AKU , PAK TUA DAN KELEDAI
Saturday, January 14th, 2006Udara panas Kairo bercambur debu-debu berterbangan membuat kegerahanku lebih sempurna. Tapi hal itu tidak lantas membuatku membenci kota perantauanku ini. Banyak hal menarik sering ku dapatkan di sini. Toleransi tinggi yang seringkali kontra dengan lengkingan keras orang Arab yang bertengkar sengit setelah mobil mereka "berciuman". Walaupun mereka bertengkar sangat sengit tapi jarang yang kulihat sampai adu pukul, paling parah hanya saling mendorong atau hanya tarik-tarikan kerah baju. Yang menarik lagi, aku selalu tersenyum ketika seekor keledai yang membawa tuannya melintas di jalan raya yang padat. Seolah ia menjadi raja jalanan karena mobil-mobil –yang sebagian mobil mewah- harus rela menunggu keledai yang lamban itu sampai di seberang jalan.
Aku berjalan agak lunglai setelah turun dari bis kota bernomor 80 Coret yang membawaku pulang dari kuliah. Pada masa ujian ini kendaraan itu pasti dijejali para pelanggannya yang kebanyakan mahasiswa. Pikiranku agak kusut melamunkan kertas ujian yang hanya terisi beberapa baris. Sengatan raja siang tak membuat pikiranku berhenti memikirkannya. Mataku mengeja deretan mobil yang terparkir di samping jalan. Mulai dari Fiat sampai Mercedes Benz yang harganya "wah" itu. Beberapa langkah lagi aku sudah sampai di flat yang ku sewa dengan enam orang teman.
Sesampai di rumah langsung ku teguk air dari dalam lemari es tua. Badan terasa lebih segar setelah aliran dingin membasahi tenggorakanku. Ku lempar pandangan ke sekeliling dapur, tidak ada makanan. Beras pun sudah habis sejak tadi malam. Bulan tanggung begini biasanya kawan-kawan masih kantong bolong. Beasiswa dari kuliah masih seminggu lagi baru turun. Tapi aku belum pernah mengecap beasiswa yang diperoleh sebagian besar mahasiswa Indonesia di Kairo ini.
Kurasakan perutku melilit, lapar. Sejak dari pagi perutku belum terisi makanan sama sekali, hanya segelas teh manis sebelum berangkat kuliah. Ku rogoh saku baju, masih ada 2 Pound, cukup untuk membeli 2 potong thokmeyya bil beidh untuk mengisi perut. Makanan Mesir rata-rata lebih murah dari pada nasi. Mereka makan bubur kacang dan roti gandum. Tapi aku kurang terbiasa makan bubur kacang itu. Aku lebih suka thokmeyya yang kurasakan lebih mirip makanan Melayu dari pada bubur kacang.
Keluar dari warung kecil itu, aku tak langsung pulang ke rumah. Bagiku lebih baik jalan-jalan menyaksikan berbagai tingkah orang dari pada harus merutuki ujianku tadi siang. Seringkali aku mendapatkan pelajaran berharga di jalanan negeri berdebu ini.
Dalam perjalananku -tak tahu harus ke mana- aku disalip 3 orang mahasiswa Indonesia. Meski aku tak kenal, aku sering melihat mereka di acara-acara kemahasiswaan. Pakaian mereka bertiga menunjukkan kalo mereka dari keluarga berada atau mungkin kaya. Meski berbeda warna dan merek, semuanya tampak memakai jenis pakaian yang sama. Kaos trendi dan celana jeans dipadu dengan sepatu sport yang tampaknya mahal melekat di badan mereka. Jauh berbeda dengan sepatuku yang sudah setahun lebih belum berganti. Hanya warnanya kini berganti lebih putih, memudar.
Seorang dari mereka tampak memainkan HP keluaran terbaru dengan kamera built in. Seorang lagi menenteng sekaleng minuman ringan. Yang lain menggendong tas di punggungnya. Semuanya tampak mewah. Kuperhatikan saja tingkah mereka yang selalu bercanda sepanjang jalan, seolah tiada kesedihan terbersit dari muka mereka. Tak lama berselang mereka bertiga tampak masuk sebuah restoran fast food yang punya cabang di seluruh dunia, juga di negeriku Indonesia. Ah, tiba-tiba saja rasa iri membuncah di dadaku. Kalau saja aku seperti mereka, aku mungkin tak butuh HP mewah itu atau makan di restoran mahal itu. Dan tentu saja aku bisa ikut kursus bahasa yang ku impikan, daripada kehidupan hedonis seperti itu. Aku tak tahu apakah mereka juga dapat beasiswa seperti kebanyakan mahasiswa atau tidak. Kalau saja….ahhh langsung saja ku buang pikiran buruk itu.Ya Allah maafkan aku, kenapa aku jadi tidak mensyukuri nikmat-Mu?
Tiba-tiba aku terpaku melihat seorang tua berjubah putih yang tidak layak lagi disebut putih. Jubah itu sudah lusuh, kotor oleh debu dengan beberapa tambalan di sana sini. Surban yang juga lusuh menutupi kepalanya. Wajahnya tampak kuyu kepanasan. Jambangnya yang mulai memutih makin menambah kelesuan wajahnya. Badannya kurus, ironi jika dibandingkan dengan laki-laki bertubuh tambun dalam mobil di dekatnya. Tangan kanannya menuntun tali kekang keledainya yang yang juga kurus kering. Binatang lamban itu setia mengikuti kemanapun tuannya pergi. Punggungnya menahan dua buah karung yang ada di kanan kiri tubuhnya. Dihubungkan dengan karung lain yang dijahit menyambung, menjadi penahan kedua karung itu. Tampaknya Pak Tua ini seorang pemulung.
Sejak aku berteduh di halte, ku lihat matanya terus mengikuti tingkah tiga orang mahasiswa asing itu hingga masuk restoran. Kemudian ia membuka tong sampah besar di depan restoran itu. Diaduknya isi tempat sampah itu, beberapa benda dimasukkannya dalam kantong keledainya. Lalu hatiku terguncang-guncang ketika ia memakan sesuatu dari tempat sampah itu. Tak pernah terbayangkan bagiku kalau dia akan memakan makanan sisa dari tempat sampah. Aku jadi menyesal telah iri pada mahasiswa-mahasiswa itu. Ternyata ada yang jauh lebih layak untuk "iri" daripada aku. Lagi-lagi aku harus bersyukur karena Tuhan masih mengingatkanku.
Masih ku perhatikan ketika ia selesai mengaduk isi tempat sampah itu. Ia menuju tempat air minum di pinggir jalan yang disediakan untuk umum. Diteguknya dua gelas air dingin dari kran minum itu. Lalu dengan bajunya ia mengelap sisa-sisa air yang menetes di dagunya. Kemudian ia duduk berteduh di pinggir trotoar yang rindang oleh pohon besar.
Aku bangkit dari kursi panjang di halte kecil itu. Ku dekati dia dan ku sodorkan selembar uang kertas 50 Piaster, sisa membeli thokmeyya. Di luar dugaanku ia menolaknya sambil menatap tangan dan mukaku bergantian. Hah, aku tak percaya dia menolak pemberianku, dengan jelas kulihat dia tadi makan makanan sisa dari tempat sampah. Beberapa detik aku diam, lalu ku tarik tanganku.
Dengan penasaran kutanya, "Kenapa Ammu (Paman)? Apa kurang banyak?"
"Oh tidak Yabni (Anakku), aku pemulung tapi aku tidak mengemis." Jawabnya sambil menatapku lekat.
Jawaban yang membuatku makin heran. Memori ketika dia makan tadi masih membekas di benakku. "Maaf Ammu, tapi saya kasihan melihat anda makan dari…," tak kulanjutkan kata-kataku, takut menyinggung perasaannya.
"Oh itu, kemarilah! Kita bercakap-cakap sebentar!" panggilnya.
Inilah yang kucari di jalanan Kairo, tanpa pikir panjang aku duduk di sebelahnya.
"Negeri asalmu mana Yabni?" ia memulai.
"Indonesia.", jawabku singkat.
"Bagus, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia itu kan?" ia meyakinkan. Aku mengangguk singkat, rasa bangga menyusup, ternyata negeriku juga dikenal dengan baik oleh rakyat kecil di negeri yang jauh ini.
"Kamu pasti orang yang punya hati yang bagus. Masih punya rasa prihatin dan kasihan melihat orang seperti aku ini. Aku memang tidak pernah sekolah, tidak bisa membaca. Kehidupanku itulah sekolahku sejak kecil. Tapi aku bisa membedakan sikap orang yang acuh dan yang tak acuh dengan orang kecil sepertiku."
Aku hanya mendengarkannya dengan seksama karena ia bicara dengan cepat. Aku harus berkonsentrasi untuk menangkap setiap kata-katanya yang menggunakan bahasa Arab ‘ammiyah.
"Kamu di sini belajar atau apa?" tanyanya lagi.
"Ya, saya kuliah di Al Azhar."
"Kamu pasti orang kaya
kan ? Bisa belajar di luar negeri." Ia menerka.
"Oh tidak ‘Ammu, saya hanya dari keluarga biasa saja," aku menyangkal. "Saya tahu kalau ‘Ammu sejak tadi memperhatikan tiga pemuda
Indonesia yang masuk restoran itu. Tapi tidak semua orang
Indonesia seperti itu, banyak juga yang hidupnya bersahaja."
Ia tersenyum, "Rupanya kamu memperhatikanku dari tadi yah?" Aku hanya nyengir kuda.
"Lalu kenapa Anda menolak pemberianku?" tanyaku masih penasaran.
"Seperti sudah aku katakan meskipun aku pemulung aku tidak mengemis. Kedua orang tuaku dulu mengajarkan untuk tidak mengemis walau bagaimanapun keadaannya. Lebih baik jadi pemulung daripada harus mengemis."
"Tapi, maaf ‘Ammu, saya kasihan melihat Anda tadi makan dari tempat sampah."
"Tidak Yabni, sebenarnya aku punya uang untuk membeli makanan hari ini. Aku masih punya sisa kemarin dari menyetor sampah. Tapi aku hanya tak rela jika makanan masih utuh harus dibuang ke tempat sampah oleh orang-orang kaya itu. Tidak sekali dua kali aku menemukan yang seperti itu. Pernah juga istriku terheran-heran karena aku membawa pulang makanan mahal itu." Jelasnya dengan sabar, tidak tampak tersinggung sama sekali.
Aku terkesiap, tapi kudengarkan saja apa yang dikatakannya. Sementara keledainya terus menunduk seakan ikut mendengarkan. Hatiku bercanda sendiri,"Pendengar yang baik."
"Aku tak pernah mengeluhkan apa yang diberikan Tuhan padaku anakku. Aku masih bersyukur karena Allah masih memberiku kekuatan dan keledai ini untuk memulung sampah. Tapi aku seringkali menyesalkan orang-orang yang diberi kemudahan oleh Tuhan untuk menjadi kaya kemudian menyia-nyiakan hartanya. Contohnya seperti membuang makanan yang masih utuh itu Yabni. Demi Allah Yabni, yang tadi aku makan masih utuh. Jadi mengapa mereka membuang makanan itu ya?"
Aku tetap diam, dalam hati aku malu ketika teringat perasaan iri beberapa saat yang lalu. Mengapa harus iri? Ternyata orang yang hanya bersekolah dari kehidupan seringkali lebih bijaksana daripada orang-orang terpelajar. Para kaum intelektual mungkin hanya pandai tapi belum tentu bijak.
"Baiklah Yabni, aku harus memungut sampah lagi agar anak istriku bisa makan esok hari."
"Baiklah Paman. Assalamualaikum," ujarku singkat
"Alaikum salam," dituntun keledainya ke tempat sampah berikutnya.
Tiba-tiba datang gadis kecil berambut merah kusut dan berpakaian lusuh mendekatiku. "Berilah saya apa saja dari saku Anda, ya ‘Ammu!" pintanya. Kuberikan padanya uang yang dari tadi masih ada di genggamanku.
"Allah yusahhilik," ucapku singkat.
"Terima kasih ‘Ammu, semoga Allah memberkahi Anda," doa yang sering ku dengar dari mulut para pengemis di sini.
Aku lalu bangkit, dari jauh kuperhatikan pantat keledai dan Pak Tua pemiliknya. Pikiranku masih menerawang jauh, tapi yang jelas kesedihanku karena ujian tadi siang sudah lenyap.
Kota
Nasr - Kairo, 25 Juni 2005
Thokmeyya bi beidh : Sandwich berisi semacam gorengan dari kacang dicampur dengan telur rebus dan sayuran.
Pound : Mata uang Republik Arab Mesir, 1 Pound = 100 Piaster
‘Ammiyah : Bahasa Arab sehari-hari yang dipakai masyarakat Mesir
Allah yusahhilik : Ungkapan do`a yang berarti "semoga Allah memudahkanmu".