ANTARA TERIAKAN DAN TANGISAN DI MASJID ‘AMR BIN ‘ASH

Mesir yang terkenal dengan negeri seribu menara tidak akan pernah lekang dari keunikan. Sejarah membuktikan bahwa Mesir adalah bangsa yang berperadaban tinggi jauh sebelum negeri kita mempunyai peradaban. Sejak zaman Pharaonic, Hellenistik yang dibawa dari Yunani, Romawi hingga akhirnya dikuasai kaum muslimin. Pada masa moderen pun Mesir pernah dijajah oleh Perancis. Peradaban Islam dimulai ketika Panglima ‘Amr bin ‘Ash berhasil memasuki Mesir dari Syria di musim dingin tahun 639 M. Ia adalah seorang pemimpin pasukan pada masa khalifah Umar bin al-Khattab. Awalnya ‘Amr bin ‘Ash masuk dan menduduki Pelusium selama 6 bulan, lalu pada tahun 640, dia mulai masuk ke benteng Babilon yang merupakan sasaran yang sangat strategis. Bersama pasukannya, dia mengalahkan kekuatan Bizantium di Heliopolis pada bulan Juli di tahun yang sama. Kaum muslimin mengepung Babilon dan menuntut kaisar Bizantium saat itu, Heraklius, menyerah secara penuh kepada kekuatan muslimin pada bulan april 641 M. Selama di Mesir, pasukan Islam dapat diterima secara damai oleh masyarakat Mesir yang saat itu mayoritas beragama Kristen Koptik dan sekelompok Yahudi. Karena sangat toleran dalam beragama , di mana umat Koptik diberi kebebasan untuk menentukan pendetanya (Patriarch), bernama Benjamin. Segera setelah itu, atas perintah khalifah Umar bin al-Khattab, didirikanlah sebuah kota di samping benteng Babilon yang menjadi ibukota kekuasaan Islam di Mesir, Fusthath, dengan ‘Amr bin ‘Ash sebagai gubernur pertama dibawah kekuasaan Islam. Dengan Fathu Misr (pembukaan Mesir) ini secara perlahan Mesir mengalami Arabisasi dan Islam bisa diterima oleh Kristen Koptik, serta bahasa Arab menjadi bahasa popular digunakan. Di Fusthath inilah ‘Amr bin ‘Ash mendirikan masjid yang hingga saat ini masih ramai dikenal orang. Masjid ‘Amr bin ‘Ash adalah masjid yang pertama kali didirikan di Mesir. Masjid seluas 13.556,25 meter persegi (112.3 m x 120.5 m) ini selalu menarik perhatian pengunjungnya. Baik masyarakat Mesir maupun pelancong dari manca negara. Masjid ‘Amr bin ‘Ash berbentuk segi empat dengan bagian tengah terbuka tanpa atap. Tepat di tengah bagian yang terbuka itu terdapat bangunan berbentuk cungkup dengan beratap kubah. Bangunan ini adalah tempat wudhu bagi para jamaah masjid tua ini. Masyarakat Mesir sangat menghormati bulan Ramadhan. Masjid-masjid menyelenggarakan sholat Tarawih setiap malam. Pelaksanaannya pun bervariasi ada yang 8 rakaat dengan 3 rakaat witir, ini yang paling banyak dilaksanakan, juga yang 20 rakaat dengan 3 rakaat witir. Bagi jamaah yang ingin melaksanakan sholat tarawih bisa memilih masjid mana yang hendak dituju. Ingin yang setengah jam selesai atau yang dua jam lebih baru selesai. Ada lebih dari seribu masjid hanya di Kairo saja. Karena itulah Mesir disebut negeri seribu menara. Sebuah masjid yang mempunyai imam bersuara merdu akan banyak mendapat jamaah walaupun sholatnya panjang sampai dua jam. Apalagi kalau imamnya adalah seorang Syeikh yang terkenal alim. Jangan heran jika anda mendapati dua masjid yang hanya dipisahkan oleh jalan raya namun tak pernah sepi dari jamaah. Begitu pula dengan ‘Amr bin ‘Ash, masjid ini mempunyai tradisi yang menarik setiap malam tanggal 27 Ramadhan. Ribuan orang dari berbagai daerah di Mesir berduyun-duyun untuk sholat tarawih di masjid ini mengejar kemuliaan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Pada malam ini masjid tua ini jauh lebih ramai dari malam-malam Ramadhan lainnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya tarawih malam ini akan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Jibril, seorang syeikh yang terkenal bersuara indah. Malam 27 Ramadhan tahun ini, di Mesir bertepatan dengan hari Sabtu tanggal 29 Oktober 2005. Penulis dan dua orang kawan lainnya sudah mempersiapkan diri sebelum berangkat sejak ba’da Dzuhur. Bagi jamaah yang ingin memperoleh tempat dalam masjid atau yang cocok dan nyaman harus berangkat minimal dua jam sebelum Maghrib, apalagi yang tempat tinggalnya jauh. Dengan membawa bekal buka puasa dari rumah kami berangkat setelah sholat Ashar. Jarak antara tempat tinggal kami dan lokasi masjid lumayan jauh, sekitar 30 kilometer. Meski naik taksi kami terpaksa harus bersabar karena di beberapa ruas jalan terjadi kemacetan. Kemacetan paling lama terjadi sekitar 5 kilometer sebelum Masjid ‘Amr bin ‘Ash. Sopir taksi yang kami tumpangi mengatakan hal ini biasa terjadi menjelang Maghrib karena banyak orang pulang kerja atau mencari tempat berbuka puasa. Mobil adalah kendaraan utama, sepeda motor jauh lebih sedikit dari pada mobil sehingga sangat sulit menghindar dari kemacetan. Azan Maghrib sudah berkumandang ketika taksi yang membawa kami hampir terbebas dari macet. Akhirnya kami diturunkan di pertigaan jalan masuk ke lokasi masjid. Sopir taksi meminta maaf karena jalan menuju masjid ditutup dari berbagai jenis kendaraan oleh pihak keamanan. Setelah mendapat ongkos ia menunjukkan arah menuju masjid. Tampak oleh kami ramai orang-orang yang menuju arah tersebut. Sebelum melanjutkan perjalanan kami berbuka puasa dengan minum air yang kami bawa. Di dekat tempat kami turun terdengar iqomah berkumandang dari sebuah masjid kecil. Setelah puas melepas dahaga kami segera masuk ke dalam masjid itu untuk sholat Maghrib berjamaah. Seorang kawan saya bercanda, "Cari maidaturrahman yuk, lumayan pengiritan!" Maidah ar-Rahman yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai "Hidangan Tuhan" mudah sekali dijumpai di masjid-masjid atau tempat-tempat tertentu misalnya rumah-rumah hartawan Mesir. Para dermawan Mesir atau pengelola masjid menyediakan menu berbuka puasa untuk khalayak. Siapa saja boleh datang untuk berbuka. Hampir semua masjid menyediakan maidaturrahman. Untuk mengenalinya cukup mudah, biasanya akan ditulis besar-besar dengan bahasa Arab pada sebuah spanduk "Silahkan bergabung dengan kami di Maidaturrahman". Selesai sholat kami istirahat sejenak untuk sekedar berdzikir dan menunggu seorang teman lagi yang sedang ke kamar kecil. Tiba-tiba dari belakang seorang berjubah hijau, bersorban putih dengan jenggot tebal dan berbau wangi menyapa kami sambil membawa dua buah mangkuk plastik tertutup berisi nasi dan lauk daging. Dengan tersenyum ia bertanya,"Kalian akan sholat di Masjid ‘Amr bin ‘Ash?". Kami jawab, "Insya Allah." Sebelum ia berlalu kami mengucapkan terima kasih. Rupanya di belakang kami orang-orang sudah duduk berhadap-hadapan menunggu pembagian makanan. Ketika kawan kami kembali, tanpa pikir panjang kami melanjutkan perjalanan. Kami menyeberang jalan menuju ruas jalan yang menuju masjid ‘Amr bin ‘Ash. Beberapa polisi berpakaian putih tampak berjaga-jaga di dekat palang yang menutup ruas itu. Gelombang manusia masih terus bergerak menuju lokasi. Mereka tampak bergegas agar cepat sampai di tempat yang dituju. Laki-laki, perempuan, tua, muda dan anak-anak berbaur di jalanan, seperti ketika kampanye di Indonesia. Jarak dari ujung jalan yang ditutup menuju masjid sekitar 500 meter. Sekitar dua ratus meter sebelum lokasi penulis melihat puluhan bahkan mungkin ratusan tikar panjang berwarna hijau sudah digelar di trotoar dan di jalanan. Hanya menyisakan beberapa meter di tengah jalan untuk dilewati para jamaah. Kami langsung bergerak lebih cepat untuk memperoleh tempat yang nyaman dan tidak banyak orang lalu-lalang. Dalam pencarian itu seorang pemuda berbadan tegap membawa sekotak kurma dan menawarkan pada kami, "Etfaddhol, kullu sanah wa entu thoiyyibiin!" Sebuah ucapan khas Arab di hari-hari istimewa seperti Ramadhan dan hari raya, yang artinya kira-kira, "Silahkan, semoga anda diberikan kebaikan sepanjang tahun." Tanpa sungkan lagi kami mengambil beberapa biji kurma dan mengucapkan terima kasih. Setelah mendapatkan tempat yang cocok, dekat taman di tengah jalan. Kami mulai duduk, namun tidak langsung membuka bekal. Kami beristirahat sejenak melepas lelah. Lalu beberapa ibu-ibu berpakaian hitam yang sedang berbuka di dekat kami menawarkan makanan. Kami pun berterima kasih dan menolak dengan halus. Selesai makan seorang bapak dengan tas plastik hitam besar mendatangi setiap orang yang dilewatinya sambil membagikan minuman kemasan. Tak luput, kami pun mendapatkan 3 bungkus jus buah. Sambil tersenyum kami mengucapkan terima kasih. Begitulah masyarakat Mesir memperlakukan bulan puasa, mereka berlomba-lomba berbuat kebaikan. Salah satunya adalah dengan memberi makanan atau minuman pada orang yang berpuasa. Berharap mendapatkan pahala yang berlipat ganda di bulan mulia ini. Aliran manusia masih terus bergerak datang atau mencari tempat untuk sholat. Di beberapa tempat beberapa ambulan dan puluhan petugas kesehatan berjaga-jaga sambil membagi-bagikan kertas berisi formulir donor darah sukarela. Tidak ketinggalan puluhan polisi tampak berjaga-jaga. Tampak penjagaannya tidak terlalu ketat. Sedang enaknya bersantai sambil memperhatikan keadaan sekitar, dari pengeras suara diumumkan bahwa para jamaah laki-laki untuk memisahkan diri dari jamaah perempuan agar tertib. Beberapa laki-laki di dekat kami berteriak bahwa tempat yang kami tempati khusus untuk perempuan. Kami pun bergegas meninggalkan tempat, takut tidak mendapatkan tempat yang nyaman. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba masuk ke dalam masjid. Alhamdulillah, kami mendapat tempat di dekat pintu utama masjid. Di dalam masjid ribuan orang melakukan berbagai aktifitas. Masjid yang luas itu terasa sesak dengan ribuan yang melakukan berbagai aktifitas orang di dalamnya. Ada yang sholat, duduk-duduk berbincang dengan rekannya, membaca al-Qur’an atau melanjutkan berbuka puasa. Udara di dalam masjid terasa sedikit panas sehingga kami melepas jaket yang kami kenakan dari rumah. Perkiraan kami udara di luar akan terasa dingin karena Mesir sudah memasuki musim dingin untuk pada akhir Oktober ini. Orang-orang yang berada di luar pun berusaha mendapatkan tempat di dalam masjid sehingga berjubel di belakang pintu. Dari pengeras suara terdengar pengumuman bahwa dalam masjid sudah penuh dan mengharapkan agar para jamaah tidak masuk dan berjubel di pintu. Tidak lama setelah azan Isya berkumandang sholat Isya’ pun dimulai. Suara-suara gaduh yang terjadi sebelum sholat berubah hening, hanya suara merdu Syeikh Muhammad Jibril terdengar dari pengeras suara melantukan ayat-ayat suci al-Qur’an. Sholat tarawih dimulai sekitar pukul 19.00 waktu Kairo. Tarawih di Masjid ‘Amru bin ‘Ash berjumlah 8 rakaat dalam 4 kali sholat. Dalam satu kali sholat rata-rata dilaksanakan selama 15 menit. Pada malam itu Syeikh Muhammad Jibril memulai tarawih dengan membaca surat Ghaafir pada juz 24. Dari keterangan seorang jamaah Mesir setelah tarawih, penulis mendapatkan info bahwa pada malam sebelumnya Syeikh Muhammad Jibril menjadi imam di Jakarta. Tidak jelas ia menjadi imam di masjid mana karena pemberi info juga tidak tahu. Setelah rakaat keempat, sholat diselingi dengan ceramah oleh seorang Imam dan Khotib sebuah masjid besar di Kairo. Penulis kurang jelas mendengarkan ketika pengurus masjid menyebutkan namanya. Ceramah seperti ini sudah lazim di setiap masjid di Kairo. Ada yang diletakkan sebelum sholat Isya’, namun kebanyakan ditengah-tengah tarawih. Hal ini mempunyai fungsi ganda, selain mencerahkan rohani juga untuk beristirahat setelah berdiri selama sholat sebelum melanjutkan sholat lagi. Sholat witir dilaksanakan 3 rakaat dalam dua kali sholat. Pada saat sholat witir sang imam sudah membaca surat Fusshilat, yaitu surat setelah Ghaafir. Pada dua rakaat pertama lama sholat pun tidak jauh beda dengan tarawih. Beberapa orang yang sudah lanjut terlihat sholat sambil duduk. Di antara mereka bahkan ada yang sudah mempersiapkan kursi lipat dari rumah, namun ada pula yang duduk di lantai. Tahun 2003 yang lalu ketika pertama kali sholat tarawih di masjid ini dan juga masih baru datang di Mesir, penulis merasakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Sholat tarawih yang begitu lama dan tidak pernah merasakannya di tanah air terasa begitu berat bagi penulis. Waktu itu ingin rasanya penulis sholat sambil duduk, tetapi malu ketika melihat di samping penulis seorang bapak berusia limapuluhan tetap tegar berdiri hingga akhir. Pada rakaat terakhir sholat witir para jamaah harus mempersiapkan diri baik fisik maupun mental. Dengan persiapan yang matang kenikmatan sholat dan memanjatkan do’a kepada Allah di tengah ribuan orang akan sangat berkesan. Selain bacaan Qur’an yang panjang, para jamaah diajak untuk berdiri jauh lebih lama dari rakaat-rakaat yang lain. Pada rakaat terakhir, sang imam bersuara merdu ini memanjatkan do’a Qunut selama satu jam lebih. Anda bisa membayangkan bagaimana berdiri selama lebih dari satu jam dalam sholat. Selama itu emosi para jamaahnya juga akan diaduk-aduk oleh do’a yang dibaca Syeikh Muhammad Jibril. Pada sepuluh menit pertama imam membaca tahmid dan pujian kepada Allah dilanjutkan dengan membaca sholawat untuk Nabi Muhammad SAW pada sepuluh menit berikutnya. Selama itu para jamaah akan menjawab dengan kalimat Ya Allah atau Subhanallah jika imam menunjukkan kebesaran Tuhan atau mengucapkan Asma’ul Husna, dan Amin jika imam memohon doa. Selanjutnya adalah do’a inti yang tidak berbeda dengan do’a-do’a lainnya, namun Syeikh Muhammad Jibril membacanya dengan sangat menjiwai dan berulang-ulang. Tidak jarang ia terisak dan berhenti sejenak menahan isak tangis, lalu melanjutkan lagi. Pada inti doa itu, ribuan jamaah mulai ikut terhanyut dengan rangkaian doa yang dibaca sang imam. Seperti halnya imam, para jamaah pun tidak sedikit yang terisak dan sesenggukan. Ada pula yang berusaha menahan tangisnya ketika mengucap kata amin. Pada saat imam membaca doa yang mengingatkan akan dosa-dosa seperti, "Ya Allah mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut atau Ya Robbi terangilah kubur kami." Maka akan terdengar suara bergemuruh orang-orang menangis, bahkan ada yang terdengar agak keras. Namun jawaban para jamaah berubah ketika imam membaca, "Ya Allah kalahkanlah orang-orang yang menghancurkan Masjid al-Aqso atau Ya Allah kalahkanlah orang-orang yang menodai kehormatan Palestina dan Karbala." Kalimat amin yang sebelumnya bernada memohon kemudian menjadi sangat tegas. Bahkan ada yang berteriak sangat keras dengan kalimat Yaaa..Robb. Jika benar-benar terlarut maka berdiri selama satu jam lebih tidak akan terasa berat. Siapa saja bisa menangis menghadap Rabb-nya di tengah ribuan orang saat itu. Selesai sholat para jamaah ada yang beristirahat dan ada yang langsung bersiap untuk pulang. Kami bertiga memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu lautan manusia yang berdesak-desakan itu agak reda. Tiba-tiba sekelompok orang berteriak minta jalan. Mereka membawa seseorang yang pingsan untuk segera di bawa keluar ke ambulan yang siap siaga. Segera orang-orang yang berdesakan itu memberi jalan. Kira-kira dua puluh menit kemudian kami keluar, namun kami masih juga berdesakan di pintu. Di luar ribuan orang terlihat menyemut menuju dua arah jalan. Para pennjual makanan dan minuman menawarkan dagangan meraka. Dan petugas kesehatan di dekat ambulan pada beberapa sisi jalan sibuk dengan "pasien" donor darah sukarela. Ketika melewati seorang petugas, penulis disodori formulir donor darah berbahasa Arab. Sambil tersenyum penulis menolak dengan beralasan bahwa penulis mempunyai tekanan darah rendah. Rupanya para petugas kesehatan itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari pendonor darah. Penulis sering menemui para petugas kesehatan Mesir menawarkan pengambilan darah pendonor di berbagai kegiatan yang dihadiri oleh khalayak ramai di Kairo ini. Sholat tarawih di Masjid ‘Amr bin ‘Ash akan selalu ramai dikunjungi jamaah setiap tahunnya, terutama setiap malam 27 Ramadhan. Bagi penulis sendiri hal ini adalah pengalaman yang sangat menarik. Selain untuk meningkatkan rasa iman dan takwa pada pencipta. Pengalaman seperti ini mungkin tidak akan dapat dijumpai di tempat lain di dunia ini. Anda tertarik? Nasr City, Cairo, 30 Oktober 2005

One Response to “ANTARA TERIAKAN DAN TANGISAN DI MASJID ‘AMR BIN ‘ASH”

  1. faisalz Says:

    Maaf saya waktu nulis ini sebenernya berbentuk paragraf per paragraf tapi ketika di posting di blog jadi lurus aja nggak ada paragraf sama sekali. Maklum belum bisa script seh…Ada yang mau ngajarin nggak?

Leave a Reply