Kisah Tukang Sapu Syarm el-Sheikh
Baru seminggu aku tiba di sini
mengadu nasib jauh dari kampungku,
El Fayoum, kampung indah dengan kebun mangga
Kata orang mangga itu dulu dibawa Soekarno
dari negeri yang jauh, Indonesia
El Fayoum kampung indahku dengan parit-parit air
mengalir ke sawah-sawah yang dulu katanya cuma pasir
Tapi di sini juga indah
Laut merah, masih membekas di kepalaku
cerita Musa dan pengikutnya
Tapi indah itu menjadi begitu menjijikkan bagiku
dikampungku semua berbaju lebar
tertutup dan masih punya malu
Hari pertama aku menyapu di trotoar jalan menuju pantai
Orang-orang itu tidak berbaju
apalah yang disebut baju jika hanya secarik kain
berjalan hilir mudik
tak acuh
Hari kedua kulihat dua muda-mudi berkulit pucat
juga tidak berbaju
menautkan keempat bibir mereka di depan café
tidak tahu malu
Hari ketiga kawanku berkata:
"Di sini lebih mudah cari uang daripada di kampung"
"Kamu lihat turis-turis itu"
"Mereka adalah sumber uang"
"Kamu harus pandai"
"Untuk dapatkan uang mereka"
Hari keempat aku ditugaskan di resort
membersihkan pantai
sungguh terasa sesak dada ini
Mandorku marah:
"Kenapa pantainya masih kotor?"
"Kamu seharusnya melayani para tamu asing itu?"
"Kalau begini terus dalam dua hari kamu bisa dipecat"
"Jangan jadi pemalas!"
Aku jawab:
"Aku malu"
"Perempuan-perempuan itu telanjang"
"Aku takut mereka mengira aku mengintip mereka"
"Aku malu"
"Muda mudi itu berciuman sangat lama"
"Aku takut jika mereka marah aku pergoki"
"Seperti suami istri tetanggaku di Fayoum"
Hari keenam aku menyapu di depan hotel
seorang lelaki beranting berambut acak-acakan
mengeja setiap gerakku mengayun sapu
dia mendekat padaku
dirogohnya saku
disodorkannya sepuluh pound
"for yu"
aku bergeming
tak faham
ditariknya tanganku diselipkan uang itu
aku tetap bergeming
ia berlalu masuk hotel
Malam masih hiruk pikuk
udara menyaput setiap celah batu cadas Sinai
menyaput pasir-pasir pantai
Malam diterangi bulan gurun tiga perempat
Lampu-lampu jalanan menemani bulan
Aku bersandar di dinding penginapanku
menikmati teh dari Kenya
Airnya bergetar
Telingaku pekak
Halilintar terasa menyambar di malam tenang
Jalanan gulita
Hanya bulan masih setia
cahayanya menuntunku
Lelaki beranting berambut acak-acakan
berlari menjauh dari hotel
api menggulung debu berhamburan
dinding hotel runtuh berdebam
menyisakan asap menyesakkan
Aku lari mendekat
mandorku masih terlelap
mukanya merah berdarah
perutnya yang gendut
menahan pecahan kaca yang menembusnya
Kawanku sudah terjaga
menggendong tangan kirinya
badannya bergetar
Ku ambil tangan kirinya itu
ku kantongi dalam saku Galabeyya
ku gendong ia menjauh hotel
yang berpuing-puing
cairan merah masih mengucur dari bekas lengannya
Lewat taman berumput
Aku menginjak sesuatu
bersuara
mengumpat dengan bahasa yang aku tak mengerti
Lelaki beranting dan berambut acak-acakan
bercelana pendek tanpa baju
membenamkan mukanya ke tanah
Tiarap dan berteriak ketakutan, menangis sesenggukan
Aku terus berlari menggendong kawanku dan tangannya
dari jauh aku dengar lelaki itu tertawa terbahak-bahak
di antara jerit ketakutan dan debu beterbangan
Kairo, 24 Juli 2005