Archive for November, 2005

SEAMUK BADAI PASTI BERLALU

Wednesday, November 9th, 2005

Bunga-bunga merah jambu itu

mulai berguguran

Burung-burung bertanduk

mematuk-matukkan paruhnya pada rerumputan

Sepasang kakek-nenek asyik bermain bola

bersama cucu perempuan

Mereka bergembira ria

seakan tiada peduli usianya yang telah senja

Rasanya baru kemarin petang

kujejakkan kaki di tanah perantauan Musa ini

Kini ku berteman rerumputan taman ini

Sedikit terobati gundahku

Sejenak bernafas dari rasa hampa

Tiba-tiba semilir angin mengelus kudukku

Seakan berbisik pelan

Negerimu merindukanmu

Ya…ya…aku pun merindukannya

Sampaikan padanya agar tak usah cemburu

Meski cemara di belakang punggungku ini rindang dan sejuk

tapi ingatanku akan tetap membalut

Pada harum kenangamu

Meski bunga merah jambu ini menawan hatiku

Wanginya melatimu takkan bergeser dari sanubariku

Walau Biladi-Biladi itu sering berkumandang

Namun Indonesia Raya masih merdu dalam kalbuku

Aku di sini hanya sebentar saja

Mengais sesuatu sebelum kembali ke pangkuanmu

Ya…aku di sini untukmu

Ingin rasanya cepat-cepat ku ambil madu-madu itu

dan kupersembahkan untukmu

Tapi tentu saja, lebah-lebah itu tidak berdiam dengan sengatnya

Selalu menusuk relung-relungku

Apa yang harus ku perbuat?

Aku tahu engkau pun tak sejenak berjibaku

Sejak dulu

Engkau harus berjuang melawan musuh-musuhmu

dan terus menerjang para penghianatmu

Aku tahu kau pasti sudah muak

Dengan kutu busuk di ketiakmu

Yang selalu menyakitimu

Menguras minyakmu

Menghanguskan hutan-hutanmu

Untuk membuat perut-perut mereka semakin buncit

Sementara kolor si yatim selalu melorot ke jempol kaki

Tikus-tikus itu memang tak punya malu

Begitu bangga dengan istana garong

Tapi nestapa itu janganlah terlalu

Gundah itu akan pergi jua

Seperti perginya gundahku di taman ini

Selama masih ada jiwa-jiwa bersih di persadamu

Tak akan terbiar manusia-manusia yang melukaimu

Meski muda-mudimu mabuk kepayang dengan injeksi jahanam

Tak akan berkalang selama semangat itu tetap tumbuh

Walau semangat itu menjadi sebutir pasir di ujung jari

Harapan itu takkan mati

Walau cinta putih itu tidak seputih susu

Aku akan tetap setia untukmu

Walau garong-garong itu menjadi sebanyak buih di lautmu

Masih akan ada putra-putrimu yang takkan pernah menyerah

Menjadikan Engkau

Indonesia impianku

Sekelam malam masih akan ada fajar merekah

Dan seamuk badai pasti berlalu

Taman Internasional Kairo

   24 September 2005

Kisah Tukang Sapu Syarm el-Sheikh

Wednesday, November 9th, 2005

Baru seminggu aku tiba di sini

mengadu nasib jauh dari kampungku,

El Fayoum, kampung indah dengan kebun mangga

Kata orang mangga itu dulu dibawa Soekarno

dari negeri yang jauh, Indonesia

El Fayoum kampung indahku dengan parit-parit air

mengalir ke sawah-sawah yang dulu katanya cuma pasir

Tapi di sini juga indah

Laut merah, masih membekas di kepalaku

cerita Musa dan pengikutnya

Tapi indah itu menjadi begitu menjijikkan bagiku

dikampungku semua berbaju lebar

tertutup dan masih punya malu

Hari pertama aku menyapu di trotoar jalan menuju pantai

Orang-orang itu tidak berbaju

apalah yang disebut baju jika hanya secarik kain

berjalan hilir mudik

tak acuh

Hari kedua kulihat dua muda-mudi berkulit pucat

juga tidak berbaju

menautkan keempat bibir mereka  di depan café

tidak tahu malu

Hari ketiga kawanku berkata:

"Di sini lebih mudah cari uang daripada di kampung"

"Kamu lihat turis-turis itu"

"Mereka adalah sumber uang"

"Kamu harus pandai"

"Untuk dapatkan uang mereka"

Hari keempat aku ditugaskan di resort

membersihkan pantai

sungguh terasa sesak dada ini

Mandorku marah:

"Kenapa pantainya masih kotor?"

"Kamu seharusnya melayani para tamu asing itu?"

"Kalau begini terus dalam dua hari kamu bisa dipecat"

"Jangan jadi pemalas!"

Aku jawab:

"Aku malu"

"Perempuan-perempuan itu telanjang"

"Aku takut mereka mengira aku mengintip mereka"

"Aku malu"

"Muda mudi itu berciuman sangat lama"

"Aku takut jika mereka marah aku pergoki"

"Seperti suami istri tetanggaku di Fayoum"

Hari keenam aku menyapu di depan hotel

seorang lelaki beranting berambut acak-acakan

mengeja setiap gerakku mengayun sapu

dia mendekat padaku

dirogohnya saku

disodorkannya sepuluh pound 

"for yu"

aku bergeming

tak faham

ditariknya tanganku diselipkan uang itu

aku tetap bergeming

ia berlalu masuk hotel

Malam masih hiruk pikuk

udara menyaput setiap celah batu cadas Sinai

menyaput pasir-pasir pantai

Malam diterangi bulan gurun tiga perempat

Lampu-lampu jalanan menemani bulan

Aku bersandar di dinding penginapanku

menikmati teh dari Kenya

Airnya bergetar

Telingaku pekak

Halilintar terasa menyambar di malam tenang

Jalanan gulita

Hanya bulan masih setia

cahayanya menuntunku

Lelaki beranting berambut acak-acakan

berlari menjauh dari hotel

api menggulung debu berhamburan

dinding hotel runtuh berdebam

menyisakan asap menyesakkan

Aku lari mendekat

mandorku masih terlelap

mukanya merah berdarah

perutnya yang gendut

menahan pecahan kaca yang menembusnya

Kawanku sudah terjaga

menggendong tangan kirinya

badannya bergetar

Ku ambil tangan kirinya itu

ku kantongi dalam saku Galabeyya

ku gendong ia menjauh hotel

yang berpuing-puing

cairan merah masih mengucur dari bekas lengannya

Lewat taman berumput

Aku menginjak sesuatu

bersuara

mengumpat dengan bahasa yang aku tak mengerti

Lelaki beranting dan berambut acak-acakan

bercelana pendek tanpa baju

membenamkan mukanya ke tanah

Tiarap dan berteriak ketakutan, menangis sesenggukan

Aku terus berlari menggendong kawanku dan tangannya

dari jauh aku dengar lelaki itu tertawa terbahak-bahak

di antara jerit ketakutan dan debu beterbangan

Kairo, 24 Juli 2005

Taqobbalallahu minna wa minkum

Thursday, November 3rd, 2005

Ketika langit begitu cerah
dan awan putih menggantung satu-satu
tiadalah patut hati hendak gundah
hari ini, minggu ini, dan bulan ini adalah bulan kemenangan bagi sang "pemeluk teguh"*
Izinkanlah saya mengungkapkan rindu dari dalam lubuk hati terdalam
meluapkan segala prasangka yang terpendam
kiranya tiada yang dapat menambah kesejukan hati
selain pintu maafmu yang terbuka untukku
Segala kesalahanku, sikapku, perbuatanku dan perkataanku yang menyakitkan tiada lain karena aku hanyalah seorang manusia biasa yang lemah
Karena itu MINAL AIDIN WAL FAIZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
Semoga Allah mengampuni kita dari segala dosa.
Semoga lindungannya selalu menyertai kita dan,
Semoga kita bisa bersua kembali di masa-masa yang akan datang.
Wassalamualaikum

Faisal Zulkarnaen

*pinjam istilah Chairil Anwar