Archive for January, 2006

AKU , PAK TUA DAN KELEDAI

Saturday, January 14th, 2006

Udara panas Kairo bercambur debu-debu berterbangan membuat kegerahanku lebih sempurna. Tapi hal itu tidak lantas membuatku membenci kota perantauanku ini. Banyak hal menarik sering ku dapatkan di sini. Toleransi tinggi yang seringkali kontra dengan lengkingan keras orang Arab yang bertengkar sengit setelah mobil mereka "berciuman". Walaupun mereka bertengkar sangat sengit tapi jarang yang kulihat sampai adu pukul, paling parah hanya saling mendorong atau hanya tarik-tarikan kerah baju. Yang menarik lagi, aku selalu tersenyum ketika seekor keledai yang membawa tuannya melintas di jalan raya yang padat. Seolah ia menjadi raja jalanan karena mobil-mobil –yang sebagian mobil mewah- harus rela menunggu keledai yang lamban itu sampai di seberang jalan.

Aku berjalan agak lunglai setelah turun dari bis kota bernomor 80 Coret yang membawaku pulang dari kuliah. Pada masa ujian ini kendaraan itu pasti dijejali para pelanggannya yang kebanyakan mahasiswa. Pikiranku agak kusut melamunkan kertas ujian yang hanya terisi beberapa baris. Sengatan raja siang tak membuat pikiranku berhenti memikirkannya. Mataku mengeja deretan mobil yang terparkir di samping jalan. Mulai dari Fiat sampai Mercedes Benz yang harganya "wah" itu. Beberapa langkah lagi aku sudah sampai di flat yang ku sewa dengan enam orang teman.

Sesampai di rumah langsung ku teguk air dari dalam lemari es tua. Badan terasa lebih segar setelah aliran dingin membasahi tenggorakanku. Ku lempar pandangan ke sekeliling dapur, tidak ada makanan. Beras pun sudah habis sejak tadi malam. Bulan tanggung begini biasanya kawan-kawan masih kantong bolong. Beasiswa dari kuliah masih seminggu lagi baru turun. Tapi aku belum pernah mengecap beasiswa yang diperoleh sebagian besar mahasiswa Indonesia di Kairo ini.

Kurasakan perutku melilit, lapar. Sejak dari pagi perutku belum terisi makanan sama sekali, hanya segelas teh manis sebelum berangkat kuliah. Ku rogoh saku baju, masih ada 2 Pound, cukup untuk membeli 2 potong thokmeyya bil beidh untuk mengisi perut. Makanan Mesir rata-rata lebih murah dari pada nasi. Mereka makan bubur kacang dan roti gandum. Tapi aku kurang terbiasa makan bubur kacang itu. Aku lebih suka thokmeyya yang kurasakan lebih mirip makanan Melayu dari pada bubur kacang.

Keluar dari warung kecil itu, aku tak langsung pulang ke rumah. Bagiku lebih baik jalan-jalan menyaksikan berbagai tingkah orang dari pada harus merutuki ujianku tadi siang. Seringkali aku mendapatkan pelajaran berharga di jalanan negeri berdebu  ini.

Dalam perjalananku -tak tahu harus ke mana- aku disalip 3 orang mahasiswa Indonesia. Meski aku tak kenal, aku sering melihat mereka di acara-acara kemahasiswaan. Pakaian mereka bertiga menunjukkan kalo mereka dari keluarga berada atau mungkin kaya. Meski berbeda warna dan merek, semuanya tampak memakai jenis pakaian yang sama. Kaos trendi dan celana jeans dipadu dengan sepatu sport yang tampaknya mahal melekat di badan mereka. Jauh berbeda dengan sepatuku yang sudah setahun lebih belum berganti. Hanya warnanya kini berganti lebih putih, memudar.

Seorang dari mereka tampak memainkan HP keluaran terbaru dengan kamera built in. Seorang lagi menenteng sekaleng minuman ringan. Yang lain menggendong tas di punggungnya. Semuanya tampak mewah. Kuperhatikan saja tingkah mereka yang selalu bercanda sepanjang jalan, seolah tiada kesedihan terbersit dari muka mereka. Tak lama berselang mereka bertiga tampak masuk sebuah restoran fast food yang punya cabang di seluruh dunia, juga di negeriku Indonesia. Ah, tiba-tiba saja rasa iri membuncah di dadaku. Kalau saja aku seperti mereka, aku mungkin tak butuh HP mewah itu atau makan di restoran mahal itu. Dan tentu saja aku bisa ikut kursus bahasa yang ku impikan, daripada kehidupan hedonis seperti itu. Aku tak tahu apakah mereka juga dapat beasiswa seperti kebanyakan mahasiswa atau tidak. Kalau saja….ahhh langsung saja ku buang pikiran buruk itu.Ya Allah maafkan aku, kenapa aku jadi tidak mensyukuri nikmat-Mu?

Tiba-tiba aku terpaku melihat seorang tua berjubah putih yang tidak layak lagi disebut putih. Jubah itu sudah lusuh, kotor oleh debu dengan beberapa tambalan di sana sini. Surban yang juga lusuh menutupi kepalanya. Wajahnya tampak kuyu kepanasan. Jambangnya yang mulai memutih makin menambah kelesuan wajahnya. Badannya kurus, ironi jika dibandingkan dengan laki-laki bertubuh tambun dalam mobil di dekatnya. Tangan kanannya menuntun tali kekang keledainya yang yang juga kurus kering. Binatang lamban itu setia mengikuti kemanapun tuannya pergi. Punggungnya menahan dua buah karung yang ada di kanan kiri tubuhnya. Dihubungkan dengan karung lain yang dijahit menyambung, menjadi penahan kedua karung itu. Tampaknya Pak Tua ini seorang pemulung.

Sejak aku berteduh di halte, ku lihat matanya terus mengikuti tingkah tiga orang mahasiswa asing itu hingga masuk restoran. Kemudian ia membuka tong sampah besar di depan restoran itu. Diaduknya isi tempat sampah itu, beberapa benda dimasukkannya dalam kantong keledainya. Lalu hatiku terguncang-guncang ketika ia memakan sesuatu dari tempat sampah itu. Tak pernah terbayangkan bagiku kalau dia akan memakan makanan sisa dari tempat sampah. Aku jadi menyesal telah iri pada mahasiswa-mahasiswa itu. Ternyata ada yang jauh lebih layak untuk "iri" daripada aku. Lagi-lagi aku harus bersyukur karena Tuhan masih mengingatkanku.

Masih ku perhatikan ketika ia selesai mengaduk isi tempat sampah itu. Ia menuju tempat air minum di pinggir jalan yang disediakan untuk umum. Diteguknya dua gelas air dingin dari kran minum itu. Lalu dengan bajunya ia mengelap sisa-sisa air yang menetes di dagunya. Kemudian ia duduk berteduh di pinggir trotoar yang rindang oleh pohon besar.

Aku bangkit dari kursi panjang di halte kecil itu. Ku dekati dia dan ku sodorkan selembar uang kertas 50 Piaster, sisa membeli thokmeyya. Di luar dugaanku ia menolaknya sambil menatap tangan dan mukaku bergantian. Hah, aku tak percaya dia menolak pemberianku, dengan jelas kulihat dia tadi makan makanan sisa dari tempat sampah. Beberapa detik aku diam, lalu ku tarik tanganku.

Dengan penasaran kutanya, "Kenapa Ammu (Paman)? Apa kurang banyak?"

"Oh tidak Yabni (Anakku), aku pemulung tapi aku tidak mengemis." Jawabnya sambil menatapku lekat.

Jawaban yang membuatku makin heran. Memori ketika dia makan tadi masih membekas di benakku. "Maaf Ammu, tapi saya kasihan melihat anda makan dari…," tak kulanjutkan kata-kataku, takut menyinggung perasaannya.

"Oh itu, kemarilah! Kita bercakap-cakap sebentar!" panggilnya.

Inilah yang kucari di jalanan Kairo, tanpa pikir panjang aku duduk di sebelahnya.

"Negeri asalmu mana Yabni?" ia memulai.

"Indonesia.", jawabku singkat.

"Bagus, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia itu kan?" ia meyakinkan. Aku mengangguk singkat, rasa bangga menyusup, ternyata negeriku juga dikenal dengan baik oleh rakyat kecil di negeri yang jauh ini.

"Kamu pasti orang yang punya hati yang bagus. Masih punya rasa prihatin dan kasihan melihat orang seperti aku ini. Aku memang tidak pernah sekolah, tidak bisa membaca. Kehidupanku itulah sekolahku sejak kecil. Tapi aku bisa membedakan sikap orang yang acuh dan yang tak acuh dengan orang kecil sepertiku."

Aku hanya mendengarkannya dengan seksama karena ia bicara dengan cepat. Aku harus berkonsentrasi untuk menangkap setiap kata-katanya yang menggunakan bahasa Arab ‘ammiyah.

"Kamu di sini belajar atau apa?" tanyanya lagi.

"Ya, saya kuliah di Al Azhar."

"Kamu pasti orang kaya

kan

? Bisa belajar di luar negeri." Ia menerka.

"Oh tidak ‘Ammu, saya hanya dari keluarga biasa saja," aku menyangkal. "Saya tahu kalau ‘Ammu sejak tadi memperhatikan tiga pemuda

Indonesia

yang masuk restoran itu. Tapi tidak semua orang

Indonesia

seperti itu, banyak juga yang hidupnya bersahaja."

Ia tersenyum, "Rupanya kamu memperhatikanku dari tadi yah?" Aku hanya nyengir kuda.

"Lalu kenapa Anda menolak pemberianku?" tanyaku masih penasaran.

"Seperti sudah aku katakan meskipun aku pemulung aku tidak mengemis. Kedua orang tuaku dulu mengajarkan untuk tidak mengemis walau bagaimanapun keadaannya. Lebih baik jadi pemulung daripada harus mengemis."

"Tapi, maaf  ‘Ammu, saya kasihan melihat Anda tadi makan dari tempat sampah."

"Tidak Yabni, sebenarnya aku punya uang untuk membeli makanan hari ini. Aku masih punya sisa kemarin dari menyetor sampah. Tapi aku hanya tak rela jika makanan masih utuh harus dibuang ke tempat sampah oleh orang-orang kaya itu. Tidak sekali dua kali aku menemukan yang seperti itu. Pernah juga istriku terheran-heran karena aku membawa pulang makanan mahal itu." Jelasnya dengan sabar, tidak tampak tersinggung sama sekali.

Aku terkesiap, tapi kudengarkan saja apa yang dikatakannya. Sementara keledainya terus menunduk seakan ikut mendengarkan. Hatiku bercanda sendiri,"Pendengar yang baik."

"Aku tak pernah mengeluhkan apa yang diberikan Tuhan padaku anakku. Aku masih bersyukur karena Allah masih memberiku kekuatan dan keledai ini untuk memulung sampah. Tapi aku seringkali menyesalkan orang-orang yang diberi kemudahan oleh Tuhan untuk menjadi kaya kemudian menyia-nyiakan hartanya. Contohnya seperti membuang makanan yang masih utuh itu Yabni. Demi Allah Yabni, yang tadi aku makan masih utuh. Jadi mengapa mereka membuang makanan itu ya?"

Aku tetap diam, dalam hati aku malu ketika teringat perasaan iri beberapa saat yang lalu. Mengapa harus iri? Ternyata orang yang hanya bersekolah dari kehidupan seringkali lebih bijaksana daripada orang-orang terpelajar. Para kaum intelektual mungkin hanya pandai tapi belum tentu bijak.

"Baiklah Yabni, aku harus memungut sampah lagi agar anak istriku bisa makan esok hari."

"Baiklah Paman. Assalamualaikum," ujarku singkat

"Alaikum salam," dituntun keledainya ke tempat sampah berikutnya.

Tiba-tiba datang gadis kecil berambut merah kusut dan berpakaian lusuh mendekatiku. "Berilah saya apa saja dari saku Anda, ya ‘Ammu!" pintanya. Kuberikan padanya uang yang dari tadi masih ada di genggamanku.

"Allah yusahhilik," ucapku singkat.

"Terima kasih ‘Ammu, semoga Allah memberkahi Anda," doa yang sering ku dengar dari mulut para pengemis di sini.

Aku lalu bangkit, dari jauh kuperhatikan pantat keledai dan Pak Tua pemiliknya. Pikiranku masih menerawang jauh, tapi yang jelas kesedihanku karena ujian tadi siang sudah lenyap.

Kota

Nasr - Kairo, 25 Juni 2005

Thokmeyya bi beidh     : Sandwich berisi semacam gorengan dari kacang   dicampur dengan telur rebus dan sayuran.

Pound                            : Mata uang Republik Arab Mesir, 1 Pound = 100 Piaster

‘Ammiyah                      : Bahasa Arab sehari-hari yang dipakai masyarakat Mesir

Allah yusahhilik          : Ungkapan do`a yang berarti "semoga Allah memudahkanmu".

TELADAN DARI PENGEMIS

Saturday, January 14th, 2006

Sebanyak apakah kita pernah menolong orang lain? Setulus apakah pertolongan kita pada orang lain? Sesering apakah kita memanfaatkan sebuah kesempatan? Mungkin hanya Tuhan yang bisa menjawab dengan tepat. Kita kadang mengharapkan "hal yang lain" alias pamrih dari pekerjaan kita. Di sisi lain kita seringkali mengabaikan sebuah kesempatan untuk berbuat baik yang mungkin datang sekali seumur hidup.

       Penulis pernah beranggapan bahwa Tuhan "tidak adil" dengan menciptakan makhluk-Nya berbeda.

Ada

orang kaya dan ada orang miskin, ada yang cacat dan ada yang sempurna. Namun akhirnya anggapan yang seratus persen keliru itu dimentahkan sebuah adegan yang cukup menyesakkan dada.

       Sebuah stasiun televisi menayangkan reality show dengan pelaku seorang berpenampilan necis dan kaya. Semua aksinya diintip kamera tersembunyi sehingga "korban" tidak tahu jika ia sedang dikerjai. Sang aktor mencari "mangsa" dan mengaku telah dicopet serta kehilangan uang. Ia hanya punya Rp 300 dan ingin membeli teh botol seharga Rp 800. Ia mencari orang yang mau memberinya Rp 500. Jika ada yang mau memberi uang sebanyak itu maka penyelenggara acara akan memberi hadiah sebanyak Satu Juta Rupiah.

       Sang aktor berkeliling mencari "korban" secara acak. Kebanyakan orang yang ditemui menolak dan bahkan terkesan curiga. Akhirnya ia bertemu seorang pengemis berpakaian sangat lusuh. Kedua kakinya cacat berbalut perban putih. Ia duduk di tempat parkir sepeda motor. Dengan raut muka iba mengharap ada orang yang berbelas kasih. Beberapa orang yang lewat melemparkan kepingan uang logam Untuk mengumpulkan uang-uang itu ia harus menyeret tubuhnya setengah merangkak.

       Sang aktor mendekati si pengemis dan menyampaikan masalahnya. Tanpa pikir panjang ia menyerahkan apa yang diminta. Betapa sebuah hal yang mengejutkan, padahal untuk mendapatkannya ia harus mengemis pada orang lain.

       Akhirnya sang aktor mengaku bahwa dia dari sebuah reality show. Kemudian ia mewawancarai apa sebenarnya motif si pengemis. Si pengemis menjawab," Saya sudah bertahun-tahun hidup dari pertolongan orang lain. Orang mungkin sudah menganggap saya sampah masyarakat. Tapi hari ini saya bangga, karena sudah diberi kesempatan untuk menolong orang lain yang membutuhkan." Sungguh ajaran yang sangat mulia keluar dari mulut seorang pengemis. Kondisinya membuatnya sangat sulit untuk menolong orang lain. Namun ketika kesempatan itu tiba, tanpa pikir panjang dia segera menolong orang lain yang membutuhkan.

       Apa jadinya jika Tuhan menciptakan kita sama, semuanya sama dan semuanya sempurna ? Ternyata Tuhan telah menciptakan ladang amal yang luas di sekitar kita. Kita bisa makan setiap hari, namun di sudut tempat sampah ada harus mengemis untuk sesuap nasi. Tak terhitung orang yang Drop Out karena tak bisa membayar sekolah atau kuliah di saat kita bisa asyik dengan buku-buku pelajaran atau diktat kuliah. Atau kesempatan bisa bekerja di saat orang lain harus terbaring lemah di tempat tidur karena sakit atau cacat. Banyak sekali kesempatan beramal dan menolong orang lain yang seringkali tidak kita sadari.

Kencan Satu Jam Bersama Nil

Saturday, January 14th, 2006

Mesir adalah anugerah sungai Nil, begitulah pepatah mengatakan. Nil merupakan urat nadi Mesir selama berabad-abad. Nil juga saksi bisu perjalanan sejarah kebudayaan manusia dari masa ke masa. Sejak zaman Mesir kuno kebutuhan air penduduknya ditopang oleh sungai terpanjang di Afrika ini. Dalam sejarah Islam, bayi Nabi Musa A.S. juga pernah dihanyutkan di sungai ini sebelum ditemukan oleh keluarga kerajaan Fir’aun.

       Bagi para pelancong, rasanya kurang afdhol tanpa jalan-jalan dan naik perahu di sungai ini. Lokasi sungai Nil di Kairo yang sering dikunjungi pelancong lokal maupun mancanegara terletak di daerah Tahrir, terkenal dengan julukan Kornich Nile. Daerah ini mudah dicapai karena berdekatan dengan Terminal Bus dan area perhotelan. Tahrir adalah jantung keramaian di Kairo. Pertokoan, hotel dan

Egyptian

Museum

bisa anda temui di sini.

       Waktu berkunjung yang paling menarik adalah mulai petang hingga larut malam. Pada waktu petang anda bisa menyaksikan matahari terbenam dengan cahayanya yang memantul di permukaan air berlatar

Cairo

Tower

. Sedangkan di malam hari sungai Nil menjadi indah karena berhias lampu warna-warni baik dari perahu-perahu sewaan maupun restoran-restoran dan café terapung.

       Di tepiannya terdapat trotoar yang cukup lebar untuk pejalan kaki, dibatasi dengan pagar besi setinggi dada sepanjang jalur. Selain itu tempat duduk dan gazebo juga disediakan bagi anda yang ingin bersantai dan melepas lelah. Lampu-lampu jalanan berwarna kekuningan berderet rapi baik menghadap jalan raya maupun trotoar menambah indah suasana. Beberapa pepohonan juga tumbuh di pinggiran Nil.

       Pada malam Jum`at atau musim-musim liburan sekolah, daerah ini selalu ramai dikunjungi pelancong. Bagi anda yang membawa pasangan di pinggiran sungai Nil, malam hari adalah saat yang tepat untuk menghadiahkan sekuntum mawar untuk pasangan anda. Untuk mendapatkannya tidak sulit karena biasanya banyak penjual bunga menawarkan dagangannya pada setiap pasangan yang ditemui. Dan bersiaplah untuk menghadapi rayuan dan kegigihan para penjual bunga dalam menawarkan dagangannya ketika anda tidak berniat membelinya. Selain penjual bunga, anda juga akan menemukan penjual makanan kecil dan minuman.

        Anda juga bisa menikmati keindahan sungai Nil dan pusat

kota

Tahrir dengan menyewa kereta kuda beroda empat. Beberapa kereta itu menunggu penumpang di pinggiran trotoar. Anda bisa pergi ke mana anda suka, tergantung berapa anda berani menyewa atau nego.

         Rasanya janggal jika anda melewatkan kesempatan untuk naik perahu yang akan membawa anda menyusuri Nil. Ada bermacam-macam perahu ditawarkan, mulai dari perahu layar yang biasanya disewa secara pribadi, perahu bermotor berkapasitas lebih kurang 40 orang, perahu motor besar berukuran sekitar 20 kali 5 meter, hingga restoran berjalan yang mewah. Yang paling diminati adalah perahu motor, karena dengan harga tiket terjangkau kita bisa dibawa keliling daerah sepanjang Kornich Nile yang pinggirannya dipenuhi hotel menghadap sungai.

         Untuk perahu motor berkapasitas 40 orang anda bisa membeli tiket seharga LE 2,00 (dua Pound Mesir, 1 Pound sekitar 1700 Rupiah) per kepala. Sedangkan untuk perahu motor besar harga tiketnya berbeda yaitu LE 6.00, dengan fasilitas dek atas yang terbuka dan servis menyisir permukaan Nil lebih jauh dari pada perahu motor kecil.

       Tiket bisa dibeli di jalan masuk ke perahu. Beberapa orang akan menawarkan pada anda. Kemudian anda bisa langsung naik setelah menyerahkan tiket pada petugas. Namun, anda harus bersabar menunggu perahu dipenuhi penumpang. Penantian seperti ini membutuhkan kesabaran anda. Di Mesir, setiap menghadapi suatu urusan kita harus siap dengan sebuah kunci bernama kesabaran. Bagi masyarakat Indonesia di Mesir khususnya mahasiswa rasanya sudah sangat akrab dengan kunci tersebut, mulai dari lalu lintas hingga mengurus visa pelajar. Bukan suatu hal yang mengherankan jika seorang mahasiswa yang telah mengantri sehabis subuh sampai pukul 2 siang terpaksa harus pulang dengan tangan kosong. Lebih baik menggunakan kunci tersebut daripada menyiksa diri dengan menggerutu. Dan masih banyak hal-hal lainnya yang membutuhkan kesabaran.

        Penulis mencoba naik perahu motor besar pada 2 Juli 2005 yang lalu bersama seorang teman. Pada saat penulis masuk perahu, baru ada 8 orang penumpang. Naik sekitar pukul 21.15, kami harus menunggu sampai pukul 22.30 baru perahu diberangkatkan. Walaupun tidak terlalu penuh namun cukup ramai. Sekitar 50 orang yang naik, kursi kayu yang ditata di tepian dek berhadapan dengan kursi tengah tampak agak longgar.

Para

penumpang bisa leluasa berpindah-pindah tempat duduk.

       Untuk menghilangkan kebosanan anda yang membawa kamera bisa membidik tempat-tempat menarik yang berhias lampu-lampu. Anda juga bisa memesan teh panas atau minuman ringan pada awak perahu. Namun bagi anda yang membawa pasangan, keadaan seperti itu tidak akan terlalu bosan untuk menghabiskan waktu bersama, diayun-ayun gelombang perahu lain yang melintas.

       Tampaknya semua penumpang memilih dek atas karena dek bawah kosong sama sekali. Mungkin ini keistimewaan perahu motor besar dibanding dengan yang lebih kecil. Semua perahu motor-besar atau kecil-dilengkapi dengan sound system untuk menyetel lagu-lagu Arab. Perahu yang kami tumpangi mempunyai sound system yang cukup besar terletak di bagian depan dek. Dek atas itu tanpa atap, diterangi beberapa lampu neon yang ditopang dua tiang dan hanya dihubungkan kabel. Penerangan tersebut didesain untuk bisa dibongkar pasang dengan cepat. Dibongkar? Untuk apa?

       Ketika perahu mulai melaju, dentuman lagu-lagu khas Arab dari sound system mulai diputar. Lagu-lagu itu diputar bervariasi mulai lagu tradisional dengan permainan gendang yang rancak dan lengkingan khas orang Arab, Zaghrudah, hingga lagu modern dengan irama disko. Lagu-lagu tradisional seperti itu sering penulis dengar diputar pada acara pernikahan. Tanpa komando, beberapa penumpang yang sejak menunggu duduk manis, tiba-tiba mendekati sound system dan berjoget pinggul ala Mesir. Kemudian penumpang yang lain, laki-laki dan perempuan yang kebanyakan kaum muda, mulai ikut nimbrung, hanya sekedar melihat lebih dekat atau ikut bergoyang.

      Budaya goyang pinggul –warga setempat menyebutnya Baladeyya- seperti itu tampaknya adalah hal yang biasa bagi warga Mesir. Berbeda dengan orang

Indonesia

yang seringkali merasa "aneh" dengan goyang pinggul. Terlihat oleh penulis beberapa perempuan berjilbab dan bahkan yang memakai cadar juga ikut melantai meskipun hanya sebentar. Sementara penumpang lain yang duduk ikut bertepuk tangan. Saat itu, juga tampak orang

India

dan beberapa warga asing lain duduk di antara penumpang. Semua terlihat menikmati acara dadakan yang biasa ditemui setiap perahu membawa penumpangnya.

       Setelah sekitar 10 menit perahu berjalan ke arah hilir, awak kapal meminta waktu sebentar agar penumpang duduk kembali ke tempat semula dan bersiap-siap menundukkan badan karena akan melewati jembatan rendah. Nah, saat inilah lampu-lampu dan sound system diturunkan. Pada saat melewati jembatan besi yang dilewati kereta listrik dan kendaraan lain itu, semua penumpang harus menundukkan badan. Bahkan kebanyakan turun dari kursi dan berjongkok di lantai dek karena tidak ingin terbentur bagian bawah jembatan. Tinggi perahu dan jembatan hanya berjarak sekitar 0,5 meter. Penulis membayangkan tentu perahu ini tidak akan bisa melewati jembatan tersebut jika air sungai meluap setengah meter atau lebih.

       Setelah berhasil melewati jembatan, beberapa penumpang bersorak gembira, lampu dipasang kembali, musik diputar, dan goyang pinggul dilanjutkan. Beberapa penumpang dengan Handycam dan tustel mengambil gambar pesta kecil itu. Sekitar 10 menit kemudian sebuah keluarga tampak merayakan ulang tahun anak mereka di atas dek. Mereka memotong kue yang telah dipersiapkan dari rumah, tetap diiringi goyang pinggul yang semakin meriah.

       Perahu pun tetap melaju ke hilir sungai.

Para

penumpang seringkali melambaikan tangan jika ada perahu lain yang melintas, tidak jarang juga patroli Polisi Air pun tidak luput dari lambaian penumpang. Di kiri kanan sungai tampak hotel-hotel berbintang yang dibangun menghadap sungai. Juga restoran-restoran terapung memancarkan cahaya warna-warni. Villa-villa mewah juga tampak megah dibangun di beberapa tempat di bibir sungai. Bahkan ada yang lengkap dengan dermaga dan speed boat.

       Sekitar 20 menit perjalanan, perahu memasuki daerah delta sungai Nil yang lebih sepi dan lebih gelap. Dari pengamatan penulis, daerah delta tidak dihuni untuk perumahan. Hanya ada beberapa pabrik dan bangunan yang tampak gelap karena hanya ada sedikit penerangan. Sedangkan di sisi lain sungai tampak perumahan-perumahan bertingkat yang lebih sederhana dari pada di daerah Tahrir. Jalan raya di sisi sungai adalah jalur menuju daerah Sub Urban Kairo, Shubra el-Kheimah, yang terkenal dengan produksi Kristal Asfour.

       Kira-kira sepuluh menit kemudian perahu memutar haluan kembali ke dermaga semula di hulu. Perjalanan pergi-pulang memakan waktu sekitar satu jam lebih. Selama itu musik dan goyang pinggul terus menemani perjalanan anda. Anda dapat menikmati keindahan Kairo di malam hari. Kairo akan lebih indah di malam hari dengan lampu-lampu warna- warni yang menghiasi hampir tiap sudut bangunan. Dengan biaya yang terjangkau -dan kesabaran menunggu- anda bisa menikmati perjalanan menarik untuk "mengencani" sungai Nil di malam hari. Jangan lupa bawa kamera anda!(FZ)

ANTARA TERIAKAN DAN TANGISAN DI MASJID ‘AMR BIN ‘ASH

Saturday, January 14th, 2006

Mesir yang terkenal dengan negeri seribu menara tidak akan pernah lekang dari keunikan. Sejarah membuktikan bahwa Mesir adalah bangsa yang berperadaban tinggi jauh sebelum negeri kita mempunyai peradaban. Sejak zaman Pharaonic, Hellenistik yang dibawa dari Yunani, Romawi hingga akhirnya dikuasai kaum muslimin. Pada masa moderen pun Mesir pernah dijajah oleh Perancis. Peradaban Islam dimulai ketika Panglima ‘Amr bin ‘Ash berhasil memasuki Mesir dari Syria di musim dingin tahun 639 M. Ia adalah seorang pemimpin pasukan pada masa khalifah Umar bin al-Khattab. Awalnya ‘Amr bin ‘Ash masuk dan menduduki Pelusium selama 6 bulan, lalu pada tahun 640, dia mulai masuk ke benteng Babilon yang merupakan sasaran yang sangat strategis. Bersama pasukannya, dia mengalahkan kekuatan Bizantium di Heliopolis pada bulan Juli di tahun yang sama. Kaum muslimin mengepung Babilon dan menuntut kaisar Bizantium saat itu, Heraklius, menyerah secara penuh kepada kekuatan muslimin pada bulan april 641 M. Selama di Mesir, pasukan Islam dapat diterima secara damai oleh masyarakat Mesir yang saat itu mayoritas beragama Kristen Koptik dan sekelompok Yahudi. Karena sangat toleran dalam beragama , di mana umat Koptik diberi kebebasan untuk menentukan pendetanya (Patriarch), bernama Benjamin. Segera setelah itu, atas perintah khalifah Umar bin al-Khattab, didirikanlah sebuah kota di samping benteng Babilon yang menjadi ibukota kekuasaan Islam di Mesir, Fusthath, dengan ‘Amr bin ‘Ash sebagai gubernur pertama dibawah kekuasaan Islam. Dengan Fathu Misr (pembukaan Mesir) ini secara perlahan Mesir mengalami Arabisasi dan Islam bisa diterima oleh Kristen Koptik, serta bahasa Arab menjadi bahasa popular digunakan. Di Fusthath inilah ‘Amr bin ‘Ash mendirikan masjid yang hingga saat ini masih ramai dikenal orang. Masjid ‘Amr bin ‘Ash adalah masjid yang pertama kali didirikan di Mesir. Masjid seluas 13.556,25 meter persegi (112.3 m x 120.5 m) ini selalu menarik perhatian pengunjungnya. Baik masyarakat Mesir maupun pelancong dari manca negara. Masjid ‘Amr bin ‘Ash berbentuk segi empat dengan bagian tengah terbuka tanpa atap. Tepat di tengah bagian yang terbuka itu terdapat bangunan berbentuk cungkup dengan beratap kubah. Bangunan ini adalah tempat wudhu bagi para jamaah masjid tua ini. Masyarakat Mesir sangat menghormati bulan Ramadhan. Masjid-masjid menyelenggarakan sholat Tarawih setiap malam. Pelaksanaannya pun bervariasi ada yang 8 rakaat dengan 3 rakaat witir, ini yang paling banyak dilaksanakan, juga yang 20 rakaat dengan 3 rakaat witir. Bagi jamaah yang ingin melaksanakan sholat tarawih bisa memilih masjid mana yang hendak dituju. Ingin yang setengah jam selesai atau yang dua jam lebih baru selesai. Ada lebih dari seribu masjid hanya di Kairo saja. Karena itulah Mesir disebut negeri seribu menara. Sebuah masjid yang mempunyai imam bersuara merdu akan banyak mendapat jamaah walaupun sholatnya panjang sampai dua jam. Apalagi kalau imamnya adalah seorang Syeikh yang terkenal alim. Jangan heran jika anda mendapati dua masjid yang hanya dipisahkan oleh jalan raya namun tak pernah sepi dari jamaah. Begitu pula dengan ‘Amr bin ‘Ash, masjid ini mempunyai tradisi yang menarik setiap malam tanggal 27 Ramadhan. Ribuan orang dari berbagai daerah di Mesir berduyun-duyun untuk sholat tarawih di masjid ini mengejar kemuliaan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Pada malam ini masjid tua ini jauh lebih ramai dari malam-malam Ramadhan lainnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya tarawih malam ini akan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Jibril, seorang syeikh yang terkenal bersuara indah. Malam 27 Ramadhan tahun ini, di Mesir bertepatan dengan hari Sabtu tanggal 29 Oktober 2005. Penulis dan dua orang kawan lainnya sudah mempersiapkan diri sebelum berangkat sejak ba’da Dzuhur. Bagi jamaah yang ingin memperoleh tempat dalam masjid atau yang cocok dan nyaman harus berangkat minimal dua jam sebelum Maghrib, apalagi yang tempat tinggalnya jauh. Dengan membawa bekal buka puasa dari rumah kami berangkat setelah sholat Ashar. Jarak antara tempat tinggal kami dan lokasi masjid lumayan jauh, sekitar 30 kilometer. Meski naik taksi kami terpaksa harus bersabar karena di beberapa ruas jalan terjadi kemacetan. Kemacetan paling lama terjadi sekitar 5 kilometer sebelum Masjid ‘Amr bin ‘Ash. Sopir taksi yang kami tumpangi mengatakan hal ini biasa terjadi menjelang Maghrib karena banyak orang pulang kerja atau mencari tempat berbuka puasa. Mobil adalah kendaraan utama, sepeda motor jauh lebih sedikit dari pada mobil sehingga sangat sulit menghindar dari kemacetan. Azan Maghrib sudah berkumandang ketika taksi yang membawa kami hampir terbebas dari macet. Akhirnya kami diturunkan di pertigaan jalan masuk ke lokasi masjid. Sopir taksi meminta maaf karena jalan menuju masjid ditutup dari berbagai jenis kendaraan oleh pihak keamanan. Setelah mendapat ongkos ia menunjukkan arah menuju masjid. Tampak oleh kami ramai orang-orang yang menuju arah tersebut. Sebelum melanjutkan perjalanan kami berbuka puasa dengan minum air yang kami bawa. Di dekat tempat kami turun terdengar iqomah berkumandang dari sebuah masjid kecil. Setelah puas melepas dahaga kami segera masuk ke dalam masjid itu untuk sholat Maghrib berjamaah. Seorang kawan saya bercanda, "Cari maidaturrahman yuk, lumayan pengiritan!" Maidah ar-Rahman yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai "Hidangan Tuhan" mudah sekali dijumpai di masjid-masjid atau tempat-tempat tertentu misalnya rumah-rumah hartawan Mesir. Para dermawan Mesir atau pengelola masjid menyediakan menu berbuka puasa untuk khalayak. Siapa saja boleh datang untuk berbuka. Hampir semua masjid menyediakan maidaturrahman. Untuk mengenalinya cukup mudah, biasanya akan ditulis besar-besar dengan bahasa Arab pada sebuah spanduk "Silahkan bergabung dengan kami di Maidaturrahman". Selesai sholat kami istirahat sejenak untuk sekedar berdzikir dan menunggu seorang teman lagi yang sedang ke kamar kecil. Tiba-tiba dari belakang seorang berjubah hijau, bersorban putih dengan jenggot tebal dan berbau wangi menyapa kami sambil membawa dua buah mangkuk plastik tertutup berisi nasi dan lauk daging. Dengan tersenyum ia bertanya,"Kalian akan sholat di Masjid ‘Amr bin ‘Ash?". Kami jawab, "Insya Allah." Sebelum ia berlalu kami mengucapkan terima kasih. Rupanya di belakang kami orang-orang sudah duduk berhadap-hadapan menunggu pembagian makanan. Ketika kawan kami kembali, tanpa pikir panjang kami melanjutkan perjalanan. Kami menyeberang jalan menuju ruas jalan yang menuju masjid ‘Amr bin ‘Ash. Beberapa polisi berpakaian putih tampak berjaga-jaga di dekat palang yang menutup ruas itu. Gelombang manusia masih terus bergerak menuju lokasi. Mereka tampak bergegas agar cepat sampai di tempat yang dituju. Laki-laki, perempuan, tua, muda dan anak-anak berbaur di jalanan, seperti ketika kampanye di Indonesia. Jarak dari ujung jalan yang ditutup menuju masjid sekitar 500 meter. Sekitar dua ratus meter sebelum lokasi penulis melihat puluhan bahkan mungkin ratusan tikar panjang berwarna hijau sudah digelar di trotoar dan di jalanan. Hanya menyisakan beberapa meter di tengah jalan untuk dilewati para jamaah. Kami langsung bergerak lebih cepat untuk memperoleh tempat yang nyaman dan tidak banyak orang lalu-lalang. Dalam pencarian itu seorang pemuda berbadan tegap membawa sekotak kurma dan menawarkan pada kami, "Etfaddhol, kullu sanah wa entu thoiyyibiin!" Sebuah ucapan khas Arab di hari-hari istimewa seperti Ramadhan dan hari raya, yang artinya kira-kira, "Silahkan, semoga anda diberikan kebaikan sepanjang tahun." Tanpa sungkan lagi kami mengambil beberapa biji kurma dan mengucapkan terima kasih. Setelah mendapatkan tempat yang cocok, dekat taman di tengah jalan. Kami mulai duduk, namun tidak langsung membuka bekal. Kami beristirahat sejenak melepas lelah. Lalu beberapa ibu-ibu berpakaian hitam yang sedang berbuka di dekat kami menawarkan makanan. Kami pun berterima kasih dan menolak dengan halus. Selesai makan seorang bapak dengan tas plastik hitam besar mendatangi setiap orang yang dilewatinya sambil membagikan minuman kemasan. Tak luput, kami pun mendapatkan 3 bungkus jus buah. Sambil tersenyum kami mengucapkan terima kasih. Begitulah masyarakat Mesir memperlakukan bulan puasa, mereka berlomba-lomba berbuat kebaikan. Salah satunya adalah dengan memberi makanan atau minuman pada orang yang berpuasa. Berharap mendapatkan pahala yang berlipat ganda di bulan mulia ini. Aliran manusia masih terus bergerak datang atau mencari tempat untuk sholat. Di beberapa tempat beberapa ambulan dan puluhan petugas kesehatan berjaga-jaga sambil membagi-bagikan kertas berisi formulir donor darah sukarela. Tidak ketinggalan puluhan polisi tampak berjaga-jaga. Tampak penjagaannya tidak terlalu ketat. Sedang enaknya bersantai sambil memperhatikan keadaan sekitar, dari pengeras suara diumumkan bahwa para jamaah laki-laki untuk memisahkan diri dari jamaah perempuan agar tertib. Beberapa laki-laki di dekat kami berteriak bahwa tempat yang kami tempati khusus untuk perempuan. Kami pun bergegas meninggalkan tempat, takut tidak mendapatkan tempat yang nyaman. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba masuk ke dalam masjid. Alhamdulillah, kami mendapat tempat di dekat pintu utama masjid. Di dalam masjid ribuan orang melakukan berbagai aktifitas. Masjid yang luas itu terasa sesak dengan ribuan yang melakukan berbagai aktifitas orang di dalamnya. Ada yang sholat, duduk-duduk berbincang dengan rekannya, membaca al-Qur’an atau melanjutkan berbuka puasa. Udara di dalam masjid terasa sedikit panas sehingga kami melepas jaket yang kami kenakan dari rumah. Perkiraan kami udara di luar akan terasa dingin karena Mesir sudah memasuki musim dingin untuk pada akhir Oktober ini. Orang-orang yang berada di luar pun berusaha mendapatkan tempat di dalam masjid sehingga berjubel di belakang pintu. Dari pengeras suara terdengar pengumuman bahwa dalam masjid sudah penuh dan mengharapkan agar para jamaah tidak masuk dan berjubel di pintu. Tidak lama setelah azan Isya berkumandang sholat Isya’ pun dimulai. Suara-suara gaduh yang terjadi sebelum sholat berubah hening, hanya suara merdu Syeikh Muhammad Jibril terdengar dari pengeras suara melantukan ayat-ayat suci al-Qur’an. Sholat tarawih dimulai sekitar pukul 19.00 waktu Kairo. Tarawih di Masjid ‘Amru bin ‘Ash berjumlah 8 rakaat dalam 4 kali sholat. Dalam satu kali sholat rata-rata dilaksanakan selama 15 menit. Pada malam itu Syeikh Muhammad Jibril memulai tarawih dengan membaca surat Ghaafir pada juz 24. Dari keterangan seorang jamaah Mesir setelah tarawih, penulis mendapatkan info bahwa pada malam sebelumnya Syeikh Muhammad Jibril menjadi imam di Jakarta. Tidak jelas ia menjadi imam di masjid mana karena pemberi info juga tidak tahu. Setelah rakaat keempat, sholat diselingi dengan ceramah oleh seorang Imam dan Khotib sebuah masjid besar di Kairo. Penulis kurang jelas mendengarkan ketika pengurus masjid menyebutkan namanya. Ceramah seperti ini sudah lazim di setiap masjid di Kairo. Ada yang diletakkan sebelum sholat Isya’, namun kebanyakan ditengah-tengah tarawih. Hal ini mempunyai fungsi ganda, selain mencerahkan rohani juga untuk beristirahat setelah berdiri selama sholat sebelum melanjutkan sholat lagi. Sholat witir dilaksanakan 3 rakaat dalam dua kali sholat. Pada saat sholat witir sang imam sudah membaca surat Fusshilat, yaitu surat setelah Ghaafir. Pada dua rakaat pertama lama sholat pun tidak jauh beda dengan tarawih. Beberapa orang yang sudah lanjut terlihat sholat sambil duduk. Di antara mereka bahkan ada yang sudah mempersiapkan kursi lipat dari rumah, namun ada pula yang duduk di lantai. Tahun 2003 yang lalu ketika pertama kali sholat tarawih di masjid ini dan juga masih baru datang di Mesir, penulis merasakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Sholat tarawih yang begitu lama dan tidak pernah merasakannya di tanah air terasa begitu berat bagi penulis. Waktu itu ingin rasanya penulis sholat sambil duduk, tetapi malu ketika melihat di samping penulis seorang bapak berusia limapuluhan tetap tegar berdiri hingga akhir. Pada rakaat terakhir sholat witir para jamaah harus mempersiapkan diri baik fisik maupun mental. Dengan persiapan yang matang kenikmatan sholat dan memanjatkan do’a kepada Allah di tengah ribuan orang akan sangat berkesan. Selain bacaan Qur’an yang panjang, para jamaah diajak untuk berdiri jauh lebih lama dari rakaat-rakaat yang lain. Pada rakaat terakhir, sang imam bersuara merdu ini memanjatkan do’a Qunut selama satu jam lebih. Anda bisa membayangkan bagaimana berdiri selama lebih dari satu jam dalam sholat. Selama itu emosi para jamaahnya juga akan diaduk-aduk oleh do’a yang dibaca Syeikh Muhammad Jibril. Pada sepuluh menit pertama imam membaca tahmid dan pujian kepada Allah dilanjutkan dengan membaca sholawat untuk Nabi Muhammad SAW pada sepuluh menit berikutnya. Selama itu para jamaah akan menjawab dengan kalimat Ya Allah atau Subhanallah jika imam menunjukkan kebesaran Tuhan atau mengucapkan Asma’ul Husna, dan Amin jika imam memohon doa. Selanjutnya adalah do’a inti yang tidak berbeda dengan do’a-do’a lainnya, namun Syeikh Muhammad Jibril membacanya dengan sangat menjiwai dan berulang-ulang. Tidak jarang ia terisak dan berhenti sejenak menahan isak tangis, lalu melanjutkan lagi. Pada inti doa itu, ribuan jamaah mulai ikut terhanyut dengan rangkaian doa yang dibaca sang imam. Seperti halnya imam, para jamaah pun tidak sedikit yang terisak dan sesenggukan. Ada pula yang berusaha menahan tangisnya ketika mengucap kata amin. Pada saat imam membaca doa yang mengingatkan akan dosa-dosa seperti, "Ya Allah mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut atau Ya Robbi terangilah kubur kami." Maka akan terdengar suara bergemuruh orang-orang menangis, bahkan ada yang terdengar agak keras. Namun jawaban para jamaah berubah ketika imam membaca, "Ya Allah kalahkanlah orang-orang yang menghancurkan Masjid al-Aqso atau Ya Allah kalahkanlah orang-orang yang menodai kehormatan Palestina dan Karbala." Kalimat amin yang sebelumnya bernada memohon kemudian menjadi sangat tegas. Bahkan ada yang berteriak sangat keras dengan kalimat Yaaa..Robb. Jika benar-benar terlarut maka berdiri selama satu jam lebih tidak akan terasa berat. Siapa saja bisa menangis menghadap Rabb-nya di tengah ribuan orang saat itu. Selesai sholat para jamaah ada yang beristirahat dan ada yang langsung bersiap untuk pulang. Kami bertiga memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu lautan manusia yang berdesak-desakan itu agak reda. Tiba-tiba sekelompok orang berteriak minta jalan. Mereka membawa seseorang yang pingsan untuk segera di bawa keluar ke ambulan yang siap siaga. Segera orang-orang yang berdesakan itu memberi jalan. Kira-kira dua puluh menit kemudian kami keluar, namun kami masih juga berdesakan di pintu. Di luar ribuan orang terlihat menyemut menuju dua arah jalan. Para pennjual makanan dan minuman menawarkan dagangan meraka. Dan petugas kesehatan di dekat ambulan pada beberapa sisi jalan sibuk dengan "pasien" donor darah sukarela. Ketika melewati seorang petugas, penulis disodori formulir donor darah berbahasa Arab. Sambil tersenyum penulis menolak dengan beralasan bahwa penulis mempunyai tekanan darah rendah. Rupanya para petugas kesehatan itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari pendonor darah. Penulis sering menemui para petugas kesehatan Mesir menawarkan pengambilan darah pendonor di berbagai kegiatan yang dihadiri oleh khalayak ramai di Kairo ini. Sholat tarawih di Masjid ‘Amr bin ‘Ash akan selalu ramai dikunjungi jamaah setiap tahunnya, terutama setiap malam 27 Ramadhan. Bagi penulis sendiri hal ini adalah pengalaman yang sangat menarik. Selain untuk meningkatkan rasa iman dan takwa pada pencipta. Pengalaman seperti ini mungkin tidak akan dapat dijumpai di tempat lain di dunia ini. Anda tertarik? Nasr City, Cairo, 30 Oktober 2005