Rahasia Sholat Shubuh

July 27th, 2006 by faisalzulkarnaen
Sebagai pengingat bagi saya dan kita semua, disalin dari milis yang saya ikuti.

To:

"sunan ampel" <sunan_ampels@yahoogroups.com>
From: Send an Instant Message "izzah aulia" <izaaja_05@yahoo.com>  Add to Address BookAdd to Address Book  Add Mobile Alert
Date: Tue, 25 Jul 2006 22:05:48 -0700 (PDT)
Subject: << Sunan Ampel >> gerakkan subuh massal

Pernah, salah seorang Yahudi, menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam kecuali pada satu hal. Ialah bila jumlah jamaah shalat Subuh mneyamai jumlah jamaah shalat Jum’at.”
***
Sore itu, ia berdiri berceramah. Bicaranya berapi-api tentang mimpinya selama ini, yakni tegaknya agama Allah di muka bumi. Ia begitu bersemangat menguraikan cita-citanya untuk menyaksikan syariat Allah memimpin peradaban di seluruh alam semesta. Dia bertanya kepada hadirin :
“Mengapa umat Islam mengalami kemunduran ?
Mengapa mereka mengikuti konsep hidup umat lain ?
Mengapa mereka merendahkan nilai agama mereka sendiri ?
Mengapa mereka menjadikan musuh-musuh Islam sebagai pemimpin ?
Mengapa ?…..Mengapa ?
Puluhan pertanyaan semisal terlontar dalam ceramahnya dengan sangat memukau. Ia melemparkan beban berat itu di atas pundak para hadirin yang mengikuti ceramahnya. Lalu ia memaparkan pandangannya dengan panjang lebar, seperti memberi dogma. Kemudian setelah mengemukakan solusi dan kesimpulan, ia mengakhiri ceramahnya.
Selang sehari setelah itu, saya mencari sang penceramah itu di antara shaf-shaf jamaah shalat Subuh. Heran, saya tidak melihatnya. Saya bergumam dalam hati, “Mungkin penceramah itu berhalangan atau ada urusan mendadak.” Saya pun beranjak pulang.
Hari berikutnya, di waktu yang sama, saya mencoba mencarinya kembali di antara deretan shaf-shaf jamaah shalat Subuh, dengan harapan bisa menemukannya di sana. Namun, saya kembali kecewa. Lagi-lagi saya tidak menemukannya di antara shaf-shaf jamaah shalat Subuh. Saya mulai khawatir, aduhai apa yang tejadi padanya. Ingin rasanya saya mengetahui kabarnya. Saya khawatir, jangan-jangan ia ditimpa musibah.
Saya putuskan untuk mencari tahu di mana penceramah itu. Hingga pada suatu kesempatan dapat bertemu dengannya. Lalu saya bertanya : “Apa yang terjadi ? Mudah-mudahan yang penghalang Anda adalah sesuatu yang baik. Saya kehilangan Anda di waktu shalat Subuh.
Dengan ringan ia menjawab tanpa rasa malu.
“Maafkan saya. Semoga Allah mengampuni saya dan mengampuni Anda. Kondisi saya sangat sulit. Pagi-pagi saya sudah mulai kerja, sementara saya tidur agak terlambat. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Saya terdiam dan bingung mendengar jawabannya. Benar-benar saya bingung. Saya bertanya dalam hati, “Bagaimana mungkin agama Allah akan kokoh berdiri di atas muka bumi ini di tangan orang-orang yang melalaikan kewajibannya kepada Allah?”
Hati saya bergejolak, jiwa terasa sempit, dan tenggorokan terasa tersumbat. Saya memohon kepada Allah untuk memberikan petunjuk-Nya pada saya, juga kepadanya, dan bagi seluruh umat Islam. Saya juga memohon kepada-Nya kejayaan dan kekohan agama ini. Sungguh, Dia Maha Kuasa atas yang demikian.
Tahukah Anda Allah berfirman dalam kitabNya
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah berfirman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-‘Ankabut: 1-3)
Tahukah Anda Rasulullah bersabda
“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya dengan merangkak. Sungguh, aku ingin menyuruh melaksanakan shalat, lalu shalat itu ditegakkan, kemudian aku perintahkan orang lain untuk shalat bersama dengan orang-orang. Kemudian beberapa lelaki berangkat bersamaku dengan membawa kayu yang terikat, mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat berjamaah, sehingga aku bakar rumah mereka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Dan tahukah kalian bahwa Rasulullah bersabda
“Jangalah kalian meninggalkan shalat secara sengaja. Barangsiapa yang telah meninggalkan shalat secara sengaja, maka Allah dan Rasul-Nya telah lepas tanggungan darinya.” (HR Ahmad).
Dan tahukah kalian bahwa Rasulullah bersabda
“Amal yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah shalat (tepat) pada waktunya.”
Diintisarikan dari buku Misteri Shalat Subuh karangan Dr. Raghib As-Sinjani
Penerbit Aqwam
Mari SUKSESKAN GERAKAN SUBUH MASSAL !!!!!
TIPS MEnjaga Shalat Subuh
§         Ikhlaskan niat hanya karena Allah, dan berikanlah hak-hakNya.
§         Bertekad dan Introspeksilah diri Anda setiap hari.
§         Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali.
§         Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh.
§         Carilah kawan yang baik.
§         Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah.
( tidur awal, berwudhu sebelum tidur, miring kekanan, berdoa.)
Sampaikan pada orang lain akan gaya hidup Anda yang baru.
§         Menyedikitkan makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari.
§         Tulis pegingat shalat Subuh dan gantunglah di atas dinding.
§         Bantulah dengan tiga bel (jam weker, telepon, bel pintu).
§         Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga Anda.

Download Misteri Shalat Subuh
klik kanan > Save Link As

Duka Palestina dan Libanon

July 27th, 2006 by faisalzulkarnaen

Sudah beberapa hari ini, setiap saya sholat jama’ah di masjid dekat rumah atau di masjid lain Imamnya selalu mambaca do’a qunut selesai rukuk pada rakaat terakhir. Tidak heran, sebabnya adalah penjajahan Israel pada Palestina dan Libanon yang disertai pembantaian sadis setiap hari. Korbannya paling banyak tentu Arab muslim. Entah sampai kapan imam-imam masjid di sini akan mengumandangkan qunut 5 kali sehari tiap sholat. Mungkin jika Israel sudah berhenti membantai muslimin di tanah Arab. Do’a adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan selain berbagai upaya lainnya -sekuat tenaga- untuk menghentikan kebiadaban Israel.

Sekarang sudah memasuki 2 Rajab 1427 H, namun kebutralan Israel semakin menjadi. Rajab adalah salah satu bulan yang mulia, salah satu bulan yang di dalamnya diharamkan melakukan peperangan kecuali jika kaum kafir dan musyrik melakukan penyerangan dan pembantaian seperti yang dilakukan Israel saat ini.

‘Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram . Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa’ (QS. At-Taubah : 36 )

Islam adalah agama damai. Dan sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam benci melakukan peperangan jika tidak ada sesuatu yang memaksa dan mengancam eksistensi agama Allah ini. Dulu, umat Yahudi bisa hidup berdampingan dengan aman di bawah pipmpinan Rasulullah, namun karena kedengkian mereka, yang melakukan penghianatann membuat mereka terusir dari Madinah.

Tapi lihatlah sekarang di Libanon dan Palestina, mereka melakukan pembantaian atas nama membela diri. Amerika juga tidak lupa memberikan dukungan bahwa itu adalah hak Israel, lalu mana HAM yang dikobar-kobarkan oleh dunia Barat dan Amerika. Mereka hanya melakukan standar ganda. Human rights just for the West and American, bukan untuk Muslimin dan negara-negara dunia ketiga.

Pertempuran yang sejak tanggal 12 Juli lalu telah menewaskan 391 orang dan 1596 orang di Lebanon. Sementara jumlah korban tewas di Israel sebanyak 41 orang.
(http://www.kompas.com/). Dan saya yakin Anda juga tahu berapa korban keganasan tentara AS di Irak dan Afghanistan. Inikah HAM? Inikah demokrasi? Apa bukan democrazy? Sementara mereka mengatakan Hizbullah dan Hamas yang mempertahankan tanah airnya adalah teroris? Yang mempertahankan tanah air atau yang membantai ribuan muslimin di Timur Tengah? Logika mana yang dipakai? Berkali-kali George W. Bush menolak untuk disebut memusuhi umat Islam, ia hanya memerangi teroris. Tapi apa yang terjadi sejak ekspansi pasukan mereka di Afghanistan sampai saat ini yang terjadi adalah kaum Muslimin yang jadi korban. Jumlah terbanyak korban tewas adalah warga sipil, bukan tentara atau apa yang mereka sebut teroris. Terorisme hanyalah dalih untuk melakukan pembantaian. Who is the real terrorist?

Bantu muslimin di Libanon, Palestina, Irak, Afghanistan, Indonesia dan semua tempat dengan bersatu, berbuat dan berdo’a! Allahumma ‘nshur Islama wa’a'izzal muslimin!

Gerbang Tiga Switszerland-Cairo, 2 Rajab 1427/27 Juli 2006

Rumahku dan Sekitarnya

April 28th, 2006 by faisalzulkarnaen

Sekarang, aku tinggal di sebuah flat bersama 4 orang kawan. Sebuah flat sederhana di lantai dasar sebuah gedung berlantai 6. Umur gedung ini mungkin hampir seumuran denganku, tapi entahlah aku tidak tahu berapa tua gedung ini. Gedung ini berdiri kokoh di samping sebuah jalan raya Kairo di bilangan Hay el-Asyir, Nasr City. Nama kampung yang kami tinggali juga cukup unik, Swissry. Diambil dari pengucapan Arab untuk Switzerland. Konon gedung-gedung apartemen di daerah ini proyeknya didapat dari pinjaman pemerintah Swiss. Tapi itu kabar yang ku dengar, kebenarannya masih harus dicek lagi.
Orang Mesir memang suka menyebut negerinya sebagai Umm el-Dunya, Ibunya Dunia. Entah kenapa mereka menyebut negerinya seperti itu. Di Mesir banyak sekali nama-nama tempat yang mengadopsi nama tempat lain di dunia ini. Seperti El-Menia untuk Jerman, Maidan Libnan untuk Lebanon Square, Hadiqah Yabaniah (Taman Jepang), bahkan mereka membuat sebuah taman yang mempunyai miniatur ciri khas negara-negara di dunia. Anda bisa berfoto dengan latar belakang patung Liberty kecil atau kincir angin Belanda di sana. Mereka menyebutnya Hadiqah el-Dauliyah atau Taman Internasional, meskipun aku sendiri merasa agak kesal karena Indonesia tidak kutemukan di sana. Bukankah Presiden Soekarno adalah kawan karib Presiden Gamal Abdul Nasser? Tapi biarlah, suka-suka yang buat.
Bekas kemesraan kedua negara yang dikenal oleh orang Mesir sampai sekarang adalah buah mangga. Mereka menyebutnya mangga Sukarnu. Konon bibit mangga itu pertama kali dibawa oleh Presiden Soekarno dan berkembang hingga kini. Pernah juga aku melihat papan nama jalan menuju Alexandria bertuliskan Shari’ (Jalan) Ahmad Soekarno.
Apa yang patut menjadi contoh dari orang Mesir adalah kecintaan mereka pada negerinya. Sehingga kebanyakan mereka lebih suka membeli produk lokal dari pada barang impor. Meskipun tampaknya sekarang mulai berubah. Anak-anak muda Mesir sekarang sedang gandrung produk-produk luar negeri.
Kawan-kawan Indonesia seringkali merasa jengkel akibat terlalu cintanya orang-orang Mesir pada negerinya, terutama orang-orang Baladi (orang kampung). Mereka seringkali terasa terlalu berlebihan membanggakan negerinya. Jika sudah begitu ada baiknya ditanggapi dengan bercanda saja, dari pada makan hati. Chauvinisme yang kadang terlalu. Memuji negeri sendiri kelewat batas.
Suatu ketika seorang kenek Tramco (angkot) mengagumi negerinya dengan mengatakan Mashri umm el-dunya (Mesir Ibu Dunia). Saya dan kawan-kawan yang jadi penumpang pada waktu itu langsung menimpali Andunisi abuha (Indonesia Bapaknya). Ia langsung mendelik dan tidak setuju. Lalu kami katakan,”Loh kasihan dong, masak punya Ibu nggak punya Bapak?” Ia tampak berpikir sejenak lalu tersenyum tanda setuju. Hehe…kena kamu. Dan kejadian saperti ini tidak hanya sekali dua kali, tapi sering dan kami punya senjata untuk menandinginya, seperti tadi.
Kembali ke rumah kami, di samping rumah kami terdapat sebuah ruangan yang luasnya kira-kira sama dengan ruang kamarku, 3 kali 4 meter, bahkan kelihatannya lebih kecil. Dalam kamar itu juga termasuk dapur dan kamar mandi. Dan di ruangan itu tinggallah sebuah keluarga dengan 6 anggotanya. Mereka adalah keluarga Bawwab (penjaga gedung apartemen) yang menjaga sekaligus menjadi pembersih di gedung yang kami tempati. Sha’ban, istrinya, ibu mertuanya yang sudah tua, serta tiga anak mereka Walied, Mona, dan Halimah. Mereka berasal dari kampung di Provinsi Bani Suwef.
Sudah bertahun-tahun mereka tinggal di Kairo, aku tidak tahu sejak kapan mereka di situ. Mungkin sejak gedung ini berdiri seperti kebanyakan Bawwab lainnya. Mereka dibayar dari uang yang dikumpulkan dari penghuni gedung sebesar 30 Pound Mesir (sekitar lima puluh ribu Rupiah) tiap flat. Di gedung ini ada 24 flat, namun beberapa tampaknya tidak dihuni.
Sha’ban adalah seorang buta huruf , umurnya sekitar 40-an. Ia selalu memakai jalabiyah (jubah) khas kampung Arab dengan sorban yang dililitkan di kepala. Seringkali ia menumpang untuk menelepon di rumah kami. Biasanya ia akan meminta kami menekan digit-digit telepon dari kertas bertuliskan nomor telepon yang ia bawa. Kadang aku geli juga dengannya, kalau menelepon minta tolong memijit nomornya tapi kalo soal hitung menghitung duit, tanpa kalkulator pun sudah mahir. Jika menelepon suaranya keras, kalau di kampungku desibel sebesar itu udah dianggap berteriak-teriak. Dulu pertama kali kukira ia marah-marah, tapi ternyata begitulah nada bicara kebanyakan orang Arab. Pada dasarnya ia baik, namun kadang juga menjengkelkan, tidak punya sungkan. Pernah kutegur karena nyelonong begitu saja ketika baru saja kubukakan pintu atau ketika menelepon lebih dari 10 menit. Dasar Arab…pati nggenah. He..he…
Istrinya juga buta huruf. Tapi lebih halus dari suaminya. Mungkin perangai seorang Ibu. Tapi tetap saja nada suaranya tinggi ketika menelepon. Kami sudah terbiasa. Kami sering berbagi bumbu dapur dengan keluarga itu. Ketika kami kehabisan bawang merah tinggal menyampaikannya lewat jendela, begitu juga ketika mereka kehabisan gula, wajahnya akan nongol di jendela dapur. Transaksi itu sering kami lakukan jika malas keluar atau ketika perlu cepat. Sehingga keakraban antara kami terjalin. Dengan anak-anaknya pun kami kenal baik.
Walied kini sedang menempuh kuliah tahun pertama di fakultas teknik. Entah di univeritas mana. Inilah salah satu yang aku kagumi dari Mesir, pendidikan murah dan mendapat prioritas. Aku memimpikan akan terjadi di negeriku, Indonesia. Negeri yang jauh lebih luas dan lebih subur dari pada Mesir yang sebagian besar hanya gurun pasir gersang. Bahkan buku-buku banyak dijual murah melalui program Ibu Negara Suzanna Mubarok, Maktabah Usroh (Pustaka Keluarga).
Umur Walied sekitar 19 tahun. Ia seorang yang ramah dan kakak yang baik bagi adik-adiknya. Aku tidak tahu apakah Walied anak pertama atau tidak. Kata senior-seniorku ia punya kakak perempuan yang tinggal di kampung. Aku sendiri tidak pernah bertanya tentang itu. Ia menjadi tempat kami bertanya ketika kesulitan memahami bahasa Arab atau Ammiyah (Bahasa Arab Gaul).
Mona adalah adik Walied, umurnya sekitar 17 tahun, sedang belajar di Madrasah Tsanawiyyah (setingkat SMU) jurusan Elektronika. Pernah kami menanyakan tentang tempat penjualan sebuah komponen Magic Jar kami yang rusak. Tampaknya ia belum tahu, tapi dengan senang hati dibawanya komponen itu ke sekolah dan bertanya pada gurunya. Ia juga peramah tapi agak pemalu. Wajarlah, yang tinggal di dekat rumah kecilnya cowok semua. He-he…
Halimah adik Mona adalah seorang ABG yang masih duduk di Madrasah I’dadiyyah (setingkat SMP). Dua tahun yang lalu ketika pertama kali tinggal di sini, ia seorang gadis kecil yang agak nakal. Suka usil dan bernyanyi keras-keras. Sekarang lebih mirip kakaknya, pemalu.
Sedangkan nenek mereka tidak pernah ku dengar bicara. Lebih sering di dalam kamar. Sha’ban bilang ia sering sakit-sakitan.
Mereka adalah keluarga yang cukup baik. Sha’ban meskipun ia buta huruf tetapi terus mendorong anaknya untuk giat belajar. Anak-anaknya pun rajin-rajin. Mereka biasanya belajar di luar. Di depan kamar, Sha’ban membuat tempat duduk dari semen dan pasir berukuran sekitar 1,5 kali 3 meter. Di atasnya digelar tikar plastik. Walied dan adik-adiknya sering belajar di situ. Bisa dianggap di situlah ruang keluarga bagi mereka. Di malam hari Sha’ban, istrinya dan Walied bergantian tidur di luar dengan selimut tebal. Jika malam ini Walied, besoknya ayahnya yang tidur di luar, begitu seterusnya bergantian. Selain itu mereka ikut bertanggung jawab atas keamanan gedung dan para penghuninya, terutama yang tinggal di lantai dasar seperti aku dan kawan-kawan. Karena pernah juga ada orang yang berusaha mencuri jemuran pakaian kami.
Kata kawanku, Sha’ban juga mempunyai rumah di kampung. Ia pernah diperlihatkan foto-foto keluarganya di kampung dan kondisi rumahnya seperti yang kami tempati. Berbeda dengan ruangan kecil yang sempit itu. Barangkali memang ada benarnya, karena di dalam ruangan kecil samping rumah kami itu ada lemari es, kompor gas, televisi dan mesin cuci model lama. Barang-barang yang dianggap cukup mewah di kampungku dulu. Kalau begitu mereka adalah keluarga yang pantang mengeluh dan bersahaja atau mereka punya alasan lain untuk bertahan di situ.
Kawan-kawan yang pernah tinggal di rumah kami pasti akrab dengan keluarga tersebut. Bahkan kawan yang sudah lama pulang ke tanah air pun mereka masih ingat. Mereka sering bercerita tentang orang-orang yang tinggal di rumah ini. Sudah belasan tahun rumah ini disewa oleh mahasiswa Indonesia secara turun temurun. Angkatan yang baru menggantikan mereka yang kembali ke tanah air dan seterusnya. Selain posisinya strategis dekat jalan besar, tuan rumah kami termasuk murah memberi harga sewa. Sekarang saja harga sewa flat kami 400 pound per bulan, sementara rumah-rumah lain di daerah itu sewanya paling murah 500 pound bahkan ada yang menawarkan sampai 1000 pound sebulan dengan fasilitas lengkap. Tuan rumah kami yang seorang janda mengatakan sudah 13 tahun ini ia tidak menaikkan harga sewa rumahnya. Ia tidak mengatakan sebabnya.
Bersebelahan dengan rumah kami sekitar 10 meter, ada sebuah Masjid. Namanya masjid Shahabah. Masjid yang selalu ramai dengan jamaah ketika sholat, siang dan malam. Masjid itu tidak punya imam tetap sehari-harinya namun punya imam tetap untuk Sholat Jum’at. Tampaknya imam itu tinggal jauh dari daerah kami. Sehingga ia datang pada hari biasanya menjadi Imam pada hari Kamis, Jum’at dan Sabtu. Sedangkan hari-hari lainnya para jamaah yang mempunyai bacaan lebih bagus dan hafal Qur’an bergantian menjadi imam.
Sehari semalam sholat lima waktu tidak pernah kurang dari tiga baris. Yang menjadi jamaah pun bermacam-macam. Aku sering menerka dari mana mereka berasal dari bentuk wajah, bahasa dan pakaian yang mereka pakai ketika bicara dengan kawan sesama negaranya. Sehingga aku terbiasa menerka orang-orang yang kujumpai di kampus maupun di mana saja sejak aku tinggal di Kairo, walaupun kadang meleset.
Bermacam bangsa, bahasa dan warna kulit bersatu dan berbaur ketika sholat berjamaah. Aku merasakan keindahan yang belum pernah kurasakan ketika di kampung. Ada orang Amerika, Inggris, Perancis, Rusia dan negara-negara pecahannya, Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, Pakistan, Maladewa, negara-negara dari benua hitam Afrika, dan yang terbanyak orang-orang Arab. Tidak ada diskriminasi, tidak ada masalah dengan warna kulit, dan rasisme akan mentah di masjid Shahabah. Semua sama di hadapan Allah. Sungguh indah. Kalau ada waktu silahkan datang ke tempat kami.
Lucu juga ketika melihat orang Inggris dan Perancis bercakap-cakap satu sama lain. Mungkin karena merasa sama-sama dari Eropa mereka tampak lebih akrab. Suatu saat saya melihat mereka bercakap-cakap. Orang Inggris itu tidak bisa bahasa Perancis begitu sebaliknya. Mereka terbata-bata menggunakan bahasa Arab karena belum lancar. Aku terenyum simpul, beginilah kalo bule-bule bicara bahasa Arab, tampak kesusahan. Tapi tidak sedikit juga yang aku lihat lancar, terutama mereka yang sudah lama tinggal di Mesir. Kebanyakan mereka membawa keluarganya untuk hijrah ke Mesir karena ingin belajar Islam dan bahasa Arab lebih dalam.
Suatu ketika ada seorang muslim Perancis yang membuat saya terharu dengan kegigihannya. Namanya Badr, seorang lumpuh yang harus berjalan dengan kursi roda. Jenggotnya hitam lebat, umurnya sekitar 30-an. Pertama kali ia hanya sholat di depan tangga Masjid. Kemudian para jamaah lain tahu hal itu, sehingga mereka menolongnya dengan mengangkat kursi rodanya melewati tangga agar ia bisa sholat di dalam masjid. Biasanya ia ditemani Isa, seorang "Bilal bin Robah" asal Inggris yang juga kawannya serumah. Beberapa hari kemudian Isa membuatkan landasan dari kayu di atas tangga agar bisa dilewati kursi rodanya. Itu lebih memudahkannya. Pada dasarnya ia berusaha untuk tidak merepotkan orang lain. Meskipun ketika naik Isa masih membantunya, namun ketika turun ia berusaha sendiri. Pernah sekali aku memegang kursi rodanya agar dia tidak tergelincir ketika turun, tapi ia menolaknya. Kursi roda itu aku lepas lagi untuk menghormatinya. Aku faham perasaannya. Ia tentu ingin berusaha sendiri sebisa mungkin, dan ia memang tidak jatuh, mungkin sudah pengalaman. Ia rajin sholat di masjid, bahkan saat subuh dingin mengigit tulang.
Aku pernah memuji negaranya, Perancis adalah negeri yang indah. Ia malah menyangkal, “Oh tidak saudaraku, di sini lebih baik, aku bisa beribadah lebih tenang. Di Perancis banyak maksiat.” Malah ia mengatakan ingin hijrah ke Mekkah agar bisa mendapatkan pahala yang berlipat-lipat ketika berjamaah di Masjidil Haram. Oh, aku terkesima. Semangat hidup terpancar jelas dari kedua matanya. Senyumnya yang selalu tersungging mengiringi semangat itu. Membuatku malu dengan keadaanku yang tanpa kursi roda.
Suatu ketika aku minta doa dari Badr karena akan menghadapi ujian. Ia berjanji akan mendoakanku dan menyarankanku untuk memelihara sholat malam. “Sholat malam akan membuatmu kuat dan tenang, aku sudah merasakannya,” Oh, sebuah pelajaran yang tak akan ku lupa dari seorang Badr, bule Perancis itu. Namun sudah satu bulan lebih aku tidak melihatnya lagi berjamaah. Aku juga tidak tahu ia pindah atau kembali ke negaranya karena Isa juga tidak terlihat. Waktu itu aku segan mencari tahu karena aku sendiri sibuk mempersiapkan ujian. Yang belum terpenuhi sebelum Badr pergi adalah kami saling beziarah ke rumah masing-masing. Aku pernah menolak tawarannya untuk berkunjung ke rumahnya karena besok akan ujian. Rupanya kesempatan itu tidak datang dua kali, karena aku makin banyak kegiatan. Semoga Allah selalu melindungimu, Badr.

Nasr City, Kairo, 26 April 2006   

SUQ SAYYARAAT

April 28th, 2006 by faisalzulkarnaen

Lapangan Sepak Bola Terbesar di Dunia

Coba Anda sebutkan negara mana yang penduduknya tidak gandrung sepakbola? Barangkali kita susah menjawab pertanyaan itu, karena hampir di setiap belahan bumi ini orang-orang mencintai sepak bola. Begitu juga Mesir, yang Timnasnya baru saja memenangkan perebutan Piala Afrika sekitar bulan Februari 2006 yang lalu. Mereka mengalahkan Cote d’Voire dalam adu pinalti yang menegangkan.
Anda mungkin pernah mendengar Stadion Old Trafold yang megah dan mampu menampung puluhan ribu penonton itu. Stadion kebanggaan warga Manchaster. Namun, ia hanya mampu menampung sekali pertandingan dalam satu waktu.
Sekitar 200 meter dari rumah saya di Hay el-Asyir, Nasr City ada sebuah lapangan sepak bola yang bisa menampung sedikitnya 10 match dalam satu waktu. Meskipun kemegahannya sangat jauh jika dibandingkan dengan Old Trafold namun semangat para pemainnya tidak kalah dengan tim-tim yang bertanding di Premier League-nya Inggris. Namanya Suq Sayyaraat yang berarti pasar mobil. Ya, aslinya memang bukan lapangan sepak bola, juga bukan pasar mobil. Kawasan itu adalah lahan yang dikosongkan untuk jalur kabel listrik tegangan tinggi. Kemudian agar tidak kosong, kawasan itu di aspal dan dibangun untuk pasar mobil. Tepat di bawah kabel-kabel tegangan tinggi itu dibuat  taman berpagar besi setinggi 1,5 meter. Setiap Jum’at dan Minggu Suq Sayyaraat selalu penuh dengan mobil yang akan dijual atau dibeli.
Ukuran panjang Suq Sayyarat kira-kira 500 meter. Terdiri dari dua bagian disamping kanan dan kiri kabel. Tiap-tiap bagian mempunyai lebar kira-kira 80 meter. Di tempat itulah setiap sore anak-anak, pemuda dan orang dewasa berbagai bangsa biasa bermain bola. Warga Mesir, orang Indonesia, Afrika, Rusia dan Eropa biasa menggulirkan si kulit bundar di sana. Pada musim panas mereka yang ingin bermain bola harus datang lebih awal bersama timnya agar bisa mendapatkan tempat paling rata dan strategis. Beberapa tim bahkan membawa gawang sendiri yang dibuat dari potongan pipa yang disambung-sambung. Kebanyakan yang punya gawang adalah tim-tim dari Afrika, seperti orang Somalia, Nigeria dan lain-lain. Ada juga mahasiswa Indonesia yang mempunyai gawang dan rutin berlatih hampir tiap sore di sana. Yang tidak punya gawang dan klub biasanya memakai batu sebagai gawang, layaknya permainan bola kampung. Di antara mereka bahkan mempunyai kostum khusus, barangkali klub kecil-kecilan. Sedangkan yang tidak punya klub atau tidak kebagian tempat karena terlambat bisa bergabung dalam match dadakan, yang kadang bisa mencapai 20 orang melawan 20 orang. Yang penting enjoy dan bisa bermain.
Bermain sepakbola di Mesir tidak seperti di kampung-kampung negeri kita yang lapangannya rumput dan gratis. Jika ingin mendapat lapangan rumput Anda harus merogoh kocek sekitar 20-50 pound per-jam (1 pound Mesir = sekitar 1.700 Rupiah), tergantung luas lapangan dan kualitas rumputnya. Maka bagi klub-klub kecil yang ingin mengirit dana kebanyakan memilih Suq Sayyarat yang gratis untuk berlatih, meski harus siap dengan lutut perih jika terjatuh. Meski resiko jatuh, Suq Sayyarat seakan menjadi idola bagi para pecinta bola di sekitarnya.
Pada pagi hari biasanya hanya sedikit orang yang bermain bola di sana. Kecuali hari Jum’at dan Minggu Suq Sayyaraat menjadi track jogging, dan area jalan-jalan sekedar rileks menghirup udara terbuka yang masih segar. Kadang-kadang saya juga lari-lari kecil mengelilingi lapangan besar itu. Tidak sedikit juga kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang saya lihat membawa buku dan belajar di sana. Seringkali sambil komat-kamit menghafal sesuatu.
Dua bulan yang lalu ada dua kafe di sisi kanan dan kiri Suq Sayyarat, dekat dengan jalan yang mengeilingi lapangan besar itu. Kedua kafe itu buka tiap petang sampai menjelang subuh. Di malam-malam libur, terutama musim panas Suq Sayyarat ramai oleh para pelanggan kafe yang menikmati Syisya (sejenis rokok khas Arab yang dihisap melalui pipa sepanjang satu meter) dan berbagai makanan serta minuman yang disediakan. Laki-laki, perempuan dan anak-anak biasanya duduk-duduk di sana, bahkan sampai menjelang subuh.
Hanya diterangi oleh lampu jalan berwarna kekuningan yang ada di sepanjang tepian Suq Sayyaraat, meja dan kursi kafe ditata menyebar hampir separuh lapangan itu. Teredia juga beberapa ayunan dan kuda-kudaan yang disediakan untuk bermain anak-anak. Di dalam kafe itu ada juga beberapa meja biliard yang tiap malam dipakai bermain oleh pelanggannya, entah dengan menyewa atau gratis, saya belum pernah bermain di sana.
Kedua kafe itu juga menyediakan televisi 29 Inch yang sering digunakan untuk menyaksikan pertandingan sepakbola  baik Liga Inggris, Liga Italia atau Piala Champion.
Namun jika klub-klub besar Mesir, seperti al-Ahly atau Zamalek bertanding jangan harap bisa melihat pertandingan klub-klub Eropa. Orang Mesir jauh lebih suka klub lokal daripada klub-klub asing. Pemain kebanggan mereka, Mido, kini merumput di Premier League Inggris.
Sekarang kedua kafe itu tidak ada, hanya menyisakan dua kios kecil yang kosong. Sekitar dua bulan lalu pemerintah setempat menggusur kedua kafe itu. Sebab pastinya kurang jelas, namun terdengar desas-desus kalau kedua kafe itu masing-masing mempunyai tanggungan utang pajak sebesar 30.000 Pound Mesir. Aneh juga padahal kafe-kafe itu selalu ramai setiap malam, dan saya yakin pendapatan mereka juga besar. Bahkan sebuah rumah makan Thailand juga menyewa tempat pada pemilik kafe itu beberapa bulan sebelum digusur.
Kini, Suq Sayyarat yang hingar-bingar di sore hari, selalu sepi ketika malam. Hanya lolongan beberapa anjing gurun yang kerap memenuhi tempat itu. Beberapa lampu juga padam sehingga menimbulkan kesan temaram. Kawan-kawan mahasiswa Indonesia jika lewat tempat itu pada malam hari menghindari sudut-sudut yang gelap dan sepi. Di sudut-sudut yang gelap itu sering digunakan orang-orang tak jahat untuk merampas harta orang yang lewat, terutama jika sendirian. Beberapa kali terdengar kawan-kawan mahasiswa Indonesia dan Malaysia dirampok. Ada yang pasrah dan ada yang melawan sampai babak belur. Untuk menghindarinya jika berjalan sendirian harus memutar melewati trotoar tepi jalan raya yang ramai.  Yang kasihan orang Malaysia karena asrama mereka terletak di ujung Suq Sayyaraat sebelah dalam, agak jauh dari jalan raya. Kalau ingin pilang malam hari mereka harus memutar di pemukiman penduduk yang ramai, kecuali nekat. Syukur-syukur para pemalak itu sedang malas.   

Nasr City-Kairo, 26 April 2006

Tidakkah Cukup

April 28th, 2006 by faisalzulkarnaen

Apa yang hendak engkau cari?
Uang?
Masih banyak jalan
Ketenaran?
Juga tidak sedikit cara lain
Hidup ini singkat saja
Kau pasti tahu maut akan datang
Tapi mungkin engkau tak sadar…
saat ia begitu saja menjemputmu
Orang hanya butuh sejengkal tanah untuk menguburmu
Bukan uang, ketenaran, atau playboymu itu

Nasr City-Cairo, 11 Februari 2006

Aduh Negeriku

April 16th, 2006 by faisalzulkarnaen

Aduh…negeriku
Bukan lautan tapi kolam susu
Tongkat dan Batu Jadi Tanaman*

Aduh…negeriku
Negri surga zamrud khatulistiwa
Kini Merana

Aduh…negeriku
Menumpuk Utang
Tak terbayar

Aduh..Negeriku
Utang proyek
Untuk sunatan Massal

Aduh…Negriku
Sawah menghampar
penuh tikus menggelepar

Aduh..Negeriku
Tikus-tikus rakus
tak tahu malu

Aduh…negeriku
yang ku tahu
pun tikus tak rakus-rakus

Aduh…negeriku
Tikus makan rakus
siapa yang akan mampus?

Aduh…aduh…aduh….
Negeriku…negeriku…

Kairo, 12 April 2006

Perjalanan Hidup Adalah Belajar

April 11th, 2006 by faisalzulkarnaen

Tulisan ini yang pertama kali saya tulis untuk berbagi kebahagiaan (tahadduts binni’mah). Agar kebahagiaan yang saya pernah rasakan juga bisa dirasakan oleh yang lain, mudah-mudahan suatu saat juga akan merasakan kebahagiaan yang sama.
Kemarin, hari Jum’at (31/3) saya diundang oleh kawan saya untuk ikut majelis semaan dan khataman al-Qur’an Jantiko Mantab di Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCI-NU) Mesir. Mendengar Jantiko Mantab saya teringat dengan kota kecil nan permai, kota kelahiran saya Jombang. Dahulu saya sering melihat pelaksanaan majelis semaan dan khataman al-Qur’an ini, bahkan yang membuat saya takjub acaranya diadakan di Polres Jombang dan polsek di beberapa kecamatan. Tampaknya acaranya  cukup diminati banyak orang karena disana para penghafal al-Qur’an (al-huffadz) berkumpul dalam komunitas Jantiko Mantab. Kata kawan saya itu Jantiko Mantab adalah sebuah akronim, tapi saya lupa itu akronim dari apa.
Awal ide pengadaan Jantiko Mantab ini adalah bagaimana membentuk sebuah komunitas pembaca al-Qur’an. Pertamanya memang mengambil konsep Jantiko Mantab di Indonesia sehingga namanya pun disamakan karena para hafidz belum terkumpul semuanya. Namun dalam pelaksanaannya secara struktural pelaksanaan majelis khataman di PCI-NU Mesir ini tidak ada hubungan dengan di Indonesia.  Jika suatu saat nama itu dirasa perlu diubah maka akan dibicarakan dengan para anggotanya.
Waktu itu saya tidak terlalu peduli dengan hal itu (Jantiko Mantab) karena tidak terlalu faham bagaimana ini dan itu. Saya dari kecil terdidik dalam sekolah umum yang minim pelajaran agama, SD, SMP, dan SMU. Untunglah Bapak dan Ibu (semoga mereka selalu dirahmati oleh Allah) sejak kecil selalu menanamkan ajaran agama pada saya semampu mereka. Karena saya perhatikan Bapak dan Ibu saya bukanlah orang yang pandai agama. Mereka hanya orang-orang biasa yang hanya sedikit faham tentang fikih, tentang bagaimana bermuamalat dalam Islam dan yang lainnya. Latar belakang keluarga saya bukanlah keluarga santri tulen. Orang tua saya bisa dikatakan masih tergolong awam. Yang saya rasakan paling berkesan adalah bahwa sejak kecil saya selalu diajari untuk tidak meninggalkan sholat dan diajari membaca al-Qur’an. Lingkungan kampung kecil saya juga ikut membentuk perkembangan saya sejak kecil. Lingkungan yang cukup agamis namun belum ada ulama mumpuni.
Ketika SMU saya sangat bersyukur bisa tinggal di pesantren (PP Sunan Ampel, Jombang) dan siangnya sekolah di SMUN 2 Jombang. Sejak itu sedikit-sedikit saya diajari untuk mengenal lebih dekat agama yang saya anut sejak lahir. Saya sedih jika mengingat banyak sekali umat Islam yang tidak (mau) mengenal ajaran agamanya dengan baik. Bukan berarti saya berpendapat bahwa setiap anak harus masuk pesantren. Namun bagaimana menciptakan sebuah generasi yang mempunyai kualitas keilmuan umum baik juga faham tentang agama. Saat ini dibutuhkan ilmuwan sekelas ahli kedokteran Ibnu Sina (Avicena) yang juga seorang agamawan. Di Indonesia saya melihat Baharuddin Jusuf Habibie adalah seorang tekhnokrat yang juga santri. Di zaman Rasulullah, Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu adalah seorang negarawan dan politikus yang agamawan. Dengan begitu ilmu yang ada pada diri mereka digunakan untuk kesejahteraan umat bukan untuk kepentingan diri sendiri seperti banyak terjadi. 
Benar sekali kata ustadz yang mengajar saya. Islam itu memang dibangun di atas landasan rukun Iman dan Islam namun di sana juga ada tuntunan bagaimana beribadah, bermuamalah (kehidupan sosial), berakhlak, dan segala hal menyangkut kehidupan. Sedangkan kehidupan di dunia ini adalah jembatan menuju akhirat. Semuanya terangkum dalam al-Kitab dan al-Hadits. Dalam Islam semuanya sudah lengkap diajarkan oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam sebelum beliau wafat. Ustadz saya itu mengkiaskan rukun Iman dan rukun Islam itu sebagai pondasi dan pilar sebuah rumah, sedangkan muamalah, akhlak, dan yang mendukung kehidupan beragama kita sebagai dinding dan atap serta hiasan-hiasan lainnya. Jika seorang muslim mampu melihat itu semua sebagai sebuah kesatuan yang utuh maka Islam dalam diri kita bagaikan sebuah rumah yang terbangun secara lengkap.
Kembali pada undangan tadi, awalnya saya tidak begitu respek atas undangan kawan saya itu, dan Jantiko Mantab sudah berjalan dua kali tapi saya tidak hadir. Alasannya saya belum hafal Qur’an dan anggapan saya bahwa Jantiko Mantab itu komunitas para penghafal (hafidz) al-Qur’an. Terus terang saya merasa agak minder. Tapi teman saya itu mengingatkan bahwa di sana akan dibutuhkan penyimak yang membawa mushaf, jadi saya sedikit berbesar hati. Untuk memantapkan niat saya teringat sebuah pepatah jika berkumpul dengan penjual ikan maka kita akan bau ikan namun jika kita berkumpul dengan penjual minyak wangi maka kita juga akan ikut wangi. Dari sinilah saya berfikir barangkali saya juga akan tertular dan termotivasi untuk menghafal al-Qur’an. Amin. Yang paling utama adalah seseorang yang membaca mendengarkan dan menyimak orang membaca al-Qur’an pahalanya sama dengan pembacanya.
Dalam acara itu berkumpul lebih dari 10 orang hafidz dan sekitar 30 lebih penyimak yang sebagian juga hafal beberapa juz. Total semuanya sekitar 40 orang lebih dan itu tidak hanya warga NU saja namun ada juga beberapa huffadz dari luar NU. Menurut koordinatornya, salah satu tujuan Jantiko Mantab diadakan di Mesir ini adalah untuk menjaga kebersamaaan kita sebagai umat Islam Indonesia di Mesir. Saya sendiri karena belum hafal mendapat tugas menyimak dengan membawa mushaf. Ketika itu saya merasakan kenikmatan yang luar biasa berkumpul dan menyimak para hafidz membaca al-Qur’an di luar kepala. Seingat saya di pesantren dulu tiap bulan (berdasarkan tanggal hijriah, tapi saya lupa tanggal berapa) juga ada acara seperti ini namun karena acaranya pagi saya jarang sekali mengikuti karena harus sekolah. Biasanya kalau bertepatan dengan hari Minggu baru ikut menyimak. Namun rasanya tidak senikmat Jum’at yang lalu karena dulu para hafidznya membaca dengan sangat cepat sehingga saya sering tertinggal ketika menyimaknya. Berbeda dengan kemarin, para hafidz muda yang seumuran saya membacanya dengan tartil sehingga lebih menghayatinya.
Hari itu para hafidz dan penyimaknya dibagi menjadi sekitar 7 kelompok termasuk 2 kelompok putri. Sehingga dalam satu waktu al-Qur’an dapat dikhatamkan sebanyak tujuh kali. Khataman Qur’an juga merupakan tradisi para sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Sehingga Jantiko Mantab bisa menjadi wadah untuk melestarikan tradisi mengkhatamkan al-Qur’an di mana do’a setelahnya merupakan do’a yang maqbul.
Jum’at yang lalu penutupnya tidak dilaksanakan hari itu juga namun ditunda sampai esok harinya berbarengan dengan Istighotsah Kubro dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam.
Esoknya itstighosah Kubro dilaksanakan di Aula Griya Jateng. Yang hadir kurang lebih 300 orang. Benar-benar jumlah yang luar biasa. Waktu saya dating istighosah sudah dimulai beberapa menit. Etelah istighosah dilanjutkan lantunan Dzikir Ilahiyat yang ditulis oleh Ibnu Atho’illah as-Sakandari. Bagi saya dzikir dan doa yang dibacakan salah seorang panitia membuat saya benar-benar terenyuh. Terenyuh dengan kehidupan di masa-masa yang lalu. Dan saya pun menangis.
Acara pun tidak berhenti sampai sini saja. Lantunan sholawat dalam Dziba’iyah menngema seantero aula. Rasanya saya bernostalgia dengan kampong saya. Sudah lebih dari 2 tahun saya tidak pernah mengikuti Dziba’iyah sejak meninggalkan kampung halaman. Rasanya sungguh bahagia bias bersama-sama bersholawat untuk Nabi. Dalam acara ini hadir juga beberapa pejabat KBRI termasuk Kepala Perwakilan RI Ad Interim H. M. Muzammil Basyuni. Rasanya Kaliwungu tidaklah terlalu jauh dengan Kairo. Saya teringat masa-masa saya masik kanak-kanak. Setiap seminggu ekali kami mengadakan Sholawat dan Dziba’iyah yang berisi cerita kehidupan dan sifat-sifat Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Biasanya diiringi dengan rebana dengan irama yang rancak.
Setelah itu para hafidz pun menyelesaikan khataman al-Qur’annya dengan membaca mulai surat ad-Dhuha sampai terakhir an-Naas. Lalu dilanjutkan dengan do’a khotmil Qur’an. Do’a khotmil Qur’an ini adalah salah satu do’a yang mustajab. Dalam ceramahnya di acara ini DR. Mukhlis M. Hanafi, M. A. mengatakan bahwa sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu mempunyai mata-mata di masjid Madinah yang memberikan informasi padanya jika ada orang yang hendak mengkhatamkan al-Qur’an, kemudian Ibnu Mas’ud akan datang untuk mengamini do’a khotmil Qur’an di akhir khatamannya.
Acara ini juga menghadirkan DR. Mukhlis M. Hanafi, M.A. sebagai pembicara untuk memberikan mauidzhah Hasanah. Benar-benar luar biasa ilmunya. Seorang yang mempunyai ilmu tidak akan kehabisan bahan untuk disampaikan. Sebuah bulletin mahasiswa di Kairo yang pernah mewawancarai beliau menulis bahwa DR. Mukhlis .M. Hanafi, M. A. menggunakan 15 jam etiap hari untuk membaca buku.
Dalam ceramahnya beliau sangat memberikan apresiasi atas diadakannya rangkaian acara Memperingati Maulid Nabi dengan Istighosah Kubro, Khotmil Qur’an, Dziba’iyah, Teater, dan Launching Baku karya warga NU Muda. Beliau bangga melihat generasi muda NU di Kairo tidak berhenti berkarya.
Penghinaan atas Nabi di barat menurut beliau hanyalah hal yang biasa. Sejak Nabi Shalallahu alaihi wa sallam diangkat menjadi Rasul hinaan itu sudah menimpa Rasulullah. Bagaimana Nabi pernah diludahi kaum kafir Qurays, dilempar dengan kotoran, dan paling parah adalah dikatakan sebagai orang gila. Hinaan mana yng lebih hina daripada dianggap gila? Jadi apa yang dilakukan orang Denmark dan Norwegia seharunya menjadi momen penting untuk menggalang kesatuan umat Islam.
Bahkan dalam al-Qur’an, kata beliau, hinaan dari kafir Qurays itu tidak ditutup-tutupi namun ditulis dengan jelas dan diceritakan bagaimana Nabi dicaci oleh kafir Makkah.
Oleh karena itu dalam kesempatan itu beliau juga mengharapkan kepada para insane pers di Masisir untuk tidak menyingkat Shalallahu Alaihi Wa sallam setelah nama Rasul menjadi S.A.W.  karena itu merupakan pekerjaan para orientalis. Beliau menceritakan bahwa para orientalis itu ketika menterjemahkan manuskrip-manuskrip sering menyingkat shalawat atas Nabi dengan huruf Shad, Lam dan Mim. Beliau mengajak para jurnalis muda perbuletinan Kairo untuk memulai menulisnya secara lengkap dan tidak menyingkatnya. Setiap huruf dari apa yang kita tulis itu akan dihitung sebagai kebaikan.Satu kali kita berholawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam maka Allah akan memberikan kita 10 kebaikan. Subhanallah. Dan masih banyak lagi keutamaan bersholawat.
Sungguh malam itu saya mendapatkan pencrahan yang luar biasa. Saya terkesima -dan saya yakin hampir semua orang yang ada di ruangan itu mengalami hal yang sama dengan saya, terlihat dari ekspresi mereka- dengan penjelasan yang disampaikan DR. Mukhlis M. Hanafi, M. A. Begitu sarat dengan ilmu. Begitulah orang yang berilmu ketika berbicara tidak asal ngomong dan disertai dengan data serta dalil yang kuat . Dan itu membuat motivasi saya tumbuh kembali. Malam itu saya mulai menata kembali rel-rel yang berserakan untuk pemberhentian berikutnya.

Wassalam.
Kairo, 2 April 2006

Mitos Graono Srengenge (Gerhana Matahari)

March 29th, 2006 by faisalzulkarnaen

Dulu sewaktu saya masih kecil, saya tinggal di sebuah kampung yang damai bernama Kaliwungu. Sebagian besar penduduknya adalah para petani. Jalanan di kampung saya itu masih sering becek di musim hujan dan sebagian besar masih gelap jika malam hari. Kecuali beberapa warga yang secara sukarela memasang lampu neon di jalan depan halaman rumah. Sebetulnya tidak sedikit yang memasang lampu namun karena penduduknya juga tidak terlalu padat dan masih banyak pekarangan kosong sehingga kalo malam gelap gulita.

Di dekat rumah saya ada langgar (surau) kecil. Setiap selesai sholat Isya’ beberapa orang masih mengobrol sampai malam. Jika malam Minggu atau malam libur lainnya anak-anak pun biasanya membentuk kelompok sendiri di halaman depan langgar yang cukup luas namun remang-remang karena penerangan yang minim.

Saya masih ingat waktu itu saya dan kawan2 bermain di teras surau sehabis sholat Isya’. Halaman tampak terang benderang karena bulan purnama. Tiba-tiba salah satu dari orang tua yang menemani kami seingatku berkata begini,"He iko lo ono graono mbulan, ben cepet dhuwur mene’o watang utowo wit-witan." (Hai, itu ada gerhana bulan. Kalo pengen cepet tinggi memanjatlah galah atau pohon). Itulah mitos orang-orang tua di kampung. Karena kebanyakan mereka berpendidikan rendah. Kami yang masih kecil ketika itu pun tidak berpikir panjang. Ada yang naik pohon kelapa walaupun tidak sampai puncaknya, ada yang bergelantungan di atas dahan pohon, ada yang bergelantungan di palang pintu, saya sendiri bergelantungan di cabang pohon jambu. Kata orang tua-tua waktu itu jangan turun sebelum gerhana berakhir. Tapi dasar anak kecil ada yang tidak kuat, saya sendiri hanya sebentar sudah meloncat turun. Namun kami semua berharap dalam hati agar tubuh cepat tinggi. Kami sendiri sebenarnya tidak tahu apakah hal itu benar atau hanya orang-orang dewasa itu bergurau karena ketika kami bergelantungan mereka tampak senyum-senyum memandangi tingkah polah kami. Kata mereka mitos itu memang sejak dulu dihembuskan di kalangan warga kampung. Kalo ingin tubuh cepat tinggi, memanjatlah sesuatu jika ada gerhana.

Setelah bertahun-tahun saya baru menyadari bahwa apa yang dikatakan para orang tua kampung kami itu masuk akal. Saya seirng tersenyum sendiri jika mengingatnya. Itu hanyalah permainan kata-kata yang bisa menipu anak-anak kecil. Kalau di nalar secara logika orang yang memanjat pohon otomatis akan lebih tinggi dari orang lain. Sungguh tega orang-orang itu mengerjai kami. :) Namun kami yakin kebersamaan di kampung saya Kaliwungu akan terkenang sepanjang hayat.

Itu hanya prolog untuk mengenang masa kecil yang indah. Kemarin siang setelah sholat Dhuhur di Masjid Shohabah dekat rumah, seorang jamaah mengingatkan bahwa ada Gerhana Matahari. Mesir merupakan salah satu negara yang dilewati gerhana Matahari pada 29 Maret 2006 sekitar pukul 12.00. Jamaah itu mengingatkan bahwa Rasulullah mengajarkan kita agar melakukan sholat sunnah gerhana matahari (Sholat Kusuf).

Pada zaman Rasulullah SAW pernah terjadi gerhana Matahari yang bersamaan dengan meninggalnya putra beliau Abdullah. Kala itu Rasulullah segera berseru bahwa gerhana Matahari adalah peristiwa alam biasa dan tidak ada hubungannya dengan kematian seseorang. Begitulah ajaran Islam yang mengajarkan kita agar tidak mempercayai mitos dan mengajak agar berfikir ilmiah terhadap fenomena alam.

Setelah diceritakan tentang gerhana matahari pada masa Nabi. Para jamaah yang belum meninggalkan masjid melakukan sholat sunnah Kusuf. Inilah sholat sunnah gerhana pertama kali dalam hidup saya. Sejak kecil saya selalu belajar teori tentang sholat gerhana namun tidak sekalipun saya mempraktekkannya ketika di Indonesia walaupun ketika itu beberapa kali terjadi gerhana matahari dan bulan.

Sholat gerhana Bulan/Matahari dilaksanakan dua rakaat. Yang membedakan dengan sholat sunnah lainnya tiap rakaat dilakukan ruku’ dua kali dan bacaan Fatihah serta surat pendek dinyaringkan seperti sholat Jum’at.

Gerhana matahari adalah fenomena alam yang langka terjadi. Namun itu hanyalah fenomena biasa yang terjadi karena posisi sejajar Bumi, Bulan dan Matahari. Jadi tidak ada alasan apapun untuk mengaitkan gerhana dengan kejadian tertentu atau kematian seseorang.

Anehnya sampai saat ini ada juga yang masih mempercayai bahwa jika ada gerhana Matahari wanita hamil tidak boleh keluar rumah karena bisa menyebabkan janinnya buta. Seperti di India. Juga jika memasak sebelum gerhana makanan tersebut harus dibuang karena dipercaya mengandung racun dan orang yang membawa senjata saat gerhana dipercaya akan bunuh diri. Padahal ilmu pengetahuan sudah menerangkan tentang proses gerhana itu.

Menurut pandangan subyektif saya bisa jadi orang akan bunuh diri malah karena ia percaya mitos tersebut. Sehingga secara psikologis ia akan tertekan dan tergerak untuk bunuh diri. Keyakinan yang salah akan berakibat fatal. Bagaimana mungkin hal itu dianggap benar. Kalau saja benar, barangkali polisi-polisi dan tentara di negara-negara yang dilewati gerhana akan menembak kepalanya sendiri. Nyatanya tidak!

Cairo, 30 Maret 2006

04:21

Romantisme Islam dalam Ayat-Ayat Cinta

February 15th, 2006 by faisalzulkarnaen

Hatiku gerimis setelah membacanya. Begitulah kira-kira kesan saya setelah membaca karya Habiburrohman el-Shirazy, seperti yang ditulis di dalamnya. Ayat-Ayat Cinta (AAC) adalah sebuah novel yang bisa membuat pembacanya larut dalam alur cerita. Tokoh utama, Fahri, dalam novel ini digambarkan sebagai seseorang yang bersemangat dalam hidupnya dan bisa membuat orang iri.
Sebenarnya meringkas karya Kang Abik (panggilan akrab Habiburrohman) ini lebih sulit dibandingkan meringkas muqorror (diktat kuliah) Universitas al-Azhar. Setiap detail konfliknya sayang untuk dilewatkan begitu saja. Hampir tiap bab novel yang telah dicetak lima kali dalam 3 tahun ini, terdapat ajaran moral yang tinggi. Referensi yang mengiringinya lebih dari 10 buku, termasuk al-Qur`an. Namun entah kenapa Kang Abik tidak mencantumkan al-Qur`an dalam daftar pustakanya. Novel pakai daftar pustaka?
Barangkali yang membedakan AAC dengan novel-novel yang lain adalah banyaknya buku rujukan. Bagi saya ajaran moral dan agama yang didasarkan pada referensi-referensinya menjadi penyeimbang novel-novel (maaf) cabul yang mulai banyak bertebaran di Indonesia. Hal-hal yang dianggap tabu di kampung saya untuk dibicarakan sekarang dibungkus dengan label sastra oleh beberapa penulis. Bukankah lebih baik dinikmati saja dan tidak perlu diumbar? Dalam AAC kita akan menemukan bahasa yang lebih santun.
Baiklah, agar tidak melebar akan sedikit saya ringkaskan alur novel best seller ini. Fahri Abdullah adalah pemuda kampung yang sedang menempuh program Magister di Universitas al-Azhar, Kairo. Sebelumnya ia juga mendapat gelar sarjananya juga dari al-Azhar. Sudah 7 tahun ia belum pernah pulang ke kampungnya, sebuah desa di Jawa. Untuk ukuran Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir), ia termasuk lancar dalam menempuh studi.
Fahri adalah seorang yang aktif. Jadwal kegiatan sehari-harinya sangat padat hingga terkadang kesulitan untuk membuat janji baru. Sebagai mahasiswa S2 al-Azhar Fahri cukup sibuk walaupun sudah tidak aktif di organisasi. Selain mempersiapkan tesis, Fahri juga sering diminta mengisi khutbah Jum’at di Masjid Indonesia Kairo Ia juga harus menyetor bacaan dan hafalan Qur’annya pada seorang Sheikh yang cukup mashur di Mesir.
Fahri terlahir bukan dari kelarga berada sehingga ia dituntut bisa mandiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia menerjemahkan literatur-literatur berbahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia. Selama ini ia mendapatkan kontrak dari penerbit di Jakarta.
Menempati sebuah flat, Fahri tinggal bersama empat kawannya.di Hadayek Helwan, lokasi yang jauh dari komunitas masyarakat Indonesia. Ia bertetangga dengan keluarga Kristen Koptik yang mempunyai seorang anak gadis bernama Maria. Fahri dan kawan-kawannya telah menjalin hubungan persahabatan yang erat dengan keluarga Maria sejak beberapa tahun mereka tinggal di sana.
Suatu malam terjadi keributan dalam keluarga salah satu tetangga mereka. Seorang gadis Mesir diusir oleh keluarganya karena suatu sebab. Fahri yang tidak tahan dengan suara tangisan perempuan, menyuruh Maria untuk menolong Noura, nama gadis itu. Maria mengajak Noura untuk masuk ke kamarnya.
Mengetahui kejadian tersebut, ayah Maria menginginkan Noura untuk pindah ke tempat orang yang seakidah, karena takut terjadi salah pengertian dengan keluarga Noura yang muslim. Salah faham yang akan terjadi dapat meluas menjadi sebuah permasalahan besar menyangkut umat Islam dan Kristen Koptik di Mesir yang selama ini hidup rukun dan damai.
Akhirnya, Fahri meminta Nurul -seorang mahasiswi Indonesia- untuk menampung dan menyembunyikan Noura dari keluarganya sambil mengorek informasi tentang sebab pengusirannya. Nurul adalah ketua Persatuan Mahasiswi Indonesia di Mesir (WIHDAH).
Tokoh aku (Fahri) digambarkan sebagai seorang yang sabar dan berpengetahuan luas. Selain Bahasa Arab, ia juga menguasai bahasa Jerman dan Inggris. Pertemuan dengan Aisha dan tiga turis Amerika membuktikan hal itu.
Dalam sebuah insiden di Metro (kereta bawah tanah) Fahri dan Aisha berkenalan. Fahri membantu Aisha yang terpojok dalam konflik dengan orang Mesir. Fahri menjadi penengah dan berhasil menyelesaikan masalah tanpa menyakiti siapa pun. Aisha adalah muslimah Jerman yang masih berdarah Turki dan Palestina. Ia pun tertarik mendalami Islam dari Fahri.
Pada akhir cerita terkuaklah bahwa Maria, Noura, Nurul dan Aisha yang mempunyai latar belakang berbeda itu jatuh hari pada orang yang sama yaitu Fahri Abdullah. Kang Abik menceritakannya dengan alur yang indah. Dipenuhi dengan detail-detail yang akan mengurangi keutuhan cerita bila dilewatkan.
Konflik batin tokoh utama Fahri yang diungkapkan dalam sudut pandang orang pertama juga bisa mengaduk-aduk emosi pembaca. Kadang pembaca bisa dibuat sedih, suatu saat penasaran dan kadangkala tersenyum sendiri. Seakan kita ikut merasakan kelelahan Fahri berjalan saat musim panas di atas 40° Celcius atau bagaimana gemetarnya Fahri ketika akan berjumpa calon istrinya. Kita juga seakan dibawa memasuki penjara bawah tanah Mesir ketika Fahri dimasukkan ke dalamnya-yang menurut saya lebih dramatis dari apa yang digambarkan Kang Abik.
Latar tempat yang digambarkan Kang Abik mengenai Mesir, terutama Kairo, cukup detail. Dengan membaca AAC kita jadi tahu seberapa luas pengetahuan penulisnya tentang Kairo. Bagi orang yang pernah tinggal cukup lama di Kairo novel ini bisa menjadi nostalgia tersendiri. Di dalamnya banyak dituliskan istilah-istilah bahasa Arab gaul atau dikenal dengan istilah Arab ‘Ammiyah. Bahasa Jerman dan Inggris membuat perwatakan tokoh utamanya semakin lengkap.
Sesuai dengan judulnya yang mencantumkan kata cinta, AAC juga akan membuat pembaca tenggelam dalam irama romantis sepasang kekasih. Tentu saja tanpa melanggar batas-batas moral dan syari’ah Islam. Mungkin karena tokoh dan penulisnya sama-sama Azhary (sarjana al-Azhar) yang dalam pandangan masyarakat Mesir adalah orang-orang yang terpelajar, khususnya mengenai Islam. Di sana orang-orang Azhari menjadi panutan bagi orang-orang awam. Sehingga akan sangat memalukan jika orang Azhari bersikap atau berbuat sesuatu di luar koridor syari’ah Islam.
Dalam beberapa paragraf saya melihat sedikit kejanggalan, misalnya ketika Fahri dan kawan-kawannya makan malam bersama di atap apartemen. Sepengetahuan saya hampir semua atap apartemen di Kairo itu gelap tanpa penerangan sama sekali. Tidak diceritakan Fahri dan kawan-kawannya membawa penerangan apapun. Jadi apakah mereka menikmati ayam bakar dengan meraba-raba??
Tokoh aku seharusnya tidak mengetahui jalan pikiran atau perasaan tokoh lain. Barang kali Kang Abik lupa, misalnya ketika Maria sakit dan orang tuanya meminta bantuan pada Fahri. Bagaimana si aku bisa mengetahui perasaan ibu Maria yang bersedih tanpa dicantumkan kalimat langsung atau tak langsung. Barangkali jika diungkapkan dengan dialog hal ini tidak akan terjadi.
Sebelum membaca AAC saya pernah membaca dalam sebuah milis forum sastra yang menyebutkan bahwa tokoh aku digambarkan terlalu sempurna. Bagi saya itu sah-sah saja. Pada sampul depan dituliskan Ayat-Ayat Cinta, Sebuah Novel Pembangun Jiwa. Bagaimana novel ini bisa membangun jiwa jika tokohnya tidak bisa menyindir atau membuat iri pembaca karena belum bisa seperti sang tokoh yang punya semangat dan akhlak bagus -untuk tidak mengatakan sempurna. Tidak cocok rasanya jika tokohnya mempunyai banyak kelemahan. Nyatanya Fahri juga tidak terlalu sempurna, ia juga masih banyak meminta bantuan orang lain. Barang kali di beberapa bagian, penyampaian pesan moral penulisnya, menurut saya masih agak kaku.
Tidak ada novel yang sempurna, namun sedikit kelemahan yang saya ungkapkan di atas, insya Allah tidak akan mengurangi kenikmatan membaca AAC. Sebagai novel pembangun jiwa, AAC seakan menjadi oase di tengah degradasi nilai moral masyarakat. Di dalamnya berisi toleransi antar agama dan sesama, kesahajaan seorang penuntut ilmu, cinta, dan kesabaran menghadapi masalah.
Mungkin apa yang saya tuliskan di sini sangat subjektif. Untuk menikmati sudut-sudut konflik dan romantismenya, tulisan ini sangat jauh dari cukup. Siapakah dari keempat tokoh perempuan yang akhirnya mendapatkan cinta Fahri? Akan anda temui dalam Ayat-Ayat Cinta. Selamat membaca!(FZ)

Nasr City-Cairo, 23 Januari 2006

AKU , PAK TUA DAN KELEDAI

January 14th, 2006 by faisalzulkarnaen

Udara panas Kairo bercambur debu-debu berterbangan membuat kegerahanku lebih sempurna. Tapi hal itu tidak lantas membuatku membenci kota perantauanku ini. Banyak hal menarik sering ku dapatkan di sini. Toleransi tinggi yang seringkali kontra dengan lengkingan keras orang Arab yang bertengkar sengit setelah mobil mereka "berciuman". Walaupun mereka bertengkar sangat sengit tapi jarang yang kulihat sampai adu pukul, paling parah hanya saling mendorong atau hanya tarik-tarikan kerah baju. Yang menarik lagi, aku selalu tersenyum ketika seekor keledai yang membawa tuannya melintas di jalan raya yang padat. Seolah ia menjadi raja jalanan karena mobil-mobil –yang sebagian mobil mewah- harus rela menunggu keledai yang lamban itu sampai di seberang jalan.

Aku berjalan agak lunglai setelah turun dari bis kota bernomor 80 Coret yang membawaku pulang dari kuliah. Pada masa ujian ini kendaraan itu pasti dijejali para pelanggannya yang kebanyakan mahasiswa. Pikiranku agak kusut melamunkan kertas ujian yang hanya terisi beberapa baris. Sengatan raja siang tak membuat pikiranku berhenti memikirkannya. Mataku mengeja deretan mobil yang terparkir di samping jalan. Mulai dari Fiat sampai Mercedes Benz yang harganya "wah" itu. Beberapa langkah lagi aku sudah sampai di flat yang ku sewa dengan enam orang teman.

Sesampai di rumah langsung ku teguk air dari dalam lemari es tua. Badan terasa lebih segar setelah aliran dingin membasahi tenggorakanku. Ku lempar pandangan ke sekeliling dapur, tidak ada makanan. Beras pun sudah habis sejak tadi malam. Bulan tanggung begini biasanya kawan-kawan masih kantong bolong. Beasiswa dari kuliah masih seminggu lagi baru turun. Tapi aku belum pernah mengecap beasiswa yang diperoleh sebagian besar mahasiswa Indonesia di Kairo ini.

Kurasakan perutku melilit, lapar. Sejak dari pagi perutku belum terisi makanan sama sekali, hanya segelas teh manis sebelum berangkat kuliah. Ku rogoh saku baju, masih ada 2 Pound, cukup untuk membeli 2 potong thokmeyya bil beidh untuk mengisi perut. Makanan Mesir rata-rata lebih murah dari pada nasi. Mereka makan bubur kacang dan roti gandum. Tapi aku kurang terbiasa makan bubur kacang itu. Aku lebih suka thokmeyya yang kurasakan lebih mirip makanan Melayu dari pada bubur kacang.

Keluar dari warung kecil itu, aku tak langsung pulang ke rumah. Bagiku lebih baik jalan-jalan menyaksikan berbagai tingkah orang dari pada harus merutuki ujianku tadi siang. Seringkali aku mendapatkan pelajaran berharga di jalanan negeri berdebu  ini.

Dalam perjalananku -tak tahu harus ke mana- aku disalip 3 orang mahasiswa Indonesia. Meski aku tak kenal, aku sering melihat mereka di acara-acara kemahasiswaan. Pakaian mereka bertiga menunjukkan kalo mereka dari keluarga berada atau mungkin kaya. Meski berbeda warna dan merek, semuanya tampak memakai jenis pakaian yang sama. Kaos trendi dan celana jeans dipadu dengan sepatu sport yang tampaknya mahal melekat di badan mereka. Jauh berbeda dengan sepatuku yang sudah setahun lebih belum berganti. Hanya warnanya kini berganti lebih putih, memudar.

Seorang dari mereka tampak memainkan HP keluaran terbaru dengan kamera built in. Seorang lagi menenteng sekaleng minuman ringan. Yang lain menggendong tas di punggungnya. Semuanya tampak mewah. Kuperhatikan saja tingkah mereka yang selalu bercanda sepanjang jalan, seolah tiada kesedihan terbersit dari muka mereka. Tak lama berselang mereka bertiga tampak masuk sebuah restoran fast food yang punya cabang di seluruh dunia, juga di negeriku Indonesia. Ah, tiba-tiba saja rasa iri membuncah di dadaku. Kalau saja aku seperti mereka, aku mungkin tak butuh HP mewah itu atau makan di restoran mahal itu. Dan tentu saja aku bisa ikut kursus bahasa yang ku impikan, daripada kehidupan hedonis seperti itu. Aku tak tahu apakah mereka juga dapat beasiswa seperti kebanyakan mahasiswa atau tidak. Kalau saja….ahhh langsung saja ku buang pikiran buruk itu.Ya Allah maafkan aku, kenapa aku jadi tidak mensyukuri nikmat-Mu?

Tiba-tiba aku terpaku melihat seorang tua berjubah putih yang tidak layak lagi disebut putih. Jubah itu sudah lusuh, kotor oleh debu dengan beberapa tambalan di sana sini. Surban yang juga lusuh menutupi kepalanya. Wajahnya tampak kuyu kepanasan. Jambangnya yang mulai memutih makin menambah kelesuan wajahnya. Badannya kurus, ironi jika dibandingkan dengan laki-laki bertubuh tambun dalam mobil di dekatnya. Tangan kanannya menuntun tali kekang keledainya yang yang juga kurus kering. Binatang lamban itu setia mengikuti kemanapun tuannya pergi. Punggungnya menahan dua buah karung yang ada di kanan kiri tubuhnya. Dihubungkan dengan karung lain yang dijahit menyambung, menjadi penahan kedua karung itu. Tampaknya Pak Tua ini seorang pemulung.

Sejak aku berteduh di halte, ku lihat matanya terus mengikuti tingkah tiga orang mahasiswa asing itu hingga masuk restoran. Kemudian ia membuka tong sampah besar di depan restoran itu. Diaduknya isi tempat sampah itu, beberapa benda dimasukkannya dalam kantong keledainya. Lalu hatiku terguncang-guncang ketika ia memakan sesuatu dari tempat sampah itu. Tak pernah terbayangkan bagiku kalau dia akan memakan makanan sisa dari tempat sampah. Aku jadi menyesal telah iri pada mahasiswa-mahasiswa itu. Ternyata ada yang jauh lebih layak untuk "iri" daripada aku. Lagi-lagi aku harus bersyukur karena Tuhan masih mengingatkanku.

Masih ku perhatikan ketika ia selesai mengaduk isi tempat sampah itu. Ia menuju tempat air minum di pinggir jalan yang disediakan untuk umum. Diteguknya dua gelas air dingin dari kran minum itu. Lalu dengan bajunya ia mengelap sisa-sisa air yang menetes di dagunya. Kemudian ia duduk berteduh di pinggir trotoar yang rindang oleh pohon besar.

Aku bangkit dari kursi panjang di halte kecil itu. Ku dekati dia dan ku sodorkan selembar uang kertas 50 Piaster, sisa membeli thokmeyya. Di luar dugaanku ia menolaknya sambil menatap tangan dan mukaku bergantian. Hah, aku tak percaya dia menolak pemberianku, dengan jelas kulihat dia tadi makan makanan sisa dari tempat sampah. Beberapa detik aku diam, lalu ku tarik tanganku.

Dengan penasaran kutanya, "Kenapa Ammu (Paman)? Apa kurang banyak?"

"Oh tidak Yabni (Anakku), aku pemulung tapi aku tidak mengemis." Jawabnya sambil menatapku lekat.

Jawaban yang membuatku makin heran. Memori ketika dia makan tadi masih membekas di benakku. "Maaf Ammu, tapi saya kasihan melihat anda makan dari…," tak kulanjutkan kata-kataku, takut menyinggung perasaannya.

"Oh itu, kemarilah! Kita bercakap-cakap sebentar!" panggilnya.

Inilah yang kucari di jalanan Kairo, tanpa pikir panjang aku duduk di sebelahnya.

"Negeri asalmu mana Yabni?" ia memulai.

"Indonesia.", jawabku singkat.

"Bagus, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia itu kan?" ia meyakinkan. Aku mengangguk singkat, rasa bangga menyusup, ternyata negeriku juga dikenal dengan baik oleh rakyat kecil di negeri yang jauh ini.

"Kamu pasti orang yang punya hati yang bagus. Masih punya rasa prihatin dan kasihan melihat orang seperti aku ini. Aku memang tidak pernah sekolah, tidak bisa membaca. Kehidupanku itulah sekolahku sejak kecil. Tapi aku bisa membedakan sikap orang yang acuh dan yang tak acuh dengan orang kecil sepertiku."

Aku hanya mendengarkannya dengan seksama karena ia bicara dengan cepat. Aku harus berkonsentrasi untuk menangkap setiap kata-katanya yang menggunakan bahasa Arab ‘ammiyah.

"Kamu di sini belajar atau apa?" tanyanya lagi.

"Ya, saya kuliah di Al Azhar."

"Kamu pasti orang kaya

kan

? Bisa belajar di luar negeri." Ia menerka.

"Oh tidak ‘Ammu, saya hanya dari keluarga biasa saja," aku menyangkal. "Saya tahu kalau ‘Ammu sejak tadi memperhatikan tiga pemuda

Indonesia

yang masuk restoran itu. Tapi tidak semua orang

Indonesia

seperti itu, banyak juga yang hidupnya bersahaja."

Ia tersenyum, "Rupanya kamu memperhatikanku dari tadi yah?" Aku hanya nyengir kuda.

"Lalu kenapa Anda menolak pemberianku?" tanyaku masih penasaran.

"Seperti sudah aku katakan meskipun aku pemulung aku tidak mengemis. Kedua orang tuaku dulu mengajarkan untuk tidak mengemis walau bagaimanapun keadaannya. Lebih baik jadi pemulung daripada harus mengemis."

"Tapi, maaf  ‘Ammu, saya kasihan melihat Anda tadi makan dari tempat sampah."

"Tidak Yabni, sebenarnya aku punya uang untuk membeli makanan hari ini. Aku masih punya sisa kemarin dari menyetor sampah. Tapi aku hanya tak rela jika makanan masih utuh harus dibuang ke tempat sampah oleh orang-orang kaya itu. Tidak sekali dua kali aku menemukan yang seperti itu. Pernah juga istriku terheran-heran karena aku membawa pulang makanan mahal itu." Jelasnya dengan sabar, tidak tampak tersinggung sama sekali.

Aku terkesiap, tapi kudengarkan saja apa yang dikatakannya. Sementara keledainya terus menunduk seakan ikut mendengarkan. Hatiku bercanda sendiri,"Pendengar yang baik."

"Aku tak pernah mengeluhkan apa yang diberikan Tuhan padaku anakku. Aku masih bersyukur karena Allah masih memberiku kekuatan dan keledai ini untuk memulung sampah. Tapi aku seringkali menyesalkan orang-orang yang diberi kemudahan oleh Tuhan untuk menjadi kaya kemudian menyia-nyiakan hartanya. Contohnya seperti membuang makanan yang masih utuh itu Yabni. Demi Allah Yabni, yang tadi aku makan masih utuh. Jadi mengapa mereka membuang makanan itu ya?"

Aku tetap diam, dalam hati aku malu ketika teringat perasaan iri beberapa saat yang lalu. Mengapa harus iri? Ternyata orang yang hanya bersekolah dari kehidupan seringkali lebih bijaksana daripada orang-orang terpelajar. Para kaum intelektual mungkin hanya pandai tapi belum tentu bijak.

"Baiklah Yabni, aku harus memungut sampah lagi agar anak istriku bisa makan esok hari."

"Baiklah Paman. Assalamualaikum," ujarku singkat

"Alaikum salam," dituntun keledainya ke tempat sampah berikutnya.

Tiba-tiba datang gadis kecil berambut merah kusut dan berpakaian lusuh mendekatiku. "Berilah saya apa saja dari saku Anda, ya ‘Ammu!" pintanya. Kuberikan padanya uang yang dari tadi masih ada di genggamanku.

"Allah yusahhilik," ucapku singkat.

"Terima kasih ‘Ammu, semoga Allah memberkahi Anda," doa yang sering ku dengar dari mulut para pengemis di sini.

Aku lalu bangkit, dari jauh kuperhatikan pantat keledai dan Pak Tua pemiliknya. Pikiranku masih menerawang jauh, tapi yang jelas kesedihanku karena ujian tadi siang sudah lenyap.

Kota

Nasr - Kairo, 25 Juni 2005

Thokmeyya bi beidh     : Sandwich berisi semacam gorengan dari kacang   dicampur dengan telur rebus dan sayuran.

Pound                            : Mata uang Republik Arab Mesir, 1 Pound = 100 Piaster

‘Ammiyah                      : Bahasa Arab sehari-hari yang dipakai masyarakat Mesir

Allah yusahhilik          : Ungkapan do`a yang berarti "semoga Allah memudahkanmu".