Archive for March, 2006

Mitos Graono Srengenge (Gerhana Matahari)

Wednesday, March 29th, 2006

Dulu sewaktu saya masih kecil, saya tinggal di sebuah kampung yang damai bernama Kaliwungu. Sebagian besar penduduknya adalah para petani. Jalanan di kampung saya itu masih sering becek di musim hujan dan sebagian besar masih gelap jika malam hari. Kecuali beberapa warga yang secara sukarela memasang lampu neon di jalan depan halaman rumah. Sebetulnya tidak sedikit yang memasang lampu namun karena penduduknya juga tidak terlalu padat dan masih banyak pekarangan kosong sehingga kalo malam gelap gulita.

Di dekat rumah saya ada langgar (surau) kecil. Setiap selesai sholat Isya’ beberapa orang masih mengobrol sampai malam. Jika malam Minggu atau malam libur lainnya anak-anak pun biasanya membentuk kelompok sendiri di halaman depan langgar yang cukup luas namun remang-remang karena penerangan yang minim.

Saya masih ingat waktu itu saya dan kawan2 bermain di teras surau sehabis sholat Isya’. Halaman tampak terang benderang karena bulan purnama. Tiba-tiba salah satu dari orang tua yang menemani kami seingatku berkata begini,"He iko lo ono graono mbulan, ben cepet dhuwur mene’o watang utowo wit-witan." (Hai, itu ada gerhana bulan. Kalo pengen cepet tinggi memanjatlah galah atau pohon). Itulah mitos orang-orang tua di kampung. Karena kebanyakan mereka berpendidikan rendah. Kami yang masih kecil ketika itu pun tidak berpikir panjang. Ada yang naik pohon kelapa walaupun tidak sampai puncaknya, ada yang bergelantungan di atas dahan pohon, ada yang bergelantungan di palang pintu, saya sendiri bergelantungan di cabang pohon jambu. Kata orang tua-tua waktu itu jangan turun sebelum gerhana berakhir. Tapi dasar anak kecil ada yang tidak kuat, saya sendiri hanya sebentar sudah meloncat turun. Namun kami semua berharap dalam hati agar tubuh cepat tinggi. Kami sendiri sebenarnya tidak tahu apakah hal itu benar atau hanya orang-orang dewasa itu bergurau karena ketika kami bergelantungan mereka tampak senyum-senyum memandangi tingkah polah kami. Kata mereka mitos itu memang sejak dulu dihembuskan di kalangan warga kampung. Kalo ingin tubuh cepat tinggi, memanjatlah sesuatu jika ada gerhana.

Setelah bertahun-tahun saya baru menyadari bahwa apa yang dikatakan para orang tua kampung kami itu masuk akal. Saya seirng tersenyum sendiri jika mengingatnya. Itu hanyalah permainan kata-kata yang bisa menipu anak-anak kecil. Kalau di nalar secara logika orang yang memanjat pohon otomatis akan lebih tinggi dari orang lain. Sungguh tega orang-orang itu mengerjai kami. :) Namun kami yakin kebersamaan di kampung saya Kaliwungu akan terkenang sepanjang hayat.

Itu hanya prolog untuk mengenang masa kecil yang indah. Kemarin siang setelah sholat Dhuhur di Masjid Shohabah dekat rumah, seorang jamaah mengingatkan bahwa ada Gerhana Matahari. Mesir merupakan salah satu negara yang dilewati gerhana Matahari pada 29 Maret 2006 sekitar pukul 12.00. Jamaah itu mengingatkan bahwa Rasulullah mengajarkan kita agar melakukan sholat sunnah gerhana matahari (Sholat Kusuf).

Pada zaman Rasulullah SAW pernah terjadi gerhana Matahari yang bersamaan dengan meninggalnya putra beliau Abdullah. Kala itu Rasulullah segera berseru bahwa gerhana Matahari adalah peristiwa alam biasa dan tidak ada hubungannya dengan kematian seseorang. Begitulah ajaran Islam yang mengajarkan kita agar tidak mempercayai mitos dan mengajak agar berfikir ilmiah terhadap fenomena alam.

Setelah diceritakan tentang gerhana matahari pada masa Nabi. Para jamaah yang belum meninggalkan masjid melakukan sholat sunnah Kusuf. Inilah sholat sunnah gerhana pertama kali dalam hidup saya. Sejak kecil saya selalu belajar teori tentang sholat gerhana namun tidak sekalipun saya mempraktekkannya ketika di Indonesia walaupun ketika itu beberapa kali terjadi gerhana matahari dan bulan.

Sholat gerhana Bulan/Matahari dilaksanakan dua rakaat. Yang membedakan dengan sholat sunnah lainnya tiap rakaat dilakukan ruku’ dua kali dan bacaan Fatihah serta surat pendek dinyaringkan seperti sholat Jum’at.

Gerhana matahari adalah fenomena alam yang langka terjadi. Namun itu hanyalah fenomena biasa yang terjadi karena posisi sejajar Bumi, Bulan dan Matahari. Jadi tidak ada alasan apapun untuk mengaitkan gerhana dengan kejadian tertentu atau kematian seseorang.

Anehnya sampai saat ini ada juga yang masih mempercayai bahwa jika ada gerhana Matahari wanita hamil tidak boleh keluar rumah karena bisa menyebabkan janinnya buta. Seperti di India. Juga jika memasak sebelum gerhana makanan tersebut harus dibuang karena dipercaya mengandung racun dan orang yang membawa senjata saat gerhana dipercaya akan bunuh diri. Padahal ilmu pengetahuan sudah menerangkan tentang proses gerhana itu.

Menurut pandangan subyektif saya bisa jadi orang akan bunuh diri malah karena ia percaya mitos tersebut. Sehingga secara psikologis ia akan tertekan dan tergerak untuk bunuh diri. Keyakinan yang salah akan berakibat fatal. Bagaimana mungkin hal itu dianggap benar. Kalau saja benar, barangkali polisi-polisi dan tentara di negara-negara yang dilewati gerhana akan menembak kepalanya sendiri. Nyatanya tidak!

Cairo, 30 Maret 2006

04:21