SEAMUK BADAI PASTI BERLALU

Bunga-bunga merah jambu itu

mulai berguguran

Burung-burung bertanduk

mematuk-matukkan paruhnya pada rerumputan

Sepasang kakek-nenek asyik bermain bola

bersama cucu perempuan

Mereka bergembira ria

seakan tiada peduli usianya yang telah senja

Rasanya baru kemarin petang

kujejakkan kaki di tanah perantauan Musa ini

Kini ku berteman rerumputan taman ini

Sedikit terobati gundahku

Sejenak bernafas dari rasa hampa

Tiba-tiba semilir angin mengelus kudukku

Seakan berbisik pelan

Negerimu merindukanmu

Ya…ya…aku pun merindukannya

Sampaikan padanya agar tak usah cemburu

Meski cemara di belakang punggungku ini rindang dan sejuk

tapi ingatanku akan tetap membalut

Pada harum kenangamu

Meski bunga merah jambu ini menawan hatiku

Wanginya melatimu takkan bergeser dari sanubariku

Walau Biladi-Biladi itu sering berkumandang

Namun Indonesia Raya masih merdu dalam kalbuku

Aku di sini hanya sebentar saja

Mengais sesuatu sebelum kembali ke pangkuanmu

Ya…aku di sini untukmu

Ingin rasanya cepat-cepat ku ambil madu-madu itu

dan kupersembahkan untukmu

Tapi tentu saja, lebah-lebah itu tidak berdiam dengan sengatnya

Selalu menusuk relung-relungku

Apa yang harus ku perbuat?

Aku tahu engkau pun tak sejenak berjibaku

Sejak dulu

Engkau harus berjuang melawan musuh-musuhmu

dan terus menerjang para penghianatmu

Aku tahu kau pasti sudah muak

Dengan kutu busuk di ketiakmu

Yang selalu menyakitimu

Menguras minyakmu

Menghanguskan hutan-hutanmu

Untuk membuat perut-perut mereka semakin buncit

Sementara kolor si yatim selalu melorot ke jempol kaki

Tikus-tikus itu memang tak punya malu

Begitu bangga dengan istana garong

Tapi nestapa itu janganlah terlalu

Gundah itu akan pergi jua

Seperti perginya gundahku di taman ini

Selama masih ada jiwa-jiwa bersih di persadamu

Tak akan terbiar manusia-manusia yang melukaimu

Meski muda-mudimu mabuk kepayang dengan injeksi jahanam

Tak akan berkalang selama semangat itu tetap tumbuh

Walau semangat itu menjadi sebutir pasir di ujung jari

Harapan itu takkan mati

Walau cinta putih itu tidak seputih susu

Aku akan tetap setia untukmu

Walau garong-garong itu menjadi sebanyak buih di lautmu

Masih akan ada putra-putrimu yang takkan pernah menyerah

Menjadikan Engkau

Indonesia impianku

Sekelam malam masih akan ada fajar merekah

Dan seamuk badai pasti berlalu

Taman Internasional Kairo

   24 September 2005

2 Responses to “SEAMUK BADAI PASTI BERLALU”

  1. Mutiara R Says:

    “..Dan seamuk badai pasti berlalu”

    Namun suatu saat bisa terulang kembali… :)

  2. faisalz Says:

    Setidaknya pernah berlalu walau sekejap.
    Bukankah hidup memang seperti itu, berputar dan berputar….
    @Mbak Mutiara hahaha ada yang baca juga. Makasih dah meluangkan waktu baca di tengah segala kesibukan. Mbak ajarin ngatur blogs dong.

Leave a Reply