam tetap sehari-harinya namun punya imam tetap untuk Sholat Jum’at. Tampaknya imam itu tinggal jauh dari daerah kami. Sehingga ia datang pada hari biasanya menjadi Imam pada hari Kamis, Jum’at dan Sabtu. Sedangkan hari-hari lainnya para jamaah yang mempunyai bacaan lebih bagus dan hafal Qur’an bergantian menjadi imam.
Sehari semalam sholat lima waktu tidak pernah kurang dari tiga baris. Yang menjadi jamaah pun bermacam-macam. Aku sering menerka dari mana mereka berasal dari bentuk wajah, bahasa dan pakaian yang mereka pakai ketika bicara dengan kawan sesama negaranya. Sehingga aku terbiasa menerka orang-orang yang kujumpai di kampus maupun di mana saja sejak aku tinggal di Kairo, walaupun kadang meleset.
Bermacam bangsa, bahasa dan warna kulit bersatu dan berbaur ketika sholat berjamaah. Aku merasakan keindahan yang belum pernah kurasakan ketika di kampung. Ada orang Amerika, Inggris, Perancis, Rusia dan negara-negara pecahannya, Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, Pakistan, Maladewa, negara-negara dari benua hitam Afrika, dan yang terbanyak orang-orang Arab. Tidak ada diskriminasi, tidak ada masalah dengan warna kulit, dan rasisme akan mentah di masjid Shahabah. Semua sama di hadapan Allah. Sungguh indah. Kalau ada waktu silahkan datang ke tempat kami.
Lucu juga ketika melihat orang Inggris dan Perancis bercakap-cakap satu sama lain. Mungkin karena merasa sama-sama dari Eropa mereka tampak lebih akrab. Suatu saat saya melihat mereka bercakap-cakap. Orang Inggris itu tidak bisa bahasa Perancis begitu sebaliknya. Mereka terbata-bata menggunakan bahasa Arab karena belum lancar. Aku terenyum simpul, beginilah kalo bule-bule bicara bahasa Arab, tampak kesusahan. Tapi tidak sedikit juga yang aku lihat lancar, terutama mereka yang sudah lama tinggal di Mesir. Kebanyakan mereka membawa keluarganya untuk hijrah ke Mesir karena ingin belajar Islam dan bahasa Arab lebih dalam.
Suatu ketika ada seorang muslim Perancis yang membuat saya terharu dengan kegigihannya. Namanya Badr, seorang lumpuh yang harus berjalan dengan kursi roda. Jenggotnya hitam lebat, umurnya sekitar 30-an. Pertama kali ia hanya sholat di depan tangga Masjid. Kemudian para jamaah lain tahu hal itu, sehingga mereka menolongnya dengan mengangkat kursi rodanya melewati tangga agar ia bisa sholat di dalam masjid. Biasanya ia ditemani Isa, seorang "Bilal bin Robah" asal Inggris yang juga kawannya serumah. Beberapa hari kemudian Isa membuatkan landasan dari kayu di atas tangga agar bisa dilewati kursi rodanya. Itu lebih memudahkannya. Pada dasarnya ia berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. Meskipun ketika naik Isa masih membantunya, namun ketika turun ia berusaha sendiri. Pernah sekali aku memegang kursi rodanya agar dia tidak tergelincir ketika turun, tapi ia menolaknya. Kursi roda itu aku lepas lagi untuk menghormatinya. Aku faham perasaannya. Ia tentu ingin berusaha sendiri sebisa mungkin, dan ia memang tidak jatuh, mungkin sudah pengalaman. Ia rajin sholat di masjid, bahkan saat subuh dingin mengigit tulang.
Aku pernah memuji negaranya, Perancis adalah negeri yang indah. Ia malah menyangkal, “Oh tidak saudaraku, di sini lebih baik, aku bisa beribadah lebih tenang. Di Perancis banyak maksiat.” Malah ia mengatakan ingin hijrah ke Mekkah agar bisa mendapatkan pahala yang berlipat-lipat ketika berjamaah di Masjidil Haram. Oh, aku terkesima. Semangat hidup terpancar jelas dari kedua matanya. Senyumnya yang selalu tersungging mengiringi semangat itu. Membuatku malu dengan keadaanku yang tanpa kursi roda.
Suatu ketika aku minta doa dari Badr karena akan menghadapi ujian. Ia berjanji akan mendoakanku dan menyarankanku untuk memelihara sholat malam. “Sholat malam akan membuatmu kuat dan tenang, aku sudah merasakannya,” Oh, sebuah pelajaran yang tak akan ku lupa dari seorang Badr, bule Perancis itu. Namun sudah satu bulan lebih aku tidak melihatnya lagi berjamaah. Aku juga tidak tahu ia pindah atau kembali ke negaranya karena Isa juga tidak terlihat. Waktu itu aku segan mencari tahu karena aku sendiri sibuk mempersiapkan ujian. Yang belum terpenuhi sebelum Badr pergi adalah kami saling beziarah ke rumah masing-masing. Aku pernah menolak tawarannya untuk berkunjung ke rumahnya karena besok akan ujian. Rupanya kesempatan itu tidak datang dua kali, karena aku makin banyak kegiatan. Semoga Allah selalu melindungimu, Badr.

Nasr City, Kairo, 26 April 2006   

SUQ SAYYARAAT

Friday, April 28th, 2006

Lapangan Sepak Bola Terbesar di Dunia

Coba Anda sebutkan negara mana yang penduduknya tidak gandrung sepakbola? Barangkali kita susah menjawab pertanyaan itu, karena hampir di setiap belahan bumi ini orang-orang mencintai sepak bola. Begitu juga Mesir, yang Timnasnya baru saja memenangkan perebutan Piala Afrika sekitar bulan Februari 2006 yang lalu. Mereka mengalahkan Cote d’Voire dalam adu pinalti yang menegangkan.
Anda mungkin pernah mendengar Stadion Old Trafold yang megah dan mampu menampung puluhan ribu penonton itu. Stadion kebanggaan warga Manchaster. Namun, ia hanya mampu menampung sekali pertandingan dalam satu waktu.
Sekitar 200 meter dari rumah saya di Hay el-Asyir, Nasr City ada sebuah lapangan sepak bola yang bisa menampung sedikitnya 10 match dalam satu waktu. Meskipun kemegahannya sangat jauh jika dibandingkan dengan Old Trafold namun semangat para pemainnya tidak kalah dengan tim-tim yang bertanding di Premier League-nya Inggris. Namanya Suq Sayyaraat yang berarti pasar mobil. Ya, aslinya memang bukan lapangan sepak bola, juga bukan pasar mobil. Kawasan itu adalah lahan yang dikosongkan untuk jalur kabel listrik tegangan tinggi. Kemudian agar tidak kosong, kawasan itu di aspal dan dibangun untuk pasar mobil. Tepat di bawah kabel-kabel tegangan tinggi itu dibuat  taman berpagar besi setinggi 1,5 meter. Setiap Jum’at dan Minggu Suq Sayyaraat selalu penuh dengan mobil yang akan dijual atau dibeli.
Ukuran panjang Suq Sayyarat kira-kira 500 meter. Terdiri dari dua bagian disamping kanan dan kiri kabel. Tiap-tiap bagian mempunyai lebar kira-kira 80 meter. Di tempat itulah setiap sore anak-anak, pemuda dan orang dewasa berbagai bangsa biasa bermain bola. Warga Mesir, orang Indonesia, Afrika, Rusia dan Eropa biasa menggulirkan si kulit bundar di sana. Pada musim panas mereka yang ingin bermain bola harus datang lebih awal bersama timnya agar bisa mendapatkan tempat paling rata dan strategis. Beberapa tim bahkan membawa gawang sendiri yang dibuat dari potongan pipa yang disambung-sambung. Kebanyakan yang punya gawang adalah tim-tim dari Afrika, seperti orang Somalia, Nigeria dan lain-lain. Ada juga mahasiswa Indonesia yang mempunyai gawang dan rutin berlatih hampir tiap sore di sana. Yang tidak punya gawang dan klub biasanya memakai batu sebagai gawang, layaknya permainan bola kampung. Di antara mereka bahkan mempunyai kostum khusus, barangkali klub kecil-kecilan. Sedangkan yang tidak punya klub atau tidak kebagian tempat karena terlambat bisa bergabung dalam match dadakan, yang kadang bisa mencapai 20 orang melawan 20 orang. Yang penting enjoy dan bisa bermain.
Bermain sepakbola di Mesir tidak seperti di kampung-kampung negeri kita yang lapangannya rumput dan gratis. Jika ingin mendapat lapangan rumput Anda harus merogoh kocek sekitar 20-50 pound per-jam (1 pound Mesir = sekitar 1.700 Rupiah), tergantung luas lapangan dan kualitas rumputnya. Maka bagi klub-klub kecil yang ingin mengirit dana kebanyakan memilih Suq Sayyarat yang gratis untuk berlatih, meski harus siap dengan lutut perih jika terjatuh. Meski resiko jatuh, Suq Sayyarat seakan menjadi idola bagi para pecinta bola di sekitarnya.
Pada pagi hari biasanya hanya sedikit orang yang bermain bola di sana. Kecuali hari Jum’at dan Minggu Suq Sayyaraat menjadi track jogging, dan area jalan-jalan sekedar rileks menghirup udara terbuka yang masih segar. Kadang-kadang saya juga lari-lari kecil mengelilingi lapangan besar itu. Tidak sedikit juga kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang saya lihat membawa buku dan belajar di sana. Seringkali sambil komat-kamit menghafal sesuatu.
Dua bulan yang lalu ada dua kafe di sisi kanan dan kiri Suq Sayyarat, dekat dengan jalan yang mengeilingi lapangan besar itu. Kedua kafe itu buka tiap petang sampai menjelang subuh. Di malam-malam libur, terutama musim panas Suq Sayyarat ramai oleh para pelanggan kafe yang menikmati Syisya (sejenis rokok khas Arab yang dihisap melalui pipa sepanjang satu meter) dan berbagai makanan serta minuman yang disediakan. Laki-laki, perempuan dan anak-anak biasanya duduk-duduk di sana, bahkan sampai menjelang subuh.
Hanya diterangi oleh lampu jalan berwarna kekuningan yang ada di sepanjang tepian Suq Sayyaraat, meja dan kursi kafe ditata menyebar hampir separuh lapangan itu. Teredia juga beberapa ayunan dan kuda-kudaan yang disediakan untuk bermain anak-anak. Di dalam kafe itu ada juga beberapa meja biliard yang tiap malam dipakai bermain oleh pelanggannya, entah dengan menyewa atau gratis, saya belum pernah bermain di sana.
Kedua kafe itu juga menyediakan televisi 29 Inch yang sering digunakan untuk menyaksikan pertandingan sepakbola  baik Liga Inggris, Liga Italia atau Piala Champion.
Namun jika klub-klub besar Mesir, seperti al-Ahly atau Zamalek bertanding jangan harap bisa melihat pertandingan klub-klub Eropa. Orang Mesir jauh lebih suka klub lokal daripada klub-klub asing. Pemain kebanggan mereka, Mido, kini merumput di Premier League Inggris.
Sekarang kedua kafe itu tidak ada, hanya menyisakan dua kios kecil yang kosong. Sekitar dua bulan lalu pemerintah setempat menggusur kedua kafe itu. Sebab pastinya kurang jelas, namun terdengar desas-desus kalau kedua kafe itu masing-masing mempunyai tanggungan utang pajak sebesar 30.000 Pound Mesir. Aneh juga padahal kafe-kafe itu selalu ramai setiap malam, dan saya yakin pendapatan mereka juga besar. Bahkan sebuah rumah makan Thailand juga menyewa tempat pada pemilik kafe itu beberapa bulan sebelum digusur.
Kini, Suq Sayyarat yang hingar-bingar di sore hari, selalu sepi ketika malam. Hanya lolongan beberapa anjing gurun yang kerap memenuhi tempat itu. Beberapa lampu juga padam sehingga menimbulkan kesan temaram. Kawan-kawan mahasiswa Indonesia jika lewat tempat itu pada malam hari menghindari sudut-sudut yang gelap dan sepi. Di sudut-sudut yang gelap itu sering digunakan orang-orang tak jahat untuk merampas harta orang yang lewat, terutama jika sendirian. Beberapa kali terdengar kawan-kawan mahasiswa Indonesia dan Malaysia dirampok. Ada yang pasrah dan ada yang melawan sampai babak belur. Untuk menghindarinya jika berjalan sendirian harus memutar melewati trotoar tepi jalan raya yang ramai.  Yang kasihan orang Malaysia karena asrama mereka terletak di ujung Suq Sayyaraat sebelah dalam, agak jauh dari jalan raya. Kalau ingin pilang malam hari mereka harus memutar di pemukiman penduduk yang ramai, kecuali nekat. Syukur-syukur para pemalak itu sedang malas.   

Nasr City-Kairo, 26 April 2006

Tidakkah Cukup

Friday, April 28th, 2006

Apa yang hendak engkau cari?
Uang?
Masih banyak jalan
Ketenaran?
Juga tidak sedikit cara lain
Hidup ini singkat saja
Kau pasti tahu maut akan datang
Tapi mungkin engkau tak sadar…
saat ia begitu saja menjemputmu
Orang hanya butuh sejengkal tanah untuk menguburmu
Bukan uang, ketenaran, atau playboymu itu

Nasr City-Cairo, 11 Februari 2006

Aduh Negeriku

Sunday, April 16th, 2006

Aduh…negeriku
Bukan lautan tapi kolam susu
Tongkat dan Batu Jadi Tanaman*

Aduh…negeriku
Negri surga zamrud khatulistiwa
Kini Merana

Aduh…negeriku
Menumpuk Utang
Tak terbayar

Aduh..Negeriku
Utang proyek
Untuk sunatan Massal

Aduh…Negriku
Sawah menghampar
penuh tikus menggelepar

Aduh..Negeriku
Tikus-tikus rakus
tak tahu malu

Aduh…negeriku
yang ku tahu
pun tikus tak rakus-rakus

Aduh…negeriku
Tikus makan rakus
siapa yang akan mampus?

Aduh…aduh…aduh….
Negeriku…negeriku…

Kairo, 12 April 2006

Perjalanan Hidup Adalah Belajar

Tuesday, April 11th, 2006

Tulisan ini yang pertama kali saya tulis untuk berbagi kebahagiaan (tahadduts binni’mah). Agar kebahagiaan yang saya pernah rasakan juga bisa dirasakan oleh yang lain, mudah-mudahan suatu saat juga akan merasakan kebahagiaan yang sama.
Kemarin, hari Jum’at (31/3) saya diundang oleh kawan saya untuk ikut majelis semaan dan khataman al-Qur’an Jantiko Mantab di Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCI-NU) Mesir. Mendengar Jantiko Mantab saya teringat dengan kota kecil nan permai, kota kelahiran saya Jombang. Dahulu saya sering melihat pelaksanaan majelis semaan dan khataman al-Qur’an ini, bahkan yang membuat saya takjub acaranya diadakan di Polres Jombang dan polsek di beberapa kecamatan. Tampaknya acaranya  cukup diminati banyak orang karena disana para penghafal al-Qur’an (al-huffadz) berkumpul dalam komunitas Jantiko Mantab. Kata kawan saya itu Jantiko Mantab adalah sebuah akronim, tapi saya lupa itu akronim dari apa.
Awal ide pengadaan Jantiko Mantab ini adalah bagaimana membentuk sebuah komunitas pembaca al-Qur’an. Pertamanya memang mengambil konsep Jantiko Mantab di Indonesia sehingga namanya pun disamakan karena para hafidz belum terkumpul semuanya. Namun dalam pelaksanaannya secara struktural pelaksanaan majelis khataman di PCI-NU Mesir ini tidak ada hubungan dengan di Indonesia.  Jika suatu saat nama itu dirasa perlu diubah maka akan dibicarakan dengan para anggotanya.
Waktu itu saya tidak terlalu peduli dengan hal itu (Jantiko Mantab) karena tidak terlalu faham bagaimana ini dan itu. Saya dari kecil terdidik dalam sekolah umum yang minim pelajaran agama, SD, SMP, dan SMU. Untunglah Bapak dan Ibu (semoga mereka selalu dirahmati oleh Allah) sejak kecil selalu menanamkan ajaran agama pada saya semampu mereka. Karena saya perhatikan Bapak dan Ibu saya bukanlah orang yang pandai agama. Mereka hanya orang-orang biasa yang hanya sedikit faham tentang fikih, tentang bagaimana bermuamalat dalam Islam dan yang lainnya. Latar belakang keluarga saya bukanlah keluarga santri tulen. Orang tua saya bisa dikatakan masih tergolong awam. Yang saya rasakan paling berkesan adalah bahwa sejak kecil saya selalu diajari untuk tidak meninggalkan sholat dan diajari membaca al-Qur’an. Lingkungan kampung kecil saya juga ikut membentuk perkembangan saya sejak kecil. Lingkungan yang cukup agamis namun belum ada ulama mumpuni.
Ketika SMU saya sangat bersyukur bisa tinggal di pesantren (PP Sunan Ampel, Jombang) dan siangnya sekolah di SMUN 2 Jombang. Sejak itu sedikit-sedikit saya diajari untuk mengenal lebih dekat agama yang saya anut sejak lahir. Saya sedih jika mengingat banyak sekali umat Islam yang tidak (mau) mengenal ajaran agamanya dengan baik. Bukan berarti saya berpendapat bahwa setiap anak harus masuk pesantren. Namun bagaimana menciptakan sebuah generasi yang mempunyai kualitas keilmuan umum baik juga faham tentang agama. Saat ini dibutuhkan ilmuwan sekelas ahli kedokteran Ibnu Sina (Avicena) yang juga seorang agamawan. Di Indonesia saya melihat Baharuddin Jusuf Habibie adalah seorang tekhnokrat yang juga santri. Di zaman Rasulullah, Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu adalah seorang negarawan dan politikus yang agamawan. Dengan begitu ilmu yang ada pada diri mereka digunakan untuk kesejahteraan umat bukan untuk kepentingan diri sendiri seperti banyak terjadi. 
Benar sekali kata ustadz yang mengajar saya. Islam itu memang dibangun di atas landasan rukun Iman dan Islam namun di sana juga ada tuntunan bagaimana beribadah, bermuamalah (kehidupan sosial), berakhlak, dan segala hal menyangkut kehidupan. Sedangkan kehidupan di dunia ini adalah jembatan menuju akhirat. Semuanya terangkum dalam al-Kitab dan al-Hadits. Dalam Islam semuanya sudah lengkap diajarkan oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam sebelum beliau wafat. Ustadz saya itu mengkiaskan rukun Iman dan rukun Islam itu sebagai pondasi dan pilar sebuah rumah, sedangkan muamalah, akhlak, dan yang mendukung kehidupan beragama kita sebagai dinding dan atap serta hiasan-hiasan lainnya. Jika seorang muslim mampu melihat itu semua sebagai sebuah kesatuan yang utuh maka Islam dalam diri kita bagaikan sebuah rumah yang terbangun secara lengkap.
Kembali pada undangan tadi, awalnya saya tidak begitu respek atas undangan kawan saya itu, dan Jantiko Mantab sudah berjalan dua kali tapi saya tidak hadir. Alasannya saya belum hafal Qur’an dan anggapan saya bahwa Jantiko Mantab itu komunitas para penghafal (hafidz) al-Qur’an. Terus terang saya merasa agak minder. Tapi teman saya itu mengingatkan bahwa di sana akan dibutuhkan penyimak yang membawa mushaf, jadi saya sedikit berbesar hati. Untuk memantapkan niat saya teringat sebuah pepatah jika berkumpul dengan penjual ikan maka kita akan bau ikan namun jika kita berkumpul dengan penjual minyak wangi maka kita juga akan ikut wangi. Dari sinilah saya berfikir barangkali saya juga akan tertular dan termotivasi untuk menghafal al-Qur’an. Amin. Yang paling utama adalah seseorang yang membaca mendengarkan dan menyimak orang membaca al-Qur’an pahalanya sama dengan pembacanya.
Dalam acara itu berkumpul lebih dari 10 orang hafidz dan sekitar 30 lebih penyimak yang sebagian juga hafal beberapa juz. Total semuanya sekitar 40 orang lebih dan itu tidak hanya warga NU saja namun ada juga beberapa huffadz dari luar NU. Menurut koordinatornya, salah satu tujuan Jantiko Mantab diadakan di Mesir ini adalah untuk menjaga kebersamaaan kita sebagai umat Islam Indonesia di Mesir. Saya sendiri karena belum hafal mendapat tugas menyimak dengan membawa mushaf. Ketika itu saya merasakan kenikmatan yang luar biasa berkumpul dan menyimak para hafidz membaca al-Qur’an di luar kepala. Seingat saya di pesantren dulu tiap bulan (berdasarkan tanggal hijriah, tapi saya lupa tanggal berapa) juga ada acara seperti ini namun karena acaranya pagi saya jarang sekali mengikuti karena harus sekolah. Biasanya kalau bertepatan dengan hari Minggu baru ikut menyimak. Namun rasanya tidak senikmat Jum’at yang lalu karena dulu para hafidznya membaca dengan sangat cepat sehingga saya sering tertinggal ketika menyimaknya. Berbeda dengan kemarin, para hafidz muda yang seumuran saya membacanya dengan tartil sehingga lebih menghayatinya.
Hari itu para hafidz dan penyimaknya dibagi menjadi sekitar 7 kelompok termasuk 2 kelompok putri. Sehingga dalam satu waktu al-Qur’an dapat dikhatamkan sebanyak tujuh kali. Khataman Qur’an juga merupakan tradisi para sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Sehingga Jantiko Mantab bisa menjadi wadah untuk melestarikan tradisi mengkhatamkan al-Qur’an di mana do’a setelahnya merupakan do’a yang maqbul.
Jum’at yang lalu penutupnya tidak dilaksanakan hari itu juga namun ditunda sampai esok harinya berbarengan dengan Istighotsah Kubro dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam.
Esoknya itstighosah Kubro dilaksanakan di Aula Griya Jateng. Yang hadir kurang lebih 300 orang. Benar-benar jumlah yang luar biasa. Waktu saya dating istighosah sudah dimulai beberapa menit. Etelah istighosah dilanjutkan lantunan Dzikir Ilahiyat yang ditulis oleh Ibnu Atho’illah as-Sakandari. Bagi saya dzikir dan doa yang dibacakan salah seorang panitia membuat saya benar-benar terenyuh. Terenyuh dengan kehidupan di masa-masa yang lalu. Dan saya pun menangis.
Acara pun tidak berhenti sampai sini saja. Lantunan sholawat dalam Dziba’iyah menngema seantero aula. Rasanya saya bernostalgia dengan kampong saya. Sudah lebih dari 2 tahun saya tidak pernah mengikuti Dziba’iyah sejak meninggalkan kampung halaman. Rasanya sungguh bahagia bias bersama-sama bersholawat untuk Nabi. Dalam acara ini hadir juga beberapa pejabat KBRI termasuk Kepala Perwakilan RI Ad Interim H. M. Muzammil Basyuni. Rasanya Kaliwungu tidaklah terlalu jauh dengan Kairo. Saya teringat masa-masa saya masik kanak-kanak. Setiap seminggu ekali kami mengadakan Sholawat dan Dziba’iyah yang berisi cerita kehidupan dan sifat-sifat Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Biasanya diiringi dengan rebana dengan irama yang rancak.
Setelah itu para hafidz pun menyelesaikan khataman al-Qur’annya dengan membaca mulai surat ad-Dhuha sampai terakhir an-Naas. Lalu dilanjutkan dengan do’a khotmil Qur’an. Do’a khotmil Qur’an ini adalah salah satu do’a yang mustajab. Dalam ceramahnya di acara ini DR. Mukhlis M. Hanafi, M. A. mengatakan bahwa sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu mempunyai mata-mata di masjid Madinah yang memberikan informasi padanya jika ada orang yang hendak mengkhatamkan al-Qur’an, kemudian Ibnu Mas’ud akan datang untuk mengamini do’a khotmil Qur’an di akhir khatamannya.
Acara ini juga menghadirkan DR. Mukhlis M. Hanafi, M.A. sebagai pembicara untuk memberikan mauidzhah Hasanah. Benar-benar luar biasa ilmunya. Seorang yang mempunyai ilmu tidak akan kehabisan bahan untuk disampaikan. Sebuah bulletin mahasiswa di Kairo yang pernah mewawancarai beliau menulis bahwa DR. Mukhlis .M. Hanafi, M. A. menggunakan 15 jam etiap hari untuk membaca buku.
Dalam ceramahnya beliau sangat memberikan apresiasi atas diadakannya rangkaian acara Memperingati Maulid Nabi dengan Istighosah Kubro, Khotmil Qur’an, Dziba’iyah, Teater, dan Launching Baku karya warga NU Muda. Beliau bangga melihat generasi muda NU di Kairo tidak berhenti berkarya.
Penghinaan atas Nabi di barat menurut beliau hanyalah hal yang biasa. Sejak Nabi Shalallahu alaihi wa sallam diangkat menjadi Rasul hinaan itu sudah menimpa Rasulullah. Bagaimana Nabi pernah diludahi kaum kafir Qurays, dilempar dengan kotoran, dan paling parah adalah dikatakan sebagai orang gila. Hinaan mana yng lebih hina daripada dianggap gila? Jadi apa yang dilakukan orang Denmark dan Norwegia seharunya menjadi momen penting untuk menggalang kesatuan umat Islam.
Bahkan dalam al-Qur’an, kata beliau, hinaan dari kafir Qurays itu tidak ditutup-tutupi namun ditulis dengan jelas dan diceritakan bagaimana Nabi dicaci oleh kafir Makkah.
Oleh karena itu dalam kesempatan itu beliau juga mengharapkan kepada para insane pers di Masisir untuk tidak menyingkat Shalallahu Alaihi Wa sallam setelah nama Rasul menjadi S.A.W.  karena itu merupakan pekerjaan para orientalis. Beliau menceritakan bahwa para orientalis itu ketika menterjemahkan manuskrip-manuskrip sering menyingkat shalawat atas Nabi dengan huruf Shad, Lam dan Mim. Beliau mengajak para jurnalis muda perbuletinan Kairo untuk memulai menulisnya secara lengkap dan tidak menyingkatnya. Setiap huruf dari apa yang kita tulis itu akan dihitung sebagai kebaikan.Satu kali kita berholawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam maka Allah akan memberikan kita 10 kebaikan. Subhanallah. Dan masih banyak lagi keutamaan bersholawat.
Sungguh malam itu saya mendapatkan pencrahan yang luar biasa. Saya terkesima -dan saya yakin hampir semua orang yang ada di ruangan itu mengalami hal yang sama dengan saya, terlihat dari ekspresi mereka- dengan penjelasan yang disampaikan DR. Mukhlis M. Hanafi, M. A. Begitu sarat dengan ilmu. Begitulah orang yang berilmu ketika berbicara tidak asal ngomong dan disertai dengan data serta dalil yang kuat . Dan itu membuat motivasi saya tumbuh kembali. Malam itu saya mulai menata kembali rel-rel yang berserakan untuk pemberhentian berikutnya.

Wassalam.
Kairo, 2 April 2006