Kencan Satu Jam Bersama Nil
Mesir adalah anugerah sungai Nil, begitulah pepatah mengatakan. Nil merupakan urat nadi Mesir selama berabad-abad. Nil juga saksi bisu perjalanan sejarah kebudayaan manusia dari masa ke masa. Sejak zaman Mesir kuno kebutuhan air penduduknya ditopang oleh sungai terpanjang di Afrika ini. Dalam sejarah Islam, bayi Nabi Musa A.S. juga pernah dihanyutkan di sungai ini sebelum ditemukan oleh keluarga kerajaan Fir’aun.
Bagi para pelancong, rasanya kurang afdhol tanpa jalan-jalan dan naik perahu di sungai ini. Lokasi sungai Nil di Kairo yang sering dikunjungi pelancong lokal maupun mancanegara terletak di daerah Tahrir, terkenal dengan julukan Kornich Nile. Daerah ini mudah dicapai karena berdekatan dengan Terminal Bus dan area perhotelan. Tahrir adalah jantung keramaian di Kairo. Pertokoan, hotel dan
Egyptian
Museum bisa anda temui di sini.
Waktu berkunjung yang paling menarik adalah mulai petang hingga larut malam. Pada waktu petang anda bisa menyaksikan matahari terbenam dengan cahayanya yang memantul di permukaan air berlatar
Cairo Tower . Sedangkan di malam hari sungai Nil menjadi indah karena berhias lampu warna-warni baik dari perahu-perahu sewaan maupun restoran-restoran dan café terapung.
Di tepiannya terdapat trotoar yang cukup lebar untuk pejalan kaki, dibatasi dengan pagar besi setinggi dada sepanjang jalur. Selain itu tempat duduk dan gazebo juga disediakan bagi anda yang ingin bersantai dan melepas lelah. Lampu-lampu jalanan berwarna kekuningan berderet rapi baik menghadap jalan raya maupun trotoar menambah indah suasana. Beberapa pepohonan juga tumbuh di pinggiran Nil.
Pada malam Jum`at atau musim-musim liburan sekolah, daerah ini selalu ramai dikunjungi pelancong. Bagi anda yang membawa pasangan di pinggiran sungai Nil, malam hari adalah saat yang tepat untuk menghadiahkan sekuntum mawar untuk pasangan anda. Untuk mendapatkannya tidak sulit karena biasanya banyak penjual bunga menawarkan dagangannya pada setiap pasangan yang ditemui. Dan bersiaplah untuk menghadapi rayuan dan kegigihan para penjual bunga dalam menawarkan dagangannya ketika anda tidak berniat membelinya. Selain penjual bunga, anda juga akan menemukan penjual makanan kecil dan minuman.
Anda juga bisa menikmati keindahan sungai Nil dan pusat
kota Tahrir dengan menyewa kereta kuda beroda empat. Beberapa kereta itu menunggu penumpang di pinggiran trotoar. Anda bisa pergi ke mana anda suka, tergantung berapa anda berani menyewa atau nego.
Rasanya janggal jika anda melewatkan kesempatan untuk naik perahu yang akan membawa anda menyusuri Nil. Ada bermacam-macam perahu ditawarkan, mulai dari perahu layar yang biasanya disewa secara pribadi, perahu bermotor berkapasitas lebih kurang 40 orang, perahu motor besar berukuran sekitar 20 kali 5 meter, hingga restoran berjalan yang mewah. Yang paling diminati adalah perahu motor, karena dengan harga tiket terjangkau kita bisa dibawa keliling daerah sepanjang Kornich Nile yang pinggirannya dipenuhi hotel menghadap sungai.
Untuk perahu motor berkapasitas 40 orang anda bisa membeli tiket seharga LE 2,00 (dua Pound Mesir, 1 Pound sekitar 1700 Rupiah) per kepala. Sedangkan untuk perahu motor besar harga tiketnya berbeda yaitu LE 6.00, dengan fasilitas dek atas yang terbuka dan servis menyisir permukaan Nil lebih jauh dari pada perahu motor kecil.
Tiket bisa dibeli di jalan masuk ke perahu. Beberapa orang akan menawarkan pada anda. Kemudian anda bisa langsung naik setelah menyerahkan tiket pada petugas. Namun, anda harus bersabar menunggu perahu dipenuhi penumpang. Penantian seperti ini membutuhkan kesabaran anda. Di Mesir, setiap menghadapi suatu urusan kita harus siap dengan sebuah kunci bernama kesabaran. Bagi masyarakat Indonesia di Mesir khususnya mahasiswa rasanya sudah sangat akrab dengan kunci tersebut, mulai dari lalu lintas hingga mengurus visa pelajar. Bukan suatu hal yang mengherankan jika seorang mahasiswa yang telah mengantri sehabis subuh sampai pukul 2 siang terpaksa harus pulang dengan tangan kosong. Lebih baik menggunakan kunci tersebut daripada menyiksa diri dengan menggerutu. Dan masih banyak hal-hal lainnya yang membutuhkan kesabaran.
Penulis mencoba naik perahu motor besar pada 2 Juli 2005 yang lalu bersama seorang teman. Pada saat penulis masuk perahu, baru ada 8 orang penumpang. Naik sekitar pukul 21.15, kami harus menunggu sampai pukul 22.30 baru perahu diberangkatkan. Walaupun tidak terlalu penuh namun cukup ramai. Sekitar 50 orang yang naik, kursi kayu yang ditata di tepian dek berhadapan dengan kursi tengah tampak agak longgar.
Para penumpang bisa leluasa berpindah-pindah tempat duduk.
Untuk menghilangkan kebosanan anda yang membawa kamera bisa membidik tempat-tempat menarik yang berhias lampu-lampu. Anda juga bisa memesan teh panas atau minuman ringan pada awak perahu. Namun bagi anda yang membawa pasangan, keadaan seperti itu tidak akan terlalu bosan untuk menghabiskan waktu bersama, diayun-ayun gelombang perahu lain yang melintas.
Tampaknya semua penumpang memilih dek atas karena dek bawah kosong sama sekali. Mungkin ini keistimewaan perahu motor besar dibanding dengan yang lebih kecil. Semua perahu motor-besar atau kecil-dilengkapi dengan sound system untuk menyetel lagu-lagu Arab. Perahu yang kami tumpangi mempunyai sound system yang cukup besar terletak di bagian depan dek. Dek atas itu tanpa atap, diterangi beberapa lampu neon yang ditopang dua tiang dan hanya dihubungkan kabel. Penerangan tersebut didesain untuk bisa dibongkar pasang dengan cepat. Dibongkar? Untuk apa?
Ketika perahu mulai melaju, dentuman lagu-lagu khas Arab dari sound system mulai diputar. Lagu-lagu itu diputar bervariasi mulai lagu tradisional dengan permainan gendang yang rancak dan lengkingan khas orang Arab, Zaghrudah, hingga lagu modern dengan irama disko. Lagu-lagu tradisional seperti itu sering penulis dengar diputar pada acara pernikahan. Tanpa komando, beberapa penumpang yang sejak menunggu duduk manis, tiba-tiba mendekati sound system dan berjoget pinggul ala Mesir. Kemudian penumpang yang lain, laki-laki dan perempuan yang kebanyakan kaum muda, mulai ikut nimbrung, hanya sekedar melihat lebih dekat atau ikut bergoyang.
Budaya goyang pinggul –warga setempat menyebutnya Baladeyya- seperti itu tampaknya adalah hal yang biasa bagi warga Mesir. Berbeda dengan orang
Indonesia yang seringkali merasa "aneh" dengan goyang pinggul. Terlihat oleh penulis beberapa perempuan berjilbab dan bahkan yang memakai cadar juga ikut melantai meskipun hanya sebentar. Sementara penumpang lain yang duduk ikut bertepuk tangan. Saat itu, juga tampak orang
India dan beberapa warga asing lain duduk di antara penumpang. Semua terlihat menikmati acara dadakan yang biasa ditemui setiap perahu membawa penumpangnya.
Setelah sekitar 10 menit perahu berjalan ke arah hilir, awak kapal meminta waktu sebentar agar penumpang duduk kembali ke tempat semula dan bersiap-siap menundukkan badan karena akan melewati jembatan rendah. Nah, saat inilah lampu-lampu dan sound system diturunkan. Pada saat melewati jembatan besi yang dilewati kereta listrik dan kendaraan lain itu, semua penumpang harus menundukkan badan. Bahkan kebanyakan turun dari kursi dan berjongkok di lantai dek karena tidak ingin terbentur bagian bawah jembatan. Tinggi perahu dan jembatan hanya berjarak sekitar 0,5 meter. Penulis membayangkan tentu perahu ini tidak akan bisa melewati jembatan tersebut jika air sungai meluap setengah meter atau lebih.
Setelah berhasil melewati jembatan, beberapa penumpang bersorak gembira, lampu dipasang kembali, musik diputar, dan goyang pinggul dilanjutkan. Beberapa penumpang dengan Handycam dan tustel mengambil gambar pesta kecil itu. Sekitar 10 menit kemudian sebuah keluarga tampak merayakan ulang tahun anak mereka di atas dek. Mereka memotong kue yang telah dipersiapkan dari rumah, tetap diiringi goyang pinggul yang semakin meriah.
Perahu pun tetap melaju ke hilir sungai.
Para penumpang seringkali melambaikan tangan jika ada perahu lain yang melintas, tidak jarang juga patroli Polisi Air pun tidak luput dari lambaian penumpang. Di kiri kanan sungai tampak hotel-hotel berbintang yang dibangun menghadap sungai. Juga restoran-restoran terapung memancarkan cahaya warna-warni. Villa-villa mewah juga tampak megah dibangun di beberapa tempat di bibir sungai. Bahkan ada yang lengkap dengan dermaga dan speed boat.
Sekitar 20 menit perjalanan, perahu memasuki daerah delta sungai Nil yang lebih sepi dan lebih gelap. Dari pengamatan penulis, daerah delta tidak dihuni untuk perumahan. Hanya ada beberapa pabrik dan bangunan yang tampak gelap karena hanya ada sedikit penerangan. Sedangkan di sisi lain sungai tampak perumahan-perumahan bertingkat yang lebih sederhana dari pada di daerah Tahrir. Jalan raya di sisi sungai adalah jalur menuju daerah Sub Urban Kairo, Shubra el-Kheimah, yang terkenal dengan produksi Kristal Asfour.
Kira-kira sepuluh menit kemudian perahu memutar haluan kembali ke dermaga semula di hulu. Perjalanan pergi-pulang memakan waktu sekitar satu jam lebih. Selama itu musik dan goyang pinggul terus menemani perjalanan anda. Anda dapat menikmati keindahan Kairo di malam hari. Kairo akan lebih indah di malam hari dengan lampu-lampu warna- warni yang menghiasi hampir tiap sudut bangunan. Dengan biaya yang terjangkau -dan kesabaran menunggu- anda bisa menikmati perjalanan menarik untuk "mengencani" sungai Nil di malam hari. Jangan lupa bawa kamera anda!(FZ)